Upacara sebelum mendirikan rumah, Kabupaten Blitar


Menggali/mencari sisa-sisa tradisi yang sedang dalam proses “ditinggalkan” (proses menyusut), namun belum punah. Sengaja PUSAKA JAWATIMURAN sajikan untuk melestarikan serta mengingatkan kepada generasi berikut bahwa sejarah budaya kita sangat beragam.

Upacara semacam ini sekarang sudah jarang dilakukan, namun de­mikian masyarakat desa Plasarejo : di Kabupaten Blitar, masih menjalankannya upacara ini.

Nama Upacara : Untuk daerah kultur suku Jawa di Jawa Timur Upacara mendirikan bangunan rumah disebut, slametan; wilujengan, kenduren ataupun bancak’an. Pada tahap ini, pada lokasi-lokasi yang tersedia pohon jati maka dimulailah proses pemilikan kayu untuk balian bangunan. Proses ini disertai dengan upacara kecil (bhs. Jawa : “Sarengat”) yaitu “Selamatan “Jenang Sengkala”, teruntuk beberapa orang kerabat saja. Tahap ini diikuti nantinya dengan proses penebangan pohon (bhs. Jawa : “ngetok kayu”) yang juga disertai selamatan kecil untuk beberapa orang kerabat dan tukang tebang.

Tujuan Upacara

Tujuan dari kedua upacara kecil tersebut diatas adalah untuk menghindarkan mala petaka, baik pada saat-saat penebangan maupun dalam hal pemakaian kayu ter­sebut sebagai bah an bangunan rum ah, nantinya. Nama Upacara “Sengkolan” berasal dari nama hidangan utama upacara tersebut yaitu Jenang Sengkala. Kata Sengkala, secara keratabasa dapat diuraikan sebagai berikut :

Sengkala — sangkala = Sang Kala = Batara Kala : nama dewa Penguasa Bahaya : Batara Kala dipercayai dapat mendatangkan saat-saat sial (celaka); saat-saat jahat yang penuh balak (sial; celaka).

Itulah sebabnya ada sepotong doa/mantera dalam bahasa Jawa :

“Mugiya kalis Iir sambe kala”

yang sinonim dengan kalimat bahasa Indonesia :

“Mudah-mudahan terhindar dari segala mar a bahaya”

Tempat dan waktu

Semua upacara pada tahap “sebelum mendirikan rum ah’ diselenggarakan di rumah sipemilik hajat (pemilik ba- ngunan rum ah yang akan dibangun atau rum ah keluarga- nya). Upacara-upacara kecil tersebut diatas, biasanya diadakan pada waktu sore atau malam hari. Kiranya tradisi demikian timbul dari pertimbangan praktis, bah- wa penduduk masyarakat perdesaan pada pagi dan siang hari, dalam keadaan sibuk bekerja di saw ah; di ladang, di pasar, dsb.

Penyelenggara Upacara.

Oleh karena pendirian sebuah bangunan rumah merupakan kepentingan individual (familial) maka penyelengga­ra upacara-upacaranyapun menjadi tanggung jawab individu (famili) yang berkepentingan. Walaupun demikian halnya janganlah kita lupakan bahwa yang kita bicara- kan ini adalah masyarakat Paguyuban (gemeinschaaft), yaitu masyarakat yang lebih bersifat gotong royong dalam kehidupan praktisnya.

Peserta Upacara

Sesuai dengan keadaan sosiologi penduduk setempat, maka peserta upacara-upacara pada tahap “sebelum mendirikan rumah” adalah para tetangga dekat sipemilik hajat dan para tetangga dekat di sekitar lokasi bangunan rumah. Upacara-upacara ini, secara moral merupakan keharusan. Bersama dengan upacara tersebut secara moralpun para peserta merasa bahwa dirinya diharapkan ber- parsitipasi dalam kegiatan berikutnya. Setidak-tidaknya beberapa orang peserta diharapkan secara sukarela menyumbangkan tenaga sukarelanya dalam kegiatan mendirikan bangunan rumah tersebut. Tradisi kegotong royongan demikian disebut sebagai “Sambatan atau sambat-sinambatan” dikalangan masyarakat perdesaan kita.

