Masjid Agung Baitus Salam, Kabupaten Nganjuk


Masjid Agung Baitus SalamMasjid Agung Baitus Salam terletak disebelah barat Alon- alon Nganjuk. Melihat letak dan posisinya ada kemungkinan bangunan Masjid ini dibangun berdasarkan konsep kosmologi dan magis religius. Berdasarkan konsep tersebut, bangunan masjid memang selalu melengkapi bangunan kraton, terletak di dekat Alon-alon, yang pada hakekatnya adalah sesuai dengan azas “Mocopat” dari jaman prasejarah. Berdasarkan azas tersebut disekeliling alun-alun biasanya terdapat bangunan Istana, masjid, pasar dan rumah penjara. Kota Nganjuk jika dikaitkan dengan konsep tersebut justru lebih lengkap :

  • Sebelah timur Alun-alun terdapat Pendopo Kabupaten
  • Sebelah Selatan terdapat pusat pertokoan (pasar)
  • Sebelah barat terdapat masjid dan rumah penjara
  • Sebelah utara terdapat Kantor Polisi (keamanan) dan sekolahan (pusat Pendidikan)

Sesuai dengan fungsinya, masjid yang berada di pusat kota akan digunakan untuk sembahyang warga kota secara berjamaah, apakah itu sembahyang Jum’at, sembahyang lima waktu maupun sembahyang hari raya Islam lainnya. Masjid yang berfungsi demikian lazim diberi nama Masjid Agung atau Masjid Raya. Dan untuk memudahkan klasifikasi masjid di Nganjuk telah ditetapkan sebagai berikut :

  • Masjid Agung untuk masjid yang berada dikota Kabupaten.
  • Masjid Besar untuk masjid yang berada dikota Kecamatan.
  • Masjid Jammi untuk masjid yang berada ditingkat desa.

sejarah Berdirinya Masjid

Tahun 1884, berdasarkan angka tahun yang terdapat di Mimbar masjid, dapat dikatakan bahwa Masjid Agung Baitus Salam ini dibangun, dimasa pemerintahan Bupati Nganjuk I (RT. Sosrokoesoemo III), sedangkan yang menjabat  Penghulu Landrad Kabupaten Nganjuk. yaitu Raden Haji Moh. Yakub.

Data Fisik Bangunan Masjid.

Bangunan Masjid Agung yang megah ini berdiri diatas tanah seluas : 2.424 M: dan luas bangunannya : 1.124 M-

Disebelah timur bangunan terdapat 3 pintu masuk, pintu utama (paling lebar) terdapat ditengah, sedangkan disebelah kanan (selatan) dan kiri (utara) pintunya lebih kecil. Memasuki halaman depan kita segera memasuki serambi masjid yang disangga oleh tiang beton yang kokoh berjumlah 6 buah. Dibagian selatan serambi terdapat bedug besar.

Dari serambi memasuki ruang utama terdapat 5 pintu dengan motif relung yang berukuran sama. Masjid Agung ini disangga oleh 8 tiang utama. 4 tiang berbentuk persegi panjang terbuat dari beton dan 4 tiang lagi berbentuk bulat panjang yang berukuran lebih tinggi dari 4 tiang lain, karena tiang tersebut langsung menyangga atap utama yang tertinggi. Pada dinding kanan dan kiri terdapat 2 pintu dan 6 Cendela yang semuanya dengan motif relung.

Disebelah barat ruang utama terdapat Mihrab yang relatif luas, yang dikanan kirinya terdapat kamar yang dipergunakan sebagai tempat menyimpan benda/barang. yang ada kaitannya dengan kegiatan Masjid. Selain itu kamar tersebut juga digunakan untuk tempat penjaga dan petugas kebersihan masjid. Di mihrab ini terdapat sebuah mimbar yang berukir indah dengan motif daun. Mimbar yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran Jepara ini terdapat tulisan Arab pegon (candra sengkal) yang berbunyi :

1. a.Sebelah Utara (luar) : Hingkang yasa mimbar punikoKyai Haji Penghulu bagus Alhaji Mohamad Yacub. Dados Penghulu wonten ing Negara Berbek Walandi 1863.

b.Dibagian dalam : Adegipun Masjid kita Nganjuk tahun Jawi 1814, tahun Walandi 1884.

