Pemberontakan Ario Gledak Ditumpas, Kabupaten Bondowoso


Negeri Puger kedatangan pemberontak. Patih Puger Reksonegoro belum sempat menghubungi Ki Kertonegoro di Bondowoso, tiba- tiba Puger telah dikacaukan dengan datangnya gerombolan pem­berontak sebanyak 400 orang yang dipimpin oleh Ario Gledak, dengan panglima perangnya Abdurrasid. Peristiwa ini terjadi antara 1816-1818.

Penduduk desa banyak yang menyerah. Alun-alun Puger di- duduki dan penduduk diperintahkan bersorak-sorai sebagai tanda kemenangan. Pendopo pun telah dikepung. Waktu itu Patih Puger ada di dalam puri, dan dia kebingungan. Hendak melawan namun jumlah musuhnya terlalu besar. Namun untuk menyerah pun dia merasa malu sekali. Mau lari, takut terbunuh. “Lebih baik berpura- pura saja,” pikirnya.

Tahu-tahu pemberontak masuk dengan pedang terhunus dan mengancamnya. Dia pun terpaksa menyerah. Lalu Patih dilepaskan. Kemudian Patih menyuruh juru tulisnya menulis surat kepada Ki Patih Bondowoso. Isinya memberi tahu bahwa Puger telah dikuasai musuh besar. Semua mantri Puger telah menyerah. Ia belum melakukan pertempuran namun telanjur ditodong oleh pemberon- tak. Ario Gledak dan Abdurrasid beserta pasukannya esok paginya diketahui akan berangkat menuju Bondowoso.

Begitu Ki Patih Kertonegoro membaca surat Patih Puger, beliau marah. Pasukan disiapkan untuk menghadang musuhnya. Pasukan telah siap di Desa Sumberpandan. Karena hari telah malam, maka atas saran mantrinya terpaksa malam itu ber-mesanggrah di situ. Esok paginya perjalanan dapat dilanjutkan.

Pada malam itu juga datanglah utusan Ki Patih Ario Gledak menyampaikan surat kepada Patih Kertonegoro. I si surat itu mem- beri tahu bahwa Ario Gledak esok pagi akan pergi menuju Besuki untuk “menata agama warga Besuki” (mendamaikan pertentangan agama). Untuk itu ia perlu singgah sebentar di Bondowoso. Diminta- nya Patih Kertonegoro untuk menyediakan jamuan bagi mantri dan pasukannya.

Sebagai orang yang telah menguasai surat-menyurat serta diperkaya dalam pengalaman membabat hutan yang memerlukan otot baja, maka kedua surat itu segera dapat ditangkap isinya: perlu berhati-hati serta waspada. Pertama, dipersiapkan medan untuk bertempur menghadapi lawan. Diadakanlah pertemuan untuk mem bicarakan di mana sebaiknya perang itu dilakukan. Dalam hal ini diperlukan siasat perang. Rapat memutuskan bahwa perang sebaik­nya dilakukan di Sentong. Kedua, perlu dibuat surat untuk Ki Patih Besuki yang isinya memberitahu bahwa Puger telah jatuh ke tangan musuh. Ki Patih dan para mantrinya telah menyerah, takluk kepada pemberontak. Besok pagi pemberontak akan tiba di Bondowoso.

Ketika menerima surat itu dan membacanya, Patih Besuki merasa heran. Bagaimana mungkin Patih Puger menyerah begitu cepat padahal belum melakukan perlawanan? Apakah ia sekadar mencari selamat? Tapi hal itu akhirnya disadarinya. Ia menyerahkan- nya pada kehendak Tuhan.

Sementara itu surat kepada Ario Gledak juga disusun dengan menggunakan kalimat-kalimat yang halus tetapi penuh makna yang dalam. Jika surat itu tidak dipahami benar-benar, surat itu akan memberi kesan bahwa Patih Kertonegoro telah menyerah. Isi surat itu menyebutkan bahwa Patih Kertonegoro senang sekali atas kehen- dak Ario Gledak singgah di Bondowoso. Telah disiapkan jamuan makan serta tempat peristirahatan secukupnya sebagai layaknya orang menyambut tamu. Hanya tinggal memotong lembu dan kambingnya. Kedatangan Ario Gledak sangat dinantikan. Hanya permintaan Ki Patih, jika benar Ario hendak berdamai, maka sebaik- nya persenjataan diletakkan, sebagai tanda hati yang suci, bebas dari rasa curiga dan syak-wasangka.

Ario Gledak merasa lega hatinya setelah membaca surat Patih Kertonegoro. Perang tanpa perlawanan. Tanda bahwa Patih Bondowoso menyerah. Buktinya ia bersedia menjamin menyediakan jamuan makan.

Ada beberapa versi cerita mengenai siasat Ki Patih Kertonegoro dalam menghadapi Ario Gledak. Naskah-naskah yang ditulis mutak- hir menyebutkan adanya siasat peperangan di jembatan Gronggong, sebelah utara Sentong. Sedangkan naskah lama, misalnya yang ditulis M Soeroto dalam Babad Bondowoso (1919) sama sekali tidak menye­butkan hal itu.

Setelah Ario Gledak dan pasukannya datang, peperangan pun tak terhindarkan. Perang tanding adu ketangkasan memainkan pedang dan parang berlangsung dengan sengit. Pasukan Ario Gledak akhirnya terdesak mundur. Mereka terus dike jar. Yang melawan di- bunuh, yang menyerah diborgol. Panglima perang Abdurrasid dapat dipenggal lehernya. Pasukan Bondowoso terus mengejar sisa-sisa pemberontak yang melarikan diri.