Pimpinan Upacara

Pada masyarakat perdesaan kedudukan sosial para pini- sepuh desa, sangatlah kuat dan menonjol. Para pinisepuh pimpinan desa dapat terdiri dari pemimpin formal dan non formal. Pimpinan desa yang bersifat formal ialah orang yang dianggap oleh masyarakat di sekitarnya se­bagai “pemimpin” karena memiliki suatu “kelebihan atau keahlian” tertentu.

Mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang yang sudah lanjut usia, baik sebagai seorang pejabat pimpinan desa atau sebagai seorang tokoh agama (kyai), ya bah- kan dapat berupa seorang dukun. Dukun ialah se- seorang yang dianggap oleh masyarakatnya sebagai se­orang yang ahli tentang ilmu gaib, yang dalam istilah ilmu antropologi disebut “pawang”; karena menguasai berbagai mantera-magis untuk menolak bahaya (2 : 141) Dengan demikian maka segala upacara yang diadakan, pada seluruh tahapan dalam mendirikan bangunan rumah baru, pastil ah dipimpin oleh salah seorang dari ketiga jenis tokoh pimpinan desa tersebut.

Alat – Alat Upacara

Termasuk kedalam kategori “alat-alat Upacara” ini, ada- lah bahan-bahan hidangan dalam suatu Upacara. Pada masyarakat peidesaan alat rumah tangga tradisio- nal yang terbuat dari anyam-anyaman bambu; daun ke- lapa (bhs. Jawa : blarak), dan any am an dari lidi (tangkai daim kelapa : bhs. Jawa : Sada) masih dapat & sering masih digunakan dalam berbagai upacara.

Alat-alat tersebut antara lain :

  1. Kranji –  anjaman dari bambu
  2. Tampah – anjaman dari bambu
  3. Kalo – anjaman dari bambu
  4. Kemarang – tembikar, terbuat dari tanah liat yang dibakar.
  5. Gendok –  tembikar, terbuat dari tanah liat yang dibakar.
  6. Takir – sebuah wad ah terbuat dari /aun pisang, dsb. 

Bahan makanan utama dalam upacara Slametan Jenang Sengkala, terdiri dari bubur nasi putih, diwadahi takir (atau piring). Ditengah bubur putih tersebut ditaruhkan pula bubur nasi manis; yaitu bubur nasi putih yang diolah dengan air gula-merah, sehingga agak merak keco- klatan warnanya. Itulah sebabnya dalam masyarakat kultur Jawa, upacara Slametan Jenang Sengkala sering diucapkan pula sebagai “Slametan Jenang Abang”. Perlu diutarakan disini bahwa pada umumnya alat peralatan tradisional mulai terdesak oleh alat-alat dari ba- han plastik, produk pabrik-pabrik plastik dikota-kota besar.

Tata Pelaksanaan Upacara

Setelah semua keperluan upacara dipersiapkan di ruang tengah atau ruang muka, maka diundanglah beberapa orang tetangga dekat untuk datang menghadiri upacara Slametan Jenang Sengkala tersebut. Para peserta duduk bersama, dalam posisi “lingkaran” mengelilingi alat- peralatan upacara. Setelah semua peserta hadir maka pemimpin upacara mengucapkan doa/mantera (bhs. Jawa : ngujubake).

Pada umumnya pemimpin upacara terdiri dari seorang dukun atau seorang kyai (utama). Sebelum mengucap­kan doa/mantera, pemimpin upacara mengumumkan/ memberitahukan kepada para peserta upacara, maksud si empunya hajat yaitu akan mendirikan bangunan rumah baru.

Jalannya Upacara

Upacara kecil Slametan Jenang Sengkala ini diselenggarakan secara sederhana dan “cepat” sekali, seolah-olah sekedar memberitahukan maksud si empunya hajat, kepada para tetangga bahwa ia bermaksud mendirikan rumah.

Bila hal tersebut ditinjau dari ilmu antropologi tradisi demikian muncul dari maksud maksud dan perbuatan magis. Hal tersebut jelas dari nama upacaranya yang mengandung kata “Sang Kala”. Isi doa (mantera) serta ucapan sang dukun -pemimpin upacara, masih menunjukkan sifat-sifat magis (gaib) yang sedemikian itu. Selesai dukun mengucapkan doa (mantera) nya, maka segera hidangan Jenang Sengkala tersebut dibagi untuk dimakan berbarengan dan sisanya boleh dibawa pulang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Timur,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm 168-171

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s