Airlangga Menjadi Raja


AIRLANGGAAirlangga tidak segera menerima tawaran para pengikutnya untuk naik takhta, ia masih menunggu saat-saat yang baik. Airlangga memperhatikan perkembangan kekuatan musuh- musuhnya. Sriwijayalah yang dianggapnya sebagai lawan yang paling utama dan berbahaya.

Namun akhirnya pada tahun 1019 Airlangga memenuhi permintaan para pengikutnya untuk dinobatkan menjadi raja. Upacara diselenggarakan dan diresmikan oleh kaum agama dari aliran-aliran Budha dan Siwa bersama-sama dengan para Brahmana. Mereka memberikan jaminan pada dewa-dewa terhadap upacara ter­sebut. Pada kesempatan itu pula Narottama diresmikan sebagai patihnya dengan gelar Rakryan Kanuruhan.

Tidak lama setelah upacara penobatan selesai. Airlangga berziarah ke Candi Isanabajra. Candi itu adalah tempat penyimpanan abu jenazah Empu Sindok yang letaknya tidak jauh di sebelah selatan Pasuruan. Maksud dari pada kunjungan itu tiada lain adalah untuk memberikan hormat kepada Sindok. Di samping itu ia menunjukkan kepada umum bahwa ialah sebenarnya keturunan Sindok yang sah.

Tampaklah kini bahwa kerajaan sudah mulai menemukan bentuk dan coraknya kembali. Wilayah kekuasaannya baru meliputi daerah yang terbatas sekali. Ketika Airlangga kembali pada tahun 1019, bekas kerajaan Dharmawangsa masih terpecah menjadi beberapa kera­jaan kecil. Salah satu di antaranya ialah dari golongan yang masih tetap setia kepada Airlangga. Mereka inilah yang telah mendesak kepadanya untuk kembali sebagai raja. Maka di daerah itu pulalah didirikan sebuah istana dengan rajanya yang baru yaitu Airlangga. Dengan daerah itu sebagai pusat, ia pada tahun-tahun berikutnya akan berusaha untuk mempersatukan kembali bekas kerajaan Dhar­mawangsa dahulu.

Tentang letak daripada kerajaan Airlangga semula yaitu yang meliputi daerah pantai antara Surabaya – Porong dan Pasuruan. Daerahnya tak begitu luas, akan tetapi mempunyai arti yang sangat penting, karena letaknya bagus sekali di tepi laut. Bukan saja untuk kepentingan hidup, akan tetapi juga dimaksudkan untuk kepentingan pertahanan. Dengan demikian kemungkinan para pemberontak dapat di dicegah. 

Airlangga mengadakan hubungan dengan negara di luar Jawa

Keraton Airlangga yang pertama terletak di Wotan Mas, kira- kira dekat Surabaya sekarang. Sementara itu Airlangga menantikan saat yang baik untuk memulai menjalankan rangkaian peperangan. ia bercita-cita hendak mempersatukan kembali seluruh kerajaannya yang telah menjadi kerajaan- kerajaan kecil.

Pada permulaan masa pemerintahannya belumlah tampak kegiatan-kegiatan dalam rencananya itu. Ia hanya berusaha untuk mempertahankan diri, karena ia menganggap bahwa musuhnya masih terlalu kuat. Barulah setelah tahun 1024 terjadi suatu perubahan besar.

Setelah terjadi malapetaka pada tahun 1025,  Pada tahun itu Sriwijaya mendapat serbuan ten­tara Cola yang kedua dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga  kekuasaan Sriwijaya sejak itu tampak mundur. Penaklukkan itu bertujuan untuk melemahkan kekuasaan Sriwijaya. Sejak saat itu pula Sriwijaya mengubah pendiriannya terhadap Jawa Timur dan memutuskan untuk tidak lagi bercampur tangan dengan keadaan-keadaan di Jawa Timur.

Sudah tentu sikap semacam itu adalah suatu hal yang menguntungkan Airlangga. Perjuangan mempersatukan kerajaan sulit dimulai, selama masih adanya kemungkinan datang serangan dari luar. Dan kini bahaya dari luar itu sudah lenyap, sehingga keadaan berubahlah seluruhnya. Sejak tahun 1025, Airlangga dapat memusatkan perha- tiannya dengan bebas pada usaha penaklukkan para musuhnya.

Untuk mempererat hubungan, raja Airlangga menikah dengan salah seorang puteri raja Sriwijaya yang bernama Sanggramawijaya. Pernikahan itu sudah tentu dirayakan dengan sangat meriah dan penuh kebesaran. Karena hal tersebut selain menyangkut soal kenegaraan juga sebagai layaknya pernikahan seorang raja dengan puteri dari suatu kerajaan besar.

Sanggramawijaya dikenal sebagai seorang puteri yang arif bijaksana. Selain itu ia terkenal pula karena kecakapannya untuk mengolah pemerintahan membantu suaminya.

Kebijaksanaan Sanggramawijaya sebagai prameswari Raja Air­langga ternyata besar pula artinya bagi pelaksanaan cita-cita suami­nya. Ia senantiasa siap untuk mendampingi suaminya dalam melaksanakan cita-cita demi kemakmuran, perdamaian dan persatuan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Penerbit Pt. Sanggabuwana Bandung, 1976, hlm. 12 – 16

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Sejarah, Surabaya, Th. 1976 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s