  1. a. Sebelah Timur (luas) : Tahun Jawi 1813 Dal Hijrotun Nabiyl dadosipun mimbar.

b. Dibagian dalam : Hijrotun Ghoziyatun.

  1. a. Sebelah selatan (luar) : Ngalihipun negari saking Berbek, Bupati Kanjeng Adipati Sosrokoesoemo tahun walandi 1880, tahun 28 – 3 1901 lajeng gentos putro Kanjeng Raden Mas Sosrohadi Kusumo.

b. Dibagian dalam : Ngalihipun negara Sanata Hijroti 1296 (Arab)Jawi 1888.

  1. a. Disebelah Barat (luar) : Tukang anami Mohamad Sholeh blakang Gunung Jepara.

b. Dalam : Nopember ing kuto lami Berbek.

Melalui tangga yang terdapat dipojok depan selatan kita dapat naik ke lantai dua. Lantai dua bangunan ini berbentuk “U”. disebelah timur terdapat lantai yang luas dengan dihiasi 6 cendela. Disebelah utara dan selatan masing-masing dihiasi 12 cendela.

Disebelah selatan bangunan masjid terdapat bangunan tempat wudhu, kamar mandi serta menara masjid yang cukup besar tinggi dan kokoh. Disebelah utara bangunan masjid terdapat bangunan yang dipergunakan untuk tempat Perpustakaan Islam, TPA dan Jam Iyatul Qurro serta Kantor Majelis Takmir. Masjid Baitus Salam, Disebelah baratnya terdapat tempat wudhu.

Bangunan Masjid yang cukup luas dengan bentuk atap tumpang ini tiap hari Raya Islam dan Hari Jum’at pasti dipenuhi oleh Jamaah. Begitu banyaknya jamaah, maka tiap hari Jum’at bisa terkumpul sumbangan lewat kotak amal antara Rp. 160.000.00 – Rp.200.000.00.

Sejak didirikan pada tahun 1884 mesjid ini telah mengalami beberapa kali penambahan bangunan dan pemugaran. Mula-mula yang dibangun adalah bangunan induknya (ruang utama), kamar mandi dan tempat wudhu yang terletak di kanan dan kiri bangunan utama.

Tahun 1886, dibangun serambi depan yang cukup luas dengan tiang yang kokoh serta pintu- pintu dengan motif relung.  Sejak didirikan, model atap mengingatkan kita pada bangunan punden berundak pada jaman pra sejarah dan jaman Hindu, yaitu model atas tumpeng (cucu R. Haji Moh Yacub) yang saat ini (1993) berusia 105 tahun. Ketika masjid tersebut dibangun oleh kakeknya sudah beratapkan seng dan berlantai marmer. Kesaksian ini dibenarkan oleh H. Soehoed (95 Thn) yang pada masa mudanya bertugas sebagai merbot masjid (petugas pejaga & membersikan masjid). Masjid kemudian dilengkapi dengan menara yang dibangun disebelah kanannya. Kapan mulai dibangun menara ini tidak dapat ditentukan dengan pasti, namun yang jelas pembangunannya diselesaikan oleh R. Haji Imam Syafi’i (ayah R. Ayu Imam Zamachsarie) pada tahun 1914. Secara kronologis memang sulit diungkapkan mengenai perkembangan masjid ini, karena tidak adanya sumber tertulis yang ada„ Namun berdasarkan informasi, masjid ini mula-mula beratapkan seng, kemudian diganti genting. Demikian juga saat diadakan pemugaran pada tahun 1987, terlihat oleh para pekerja bahwa ketika diadakan penggalian fondasi baru, sudah terdapat 2 fondasi lama yang berukuran lebih kecil. Ini berarti bahwa masjid ini sudah beberapa kali mengalami perubahan dan perluasan bangunan. Perluasan terakhir pembangunannya dimulai pada tanggal 7 Januari 1987, dan selesai 20 Pebruari 1993 dengan hasil & wujud seperti yang kita lihat sekarang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nganjuk dan Sejarahnya
, (Th. 1994).  hlm. 150-154

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Th. 1994 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s