Tradisi Maulid Hijau dan Larung, Kabupaten Lumajang


Lumajang0001Tradisi Maulid Hijau dan Larung, selain menghijaukan hutan di sekitar lereng Gunung Lemongan, dalam acara yang digelar setiap tahun itu. Warga setempat juga berharap, agar sanak keluarganya yang merantau ke luar negeri dijauhkan dari balak dan diberi kesela­matan serta kesehatan.

Pagi itu, mendung yang terlihat memayung di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, seakan mendukung sekerumunan lelaki desa memapah serta menarik seikat bambu keluar dari gerobak kayu.

Seorang lelaki lanjut usia juga tampak sibuk dengan beberapa helai daun kelapa. Wajahnya yang keriput tampak serius seiring dahinya berkenyit memasukan satu persatu daun kelapa itu ke dalam sela-sela jarinya.

Lelaki itu tengah membuat anyaman mirip gedhek. Anyaman itu sendiri akan digunakan sebagai dinding penutup sesaji. Seperti yang diucapkan Mantruki (80), selaku tetua Desa Tegalrandu kepada LIBERTY.

Lumajang0002Selain itu, sebagian warga desa ada yang menyiapkan bahan makanan untuk sesaji, tumpeng maupun rakit untuk melarung ke Ranu Klakah. Ternyata kesibukan warga Tegalrandu pada saat itu merupakan rangkaian dari tradisi Maulid Hijau yang meru­pakan singkatan dari kata Maulid Nabi dan Penghijauan yang selalu diadakan bersamaan atau setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

Larung sesaji

Kata Matruki, format kegiatan dalam tradisi itu adalah penggabungan antara kegiatan pelestarian lingkungan dan seni budaya yang sebenarnya selama ini telah ada dan eksis secara turun temurun di masyarakat Tegalrandu. “Seperti halnya penghi­jauan di sekitar Ranu Klakah, pagelaran kesenian tradisional, kompetisi perlombaan tradi­sional serta upacara selamatan desa,” katanya kepada LIBERTY.

Sebab, masih kata Matruki, kegiatan sela­matan adat Ranu Klakah ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah berlangsung secara turun temurun di desanya. Ke­giatan ini biasanya dilakukan dalam bentuk se­lamatan dan do’a bersama dengan para sesepuh desa sesuai den­gan tradisi agama Islam. Kemudian, dilanjutkan dengan melarungkan se­saji ke tengah Ranu Klakah.

Adapun sesaji yang dilarungkan di Ranu Klakah tersebut berbentuk boneka kecil yang terbuat dari tepung terigu. Kata Matruki, ketika disinggung mengenai bentuk boneta sebagai pelengkap larungan

Konon menurut ceritanya, dulu di dalam Ranu Klakah terdapat seekor ular besar piaraan Dewi Rengganis yang oleh masyarakat sekitar dinamai Ular Selanceng. “Ular ini berbahaya dan kerap mencelakai penduduk setempat,” kata Matruki.

lumajang 3Hingga suatu ketika datanglah Syeikh Maulana Ishak bersama teman karibnya Kyai Atmari dari Prajekan, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. “Dalam perjalanan terse­but, kedua ulama tersebut singgah di Ranu Klakah dan mengetahui perihal Ular Selanceng. Melihat berbahayanya ular tersebut, Syeikh Maulana Ishak mencoba menanam pohon bunga  Ashoka di pinggir Ranu Klakah dan memberi makan ular tersebut dengan kue yang terbuat dari tepung yang dibentuk menyerupai boneka.

Dan sejak saat itu, ular tersebut tidak pernah lagi mencelakai penduduk di sekitar Ranu Klakah,” terang Matruki. Tradisi inilah yang oleh masyarakat di Ranu Klakah terus dilestarikan dan masih dipercaya oleh masyarakat, jika ular tersebut kerap menampakan diri. Karena itulah dalam sajen yang dilarung ke ranu itu, selain berupa boneka yang menyerupai bayi (ditubuh boneka tersebut juga diolesi darah ayam), juga diisi oleh aneka makanan lain. Seperti tumpeng, bunga setaman, jajanan, telor, rokok kretek dan dua daun sirih yang dibentuk mengerucut. Semua ditaruh dalam rakit buatan berukuran 2×3 meter yang telah dihias dengan kertas samak dan aneka daun-daunan. Matruki juga menjelaskan, garis besar dari upacara itu untuk menolak bala akan terjadinya bencana. Sembari berbicara ringan menjelaskan rincian acara itu, seiring kaki kami melangkah lebih dalam masuk ke mulut desa, ibu- ibu serta remaja putri juga tidak kalah sibuknya dengan kaum pria.

