Dewi Kilisuci Dan Kesunyian Selomangleng


Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana, maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan menjadi dua.Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan.

Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. Sedangkan Dhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.

Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya juga  menyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. Dimana disalah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yang tinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangat minus.

Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh-lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi. Dan kerajaan itu adalah Jenggala.

 “Dari Bali ke Kahuripan”
Bicara tentang sejarah jawa feodal, kita tidak bisa meninggalkan Airlangga. Walaupun ia tidak berasal dari Jawa, Airlangga mempunyai peran besar dalam menentukan arah kisaran sejarah Jawa Timur paska kerajaan Kahuripan.

Airlangga adalah putra Raja Bali, Udayana dari pemaisuri Mahendratta. Ibu Airlangga ini masih adik kandung dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, Raja Medang Kamulan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang berjalur keturunan Dinasti Isyana dari jaman Mataram Hindu (silsilah terlampir). Pada umur 17 tahun, Airlangga datang ke Mendang Kamulan untuk menikahi kedua putri Sri Darmawangsa Teguh yang bernama Sri dan Laksmi.

Pada waktu pesta penikahan ketiga anak raja ini terjadi sebuah peristiwa yang membuat Airlangga muda merubah jalan hidupnya. Barangkali hanya Sri Dharmawangsa Teguh, raja Jawa yang berani menyerang Sriwijaya. Padahal, Sriwijaya yang bercorak Budha itu sedang mengalami jaman keemasannya oleh bandar dagang dan ketinggian filsafatnya. Bisa ditebak jika serangan dari Jawa itu kemudian mengalami kegagalan.

Namun itu tidak mengurungkan Sriwijaya untuk menghukum Medang Kamulan dengan menggunakan kerajaan Wura-wuri (Ponorogo) sekutunya di Jawa. Serbuan dari kerajaan Wura-wuri itu terjadi tepat di malam pesta pernikahan Airlangga dengan kedua Putri Dharmawangsa.

Peristiwa tragis yang kemudian disebut Pralaya (Malapetaka) di Kraton Medang itu menewaskan Sri Dharmawangsa Teguh berikut pemaisuri, patih dan menterimenterinya. Menurut batu Calcutta, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh raja Wura-wuri.

Tapi ada yang lolos dari kehancuran, yaitu Airlangga beserta kedua istri dan sedikit pengawalnya yang melarikan diri ke Gunung Prawito (Penanggungan). Di sana, Airlangga bersembunyi dan mengatur kekuatan untuk merebut kembali kerajaan mertuanya.

Pada tahun 1019, Airlangga yang dinobatkan oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Ia memerintah dengan daerah hanya kecil saja karena kerajaan Dharmawangsa sudah hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerahdaerah saat pemerintahan Dharmawangsa, yang bisa jadi juga ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja diserang dari Colamandala (1023 dan 1030). Raja-raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa (1028-1029), Wijaya dari Wengker (1030), Adhamapanuda (1031), raja Wengker (1035), Wurawari (1032) dan seorang seperti raksasa raja perempuan (1032). Peperangan Airlangga melawan Sang Ratu ini melahirkan legenda Calon Arang di Bali.

Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga (ia dibantu oleh Narottama/rakryan Kanuruhan dan Niti/rakryan Kuningan) yang ibukotanya pada tahun 1031 di Wotan Mas dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, kraton dari kerajaan ini diperkirakan berada di desa Wotan Mas, wilayah Ngoro kabupaten Pasuruan, atau sekarang lebih dikenal dengan nama situs Kuto Girang.

Pemerintahan Airlangga diikuti dengan suburnya seni sastra, yang antara lain: kitab Arjuna Wiwaha karangan mpu Kanwa tahun 1030 M yang berisi cerita perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang kayangan (kiasan asil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada raja). Ini juga pertama kali keterangan wayang dijumpai, walau sebetulnya sudah ada sebelum Airlangga.

 “Kahuripan Terbelah”
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. Keduanya adalah putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamg ditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa.

Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana. Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan untuk dipimpin kedua putranya. Sebelum Keputusan ini di ambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.

Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putraAirlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). Saran Mpu Bharada di terima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. Merasa menemukan jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.

Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. Di Kahuripan bagian Utara berdiri kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri Jaya Warsa.

Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai “Demikian lah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktu bumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.

Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmuTantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito (penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dan kemana-mana selalu jalan kaki.

Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagian kerajaan itu sebagai berikut: Beliau menyanggupi permintaan Raja untuk membelah kerajaan.  Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang dibawanya terbang ke langit.

Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di taruh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam, marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.

Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan.
Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis:
Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi;dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti dibelahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegak dan berjaya dalam memimpin Negara.

Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. Dua kerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta). Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.

Di Gunung Penanggungan Airlangga dikenal sebagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia dimemakai nama Begawan Mintaraga. Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebuah ungkapan yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menyelamatkan Sintha dalam epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049M) Airlangga wafat. Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. Arca itu di sebut Garudamukha.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: JEJAK SIDOARJO dari Jenggala ke Suriname, Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006, hlm.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri [Kota], Sejarah, Th. 2006 dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Dewi Kilisuci Dan Kesunyian Selomangleng

  1. johanesjonaz berkata:

    menarik sekali artikelnya !

  2. Bagus sekali artikelnya, hanya buku rujukannya yang belum dicantumkan.. terus untuk pelarian Airlangga bersama Narotama (dalam buku sejarah Nasional disebutkan ke Wonogiri) bukan ke gunung PRAWITO (Penanggungan)… MOHON PENJELASAN..

  3. Ping balik: KE DI RI | kediribertutur

  4. Ping balik: KEDIRIBERTUTUR | Bantuin Kamu Biar Gak Nyasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s