Bondowoso Menjelang Akhir Abad ke-18


PERISTIWA sejarah adalah peristiwa perubahan sosial yang terjadi pada suatu masa tertentu. Keberadaannya tidak berdiri sendiri, tetapi selalu merupakan rangkaian peristiwa sebelumnya dan dipengaruhi oleh situasi serta kondisi sosial sekelilingnya. Situasi politik di sekitar wilayah Bondowoso tidak menentu waktu itu, ada empat kekuasaan yang berpengaruh, yaitu:

Di Sebelah Timur

Di sebelah timur Bondowoso terdapat kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu yang bebas dari pengaruh Sunan Mataram maupun VOC. Selama kurang lebih dua puluh satu tahun (1670-1691) Ke­rajaan Tawang Alun di bawah pimpinan Sunan Blambangan masih merdeka penuh. Tetapi setelah Sunan wafat, Blambangan jatuh ke tangan Belanda. Ketika kerajaannya digempur Belanda, Mas Alit, adik Raja Belambangan, melarikan diri. Belanda kemudian meng- angkatnya menjadi bupati di Banyuwangi dengan gelar Tumenggung

Wiraguna. Bali pun ditaklukkan Belanda pada 1764. Data tersebut menunjukkan bahwa daerah Banyuwangi dan sekitarnya dipengaruhi kerajaan Hindu namun dibayang-bayangi kekuasaan Belanda.

Di Sebelah Barat

Di sebelah barat wilayah Bondowoso ada Tumenggung Joyo- lelono yang berkuasa di Banger (Probolinggo), yang juga dibayang- bayangi oleh kekuasaan kompeni Belanda yang bermarkas di Bangil. Kekuasaan kerajaan Mataram telah jatuh ke tangan Belanda. Paku Buwono I dipaksa menyerahkan beberapa wilayah kekuasaannya kepada Belanda, yaitu Demak, Rembang, Jepara, dan seluruh daerah di sebelah timur Pasuruan kepada VOC pada 1743.

Di Sebelah Utara

Di sebelah utara ada Demang Tisman, penguasa wilayah Pana- rukan yang dibayang-bayangi kekuasaan Blambangan. Kompeni Belanda mencurigainya. Ketika Kompeni Belanda hendak menak- lukkan Panarukan dengan bantuan pasukan Tumenggung Arya Nata Kusuma dari Sumenep, maka Demang Tisman disarankan oleh Patih Wiradipura Besuki supaya tidak melakukan perlawanan. Tetapi toh akhirnya Demang Tisman diberhentikan dari jabatannya dan diganti kan oleh seorang anggota keluarga dari Sumenep. Peristdwa ini terjadj pada 1768.

Situasi wilayah Bondowoso:

Di Bondowoso ada penguasa Sentong yang termasuk wilayah kekuasaan Blambangan. Wilayah Bondowoso pada waktu itu meliputi pesisir utara Pulau Jawa, mulai dari Banger (Probolinggo) sampai Panarukan-Banyuwangi. Penguasa Sentong merasa risih karena wilayah kekuasaannya di pesisir utara dikuasai oleh Joyo- lelono Probolinggo. Berkali-kali terjadi sengketa perbatasan antara kedua penguasa.

Di Sebelah Selatan

Daerah Puger yang semula dikenal dengan nama Blambangan Wetan pada akhir 1768 dapat dikuasai oleh VOC, setelah cucu dari Untung Suropati yang bernama Wironggoro, Malaya Kusuma, dan Kertonggoro, gugur di sekitar Lumajang dalam perjuangannya mati matian menentang kekuasaan Belanda. Kemenangan VOC tersebut mengakibatkan bercokolnya kekuasaan kompeni Belanda di Puger.

Perlu diketahui bahwa kemenangan VOC tersebut bukan semata- mata karena kekuatan pasukan VOC yang besar dan lengkap, serta dengan persenjataan modern, tetapi karena politik divide et impera, mengadu domba bangsa kita sendiri, sehingga di antara penguasa bangsa kita turut membantu memenangkan kekuasaan kompeni Belanda, antara lain Bupati-Adipati Pasuruan (Kanjeng Lemper) dan Panembahan Tjakraningrat V dari Bangkalan. Sebagai tanda terima kasihnya, maka VOC mengangkat putra Kanjeng Lemper (Bupati-Adipati Pasuruan) sebagai Patih Puger dengan gelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat pada 1768.

Data sejarah di atas membuktikan bahwa pada pertengahan abad ke-18 wilayah Bondowoso berada dalam keadaan terkepung oleh kompeni Belanda. Walaupun demikian kompeni Belanda tidak sampai menjadi penguasa di wilayah-wilayah yang dipandang masih rawan; hanya mengangkat penguasa-penguasa bangsa kita sebagai kepanjangan tangan kekuasaannya. Penguasa-penguasa yang sekiranya membahayakan kekuasaan Belanda, langsung diberhentikan dan diganti penguasa lain yang sudah jelas memihak Belanda. Misalnya Bupati Tumenggung Kiai Joyolelono yang memerintah Probolinggo (1746-1768) digantikan oleh Tumenggung Joyonegoro dari keluarga Kasepuhan dari Surabaya. Beliau masih ada hubungan keluarga dengan Panembahan Tjakraningrat V di Bangkalan.

Adapun penyebab dipecatnya Bupati Tumenggung Joyolelono sebagai Bupati Probolinggo antara lain disebabkan beliau hanya kurang antusias membantu ketika VOC menyerbu Puger dan Lumajang.

Ia hanya mengirimkan putra menantunya yaitu Kiai Demang Alus yang pada waktu itu menjadi demang di Besuki. Dari kenyataan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa wilayah Bondowoso waktu itu adalah wilayah yang “mengambang” atau “daerah tak bertuan”. Tidak ikut menjadi wilayah Blambangan, tidak pula menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Belanda. Belum jelas nama penguasa Bondo­woso (Sentong) waktu itu. Maka boleh dikatakan daerah Bondowoso disebut daerah terra incognita (daerah yang belum dikenal). [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 52

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bondowoso, Sejarah, Th. 2004 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s