Sejarah Pendidikan Sekolah Dokter, di Jawa Timur


Masalah kesehatan di Indonesia mendapat perhatian khusus oleh pemerintah. Pemberantasan penyakit sangat perlu untuk kesehatan secara keseluruhan, termasuk orang-orang Eropa sendiri. Langkah menuju ke arah pendidikan kedokteran sudah dimulai sejak pemulaan abad ke 19. Pada waktu itu dimulai dengan mendidik anak-anak bumiputera untuk menjadi juru cacar yang dilakukan oleh para penilik vaksinasi. Pendidikan ini dilakukan secara kontinyu mengingat penyakit cacar merupakan penyakit yang banyak diderita oleh rakyat Indonesia. Menjelang perte­ngahan abad ke-19 pendidikan yang menghasilkan juru cacar ini diubah dan diadakan secara reguler.

Pada tanggal 2 Januari 1849 pemerintah telah mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah sekolah yang lulusannya akan diperbantukan kepada rumah sakit militer di Batavia. Sekolah yang didirikan itu ialah sekolah Ahli Kesehatan. yang. dibuka pada tahun 1851, dengan jumlah murid sebanyak 13 orang. Sedangkan sekolah pendidikan juru cacar yang semula lama belajarnya satu tahun kemudian diperpanjang menjadi dua tahun. Penambahan masa belajar dipakai oleh para pelajar untuk menekuni beberapa mata pelajaran yang ditambahkan selama masa pelajaran tam- bahan tersebut. Hal ini sangat menguntungkan bagi para pela­jar, karena mereka dapat memperoleh atau mengenal jenis- jenis penyakit yang banyak tersebar di Indonesia. Dengan demi­kian mereka dapat memberikan pengobatan secara medis, bahkan para lulusan itu akhirnya pun dapat melakukan pembedahan ringan dan merawat secara medis seperlunya. Setelah menempuh dua tahun lamanya, kemudian mereka diuji oleh suatu team panitia penguji yang terdiri dari dokter dan apoteker militer. Apabila mereka lulus, lalu mendapat gelar dokter Jawa.

Pada tahun 1875 pendidikan dokter diperpanjang lagi menjadi lima sampai enam tahun lamanya. Dengan penam- bahan waktu yang cukup itu diharapkan para lulusan nanti dapat memperoleh ilmu kesehatan lebih mendalam. Selama itu pela­jaran diberikan dengan menggunakan bahasa Melayu, dan sejak tahun 1875 diberikan dengan menggunakan bahasa Belanda. Hanya untuk murid-murid yang berasal dari sekolah yang tidak memakai bahasa pengantar bahasa Belanda, diadakan pendidikan pendahuluan selama dua sampai tiga tahun, khusus untuk memperdalam bahasa Belanda.

Semenjak tahun 1875 gelar dokter Jawa mulai diadakan perubahan menjadi Ahli Kesehatan Bumiputera (Inlandsch Genees- kundige). Dengan adanya perubahan ini diharapkan oleh Pemerintah bahwa mereka yang telah berhasil lulus itu akan lebih sesuai dengan perkembangan profesinya sebagai sorang ahli di bidang kesehatan. Sesuai dengan perkembangan ilmu kedok- teran di Indonesia pada masa itu dan semakin meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, maka pada tahun 1902 diadakan reorganisasi. Lama belajar diperpanjang lagi, dan gelar dokter Jawa diubah menjadi dokter bumiputera atau Inlandsch Arts. Sekolah tersebut diberi nama STOVIA, singkatan dari School Tot Opleiding van Inlandsche Art sen.*2) Siswa-siswa Sekolah Dokter Jawa yang masih ada pada tahun itu tidak lagi dicetak menjadi dokter Jawa, akan tetapi meneruskan pelajarannya ke STOVIA.

Di Surabaya didirikan sekolah semacam itu baru pada ta­hun 1913 dengan nama NIAS (Nederlands Indische Artsen School. Semenjak tahun 1914 sekolah ini menerima siswa baru dari mereka yang telah lulus MULO, dengan lama belajar 7 tahun.

Sampai saat itu di Indonesia telah ada 2 pendidikan kedok- teran, yang pertama di Jakarta dan yang kedua di Surabaya. Di Jakarta pada tahun 1927 STOVIA diubah namanya menjadi GHS (Geneeskundige Hoge School), dan yang dapat diterima adalah mereka yang telah lulus AMS atau HBS lima tahun. Sedangkan di kota Surabaya NIAS tetap tidak diubah. Semen­jak itu GHS di Jakarta menghasilkan Arsen dan NIAS di Suraba­ya menghasilkan Indische Artsen.

Pada masa Jepang berkuasa di Indonesia NIAS dihapuskan dan diganti dengan Ika Daigaku, yakni semacam Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta. Baru pada bulan Desember 1947, Sekolah Kedokteran di rintis kembali oleh Kepala pemerintahan Prae federal (Belanda).

Hasrat pendirian ini adalah sebagai kelan- jutan NIAS yang pernah ada, dan pemanfaatan gedung-gedung peninggalan NIAS. Kesulitan yang dihadapi pada masa itu ialah mengenai tenaga pengajar yang merupakan motor terlaksananya pendidikan. Baru kemudian setelah datang Prof. Droogleover Fortuyn dan Prof. Streef serta Prof R. M. A. Bergman dari Jakarta (Universitas Indonesia) ikut berusaha mendirikan Fakul- tas Kedokteran, kesulitan tersebut dapat teratasi. Setelah menga­lami perkembangan yang menyeluruh meliputi kurikulum, pera- latan medis, literatur, tenaga pengajar, gedung, dan lain-lainnya, berdirilah Fakultas Kedokteran yang dimaksud, hingga sekarang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s