Mereka tengah berbenah mengumpulkan ‘salaran atau jimpitan’ berupa beras, telor dan uang, yang secara sukarela dikumpulkan seluruh warga desa. Hasil ‘jimpitan’ itu sendiri nantinya digunakan untuk kegiatan upacara adat, baik untuk perlengkapan tarian ataupun untuk pembelian benih ikan yang akan dilepaskan di Ranu Klakah.

Menurut A’ak Abdulah Al Kudus (35), tckoh pemuda, selamatan desa yang diadakan kali ini jauh lebih meriah ketimbang tahun sebelumnya. Pria yang aktif di dunia buruh migran dan juga ketua Laskar Hijau ini menambahkan, selain meminta tolak bala kepada Tuhan agar dihindarkan dari tragedi balak, upacara itu juga disembahkan untuk meminta doa kesela- matan bagi para buruh migran yang tengah merantau di luar negeri. Sebab, di sekitar Ranu Klakah ini bermukim kurang lebih 4.564 jiwa atau 1.171 kepala keluarga yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian petani dan buruh migran.

Jadi tidak mengherankan jika sebagian masyarakat yang ikut dalam acara tersebut keluarga ataupun mantan buruh migran. Selain itu, jika upacara wajib itu luput diadakan, kekhawatiran akan dua peristiwa itu bakal terjadi. Jadi tidak mengherankan jika persiapan acara itu dilakukan penuh seksama serta ketelitian.

 

KESURUPAN

Sejurus kemudian, masih diselimuti cuaca mendung, sesajen yang sejak pagi tadi dibuat, nyatanya sore itu sudah dipikul empat pemuda den­gan mengenakan baju adat desa dan siap untuk diberi doa-doa oleh ulama setempat.

Langkah Matruki dan A’ak yang semenjak tadi menemani LIBERTY itu pun mulai menjauh dari jalan desa dan mendekati panggung sambil meli- hat sesajen yang sudah dipikul empat pemuda itu. Selanjutnya, sesajen yang sudah disusun sesuai urutan pengiring siap untuk dikirab keliling desa. “Urutan tersebut sesuai. Dari depan para pemuda yang memer- ankan teaterikal 1hancurnya alamku karena pembalakan liar’, dan dibelakangnya para gadis desa yang siap menarikan tarian Glipang dan yang terakhir adalah sesajen itu sendiri,” ucapnya Matruki.

Setelah doa dan dzikir dipanjatkan, tanpa dikomando, sebagian warga desa yang berkerumun disekitar sesajen langsung menjauh ketika tarian Glipang mulai ditarikan. Sebab ada keper- cayaan, jika tarian Glipang ini sudah ditarikan, maka para penari tersebut bakal kesurupan. Praktis warga enggan untuk mendekati mereka.

Kemudian, setelah tarian tersebut usai dilakukan, secara perlahan-lahan iring-iringan sesajen mulai dikirap ke­liling desa. Menariknya, sesosok pria tanpa baju dengan rambut panjang memegang toples berisi benih ikan, berjalan paling depan. Kata Matruki, sosok pria tersebut berfungsi sebagai pemangku spiritual kirab. Pemangku juga diwajibkan mengenakan jala ikan dengan cara dililitkan di tubuhnya yang fungsinya sebagai penyeimbangan larung sesaji. “Selain penyeimbang, agar pemangku kirab tersebut tidak kesurupan,” lanjut Matruki.

Kemudian, kurang lebih 500 meter berjalan, kirab itu pun akhirnya tiba di pintu masuk Ranu Klakah. Selanjut­nya, pemangku kirab berjalan perla­han-lahan menuruni anak tangga dan baru berhenti ketika sudah tiba di bibir ranu.

Lantas, benih ikan itupun dituangkan di atas ranu dengan disusul peletakan sesajen diatas rakit. Bersamaan dengan itu, entah faktor kebetulan atau tidak, hujan yang tadinya sempat turun tiba-tiba berhenti.

Kemudian, Matruki mengambil alih peletakan sesajen dengan menaiki rakit untuk dilabuhkan di tengah ranu. Sepeningal Matruki melabuhkan sesaji ke tengah ranu, tarian Glipang kembali ditarikan disekitar bibir ranu.

Benar dugaan, kurang dari 10 menit tarian itu dijalankan, dua dari penari tersebut kesurupan. Bahkan dua pemuda yang memerankan teaterikal kondisinya tak jauh beda dengan para penari. Dan aksi kesuru­pan itu baru berhenti ketika Matruki dan ulama setempat memberikan doa-doa kepada mereka.

Namun terlepas dari itu semua, warga berharap, hasil tangkapan ikan di sekitar ranu berlimpah dan para keluarganya yang merantau di luar negeri diberi kesehatan serta kesela- matan. « D2ng

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY,
1-10 Juni 2009

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lumajang, Seni Budaya, Th. 2009 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s