Akhirnya Ario Gledak pun tertangkap, kemudian dieksekusi. Kepalanya dan kepala Abdurrasid diarak oleh orang-orang ke lapangan Desa Mandar. Di sanalah kedua kepala pemberontak yang terpenggal itu diletakkan di dang pancang untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Patih Kertonegoro terus mengejar lawan. Tiba-tiba ia bertemu dengan Patih Puger yang bersikap “pura-pura” menyerah itu. Ki Patih Kertonegoro kemudian menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Bawean kepada Patih Puger. Mendengar rintihan Patih Puger meminta belas kasihan, serta mengutarakan alasan se- benarnya ia menyerahkan diri kepada Ario Gledak, maka Ki Kertonegoro pun memaafkannya.

Dalam pengejarannya, Ki Kertonegoro sampai di Puger dan berhadapan dengan pasukan pemberontak yang menyerah. Mereka kemudian dibawa ke Bondowoso, lalu dibawa menghadap ke Residen Besuki. Tawanan itu akhirnya dibuang ke Banjarmasin.

Versi lain menyebutkan bahwa siasat Ki Patih Kertonegoro menghadapi Ario Gledak adalah dengan cara melepaskan atau mengendurkan pancang-pancang tiang jembatan Sungai Gronggong. Versi ini termuat dalam naskah sejarah:

  • Tulisan tangan Moen’am Wondosubroto, 1938, Babad Besuki, bersambung dengan Babad Bondowoso.
  • H. Abd. Razaq Q dan SS Sidik, 1974, The Origin of Bullfight Connected with the History of Bondowoso.
  • Sabarudin, Bagian Politik/Keamanan Daerah Kabupaten Bondowoso, 1967, Sejarah Kota Bondowoso.

Agak berlainan lagi hasil kerja Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang menyusun naskah Ringkasan Sejarah Berdirinja Kabupaten Bondowoso pada 1992. Seperti halnya tulisan Soeroto (1919), tim ini sama sekali tidak mengemukakan siasat “jembatan Sungai Gronggong”. Ketiga penulis sejarah di atas mendramatisasi- kan peristiwa tipu muslihat jembatan Sungai Gronggong dengan sangat indah. Disebutkan bahwa Ario Gledak, Abdurrasid, dan Pasukannya, dengan gembira menyambut penghargaan Patih

Kertonegoro. Jembatan itu dihiasi janur dan bunga-bungaan layaknya menyambut kedatangan tamu padahal tiang-tiang pancang jembatan itu sudah dilonggarkan supaya bisa runtuh kalau dilewati pasukan pemberontak.

Dibuatkan pula barak tempat perisdrahatan di sebelah utara sungai dan dihiasi janur kuning serta bunga-bungaan, juga tempat menjamu para tamu agung yang dilengkapi gamelan untuk meng- hibur. Untuk menjaga keamanan, di sebelah utara disiapkan pasukan pengawal dan penjaga keamanan dengan pakaian seragam dan per- senjataan lengkap. Tetapi di sebelah selatan sungai disiapkan pasukan penyamar yang terlatih di tempat-tempat strategis untuk memukul habis pasukan Ario Gledak.

Begitu Ario Gledak dan pasukannya datang, mereka disambut dengan bunyi gamelan yang bertalu-talu. Ario Gledak mengira bahwa ia disambut sungguh-sungguh. Tidak disadari bahwa gamelan di- bunyikan sebagai tanda mulai penyerangan.

Peperangan pun dimulai. Pasukan penyamar memukul dari selatan sungai, sedangkan pasukan dari utara terus mendekat ke tebing sungai di sebelah utaranya. Pasukan Ario masuk perangkap melewati jembatan, dan jembatan pun runtuh. Pasukan kuda dan lain-lainnya terjatuh ke sungai. Kesempatan baik bagi pasukan Padh Kertonegoro untuk membinasakannya. Ario Gledak dan Abdurrasid tertangkap lalu dipenggal lehernya. Sisa pasukannya lari terbirit- birit, mundur, menghilang untuk lapor kepada Patih Puger.

Pasukan Patih Kertonegoro terus mengejarnya. “Dua kepala pemberontak” Ario dan Abdurrasid dibawa ke Mandar, lalu digan- tung di tiang pemancang di tengah lapangan untuk dipertontonkan kepada rakyat. Penduduk sangat takut pada keberanian pasukan Patih Kertonegoro.

Ketiga penulis sejarah tersebut menyebutkan bahwa kepala Ario Gledak dan Abdurrasid itu kemudian ditanam di tengah alun-alun Bondowoso dengan upacara resmi. Naskah Abd. Razaq Q dan SS

Sidik yang menyebut upacara pemakaman kepala pemberontak di alun-alun Bondowoso dengan dihadiri segenap rakyatdari berbagai kalangan itu, adalah dongeng belaka.

Yang menarik, waktu pemakaman itu akan dimulai, Ki Ronggo masih sempat membacakan pidato berapi-rapi yang isinya meng- ancam siapa saja yang sombong dan hendak mengganggu serta meng- gulingkan pemerintah, akan bernasib seperti Ario Gledak dan Abdurrasid.

Demikianlah kisah pemberontakan Ario Gledak itu diakhiri dengan kemenangan di pihak Patih Kertonegoro. Atas jasa-jasanya, beliau dihadiahi uang sebesarf4.000. Puger pun dilepaskan menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.

Sabarudin dalam naskahnya menafsirkan hadiah/ 4.000 itu sebagai akhir hubungannya dengan pemerintah Belanda. Kompeni merasa dilangkahi karena Ki Ronggo mengambil kebijakan sendiri tanpa seizin belanda. Itulah sebabnya pada 1830 beliau diberhenti- kan dari jabatannya sebagai Ronggo I dan digantikan oleh putra keduanya yaitu Raden Kertokusumo [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 68- 73

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bondowoso, Sejarah, Th. 2004 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s