Sejarah Sekolah Pertukangan, di Jawa Timur


Di negara jajahan seperti Indonesia tenaga terdidik untuk sekolah kejuruan sangat dibutuhkan sekali. Baik mereka itu berasal dari bangsa Belanda sendiri maupun dari bangsa Indonesia. Kenyataan itu memang benar-benar dirasakan sekali oleh pemerintah jajahan. Kecuali itu dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di Jawa sangat besar kebutuhan tenaga terdidik. De­mikian pula timbulnya pabrik-pabrik seperti pabrik gula dan lain sebagainya kebutuhan tenaga untuk melayani dan menjaga besar sekali. Untuk itulah maka pemerintah akhirnya juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan.

Pada mulanya sekolah kejuruan di Indonesia didirikan oleh fihak swasta, yaitu sekolah pertukangan yang dibuka pada ta­hun 1856 di Batutulis, Betawi. Sekolah tersebut didirikan oleh agama Kristen dan lebih bercorak sekolah dasar dengan ciri-ciri pertukangan. Sedangkan sekolah pertukangan pertama yang didi­rikan oleh fihak pemerintah dibuka pula pada tahun 1860 di kota Surabaya. Pada saat itu sekolah diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, tetapi belum dapat hidup lama. Hal ini agaknya di samping sedikitnya peminat yang datang, orang Belanda sendiri juga belum banyaknya anak-anak Belanda. Sedangkan pada masa itu industri gula belum berkembang luas di Jawa. Namun juga kebutuhan akan tenaga tukang yang terdidik besar dirasakan sewaktu industri gula mulai berkembang dengan pesat di Jawa Timur. Adanya permintaan yang seolah-olah sangat mendesak ini merangsang pemerintah mengadakan pendidikan pertukangan dengan segera. Karena itu pada tahun 1877 dibuka kursus malam yang dikaitkan dengan HBS di Surabaya. Agaknya pembukaan kursus ini untuk segera memenuhi permintaan, dan tidak mungkin untuk mendidik anak-anak dalam jangka waktu yang cukup singkat, sehingga hasilnya dapat segera dimanfaatkan. Lama kursus 2 tahun, dan dalam tahun 1885 diperpanjang menjadi tiga tahun. Tidak lama kemudian kursus pertukangan ini melepaskan diri dari HBS, sehingga menjadi sekolah yang berdiri sendiri. Setelah mengalamai pembenahan organisasi dalam tahun 1894, maka lama belajar diubah menjadi empat tahun. Mengingat lamanya belajar, maka bersama itu pula diadakan spesialisasi, sehingga me- mudahkan masing-masing pelajar menekuni apa yang menjadi bidangnya atau keahliannya. Deferensiasi sekolah pertukangan ini ialah jurusan pengairan, pekeijaan umum, kadaster (pengukuran tanah), dan mesin. Adanya deferensiasi itu sebenarnya untuk diarahkan pada ujian akhir, agar nantinya anak-anak yang telah selesai itu benar-benar mempunyai bidang keahlian khusus.

Sekolah pertukangan ini pada mulanya untuk anak-anak orang Eropa. Tetapi kemudian anak-anak bumiputera juga diperbolehkan masuk. Hal ini mengingat semakin meluasnya perkebunan di Jawa Timur sebagai akibat Politik Pintu Terbuka dari Pemerintah Hindia Belanda. Karena itu bukan hanya industri gula tetapi juga perkebunan lain seperti perkebunan temba- kau, kopi, teh, karet, dan lain-lainnya memerlukan tenaganya.

Selain itu kemajuan di bidang kerajinan rakyat pun menuntut perhatian. Sehingga pada tahun 1904 mulai ada percobaan untuk membuka Sekolah Kerajinan Rumah, yang memberikan pelajaran mengukir dan menganyam. Sekolah itu berada di bawah pimpinan RMT. Oetoyo, Bupati Ngawi. Ketika itu sudah ada beberapa sekolah pertukangan yang didirikan oleh Zending (yang pertama didirikan oleh Zending ialah di Mojowarno pada tahun 1893).

Didesak oleh makin majunya perindustrian bangsa Eropah, yang banyak membutuhkan tukang-tukang berpendidikan, maka pada tahun 1909 pemerintah membuka 3 sekolah pertukangan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pengajaran pertukangan terse­but mempunyai dua macam tujuan yaitu membentuk tukang-tukang yang biasa, dan membentuk tukang-tukang yang dapat mengisi jabatan-jabatan rendah seperti: masinis, montir, dan sebagainya.

Untuk golongan ke-1 diadakan pendidikan selama dua tahun. Yang diterima sebagai murid ialah mereka yang telah tamat dari Sekolah Kelas II. Pada sekolah itu ada dua bagian yaitu bagian kayu dan besi. Pendidikan selama 2 tahun itu diikuti oleh kursus sambungan selama setahun untuk vak-vak khusus, seperti montir mobil, tukang listrik, tukang kayu, dan tukang batu. Untuk go­longan ke-2 diadakan sekolah-sekolah pertukangan yang pendidikannya 3 tahun. Sekolah ini diperuntukkan bagi mereka yang telah mengikuti pelajaran rendah barat (Belanda) sampai ta­mat.

Karena semua murid tidak mendapat pendidikan untuk berdiri sendiri, maka tamatan sekolah itu tidak ada yang sanggup untuk mendirikan perusahaan sendiri atau memperbaiki keadaan pertukangan di desa-desa, melainkan mencari pekeijaan pada perusahaan-perusahaan orang Eropa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Th. 1986 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Sejarah Sekolah Pertukangan, di Jawa Timur

  1. ari berkata:

    saya sangat tertarik tentang sekolah pertukangan d surabaya, kalau boleh tahu letak sekolah ini di surabaya mana ya??

  2. sugiharto sn berkata:

    dimana alamat sekolah pertukangan perak saya kepingin belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s