Kisah Gunung Kelud (1), Kabupaten Kediri


LELEMBUT KELUD BERSIKAP

Gunung Kelud dijawa Timur dipersengketakan oleh Pemkab Kediri dan Pemkab Blitar. SK Gubernur Soekarwo yang menetapkan gunung berapi aktif itu sebagai “aset” Pemkab Kediri, pemicu persengketaan. Bagaimana lelembut Kelud menyikapi persoalan tersebut? Ada garis imajiner, yang menghubungkan antara Gunung Kelud dengan laut selatan.Tetapi, garis tersebut hanya bisa terlihat atau dili hat oleh orang-orang yang memiliki kemampuan adikodrati. Salah seorang di antaranya adalah Agnelia Rini Palupi SE, yang akrab disapa Rini. “Garis itu sangat nyata, bahwa antara Gunung Kelud dengan Laut Selatan memang terhubung,” jelas Mbak Rini, seorang pakar metafisika dari Kota Blitar.

Pernyataan Rini, tidak berlebihan. Setidaknya, bagi Mbah Ladi dan sebagian besar warga pesisir Pantai Tambakrejo di kawasan Blitar Selatan. Mbah Ladi sendiri dikenal sebagai juru kunci Pasetran Gondomayit,salah satu titik keramat di Pantai Tambakrejo. “Setiap kali Kelud meletus, pasir di pantai ini pasti akan tampak berkurang,” kata Mbah Ladi serius.  Bagi warga pesisir Pantai Tambakrejo di Kecamatan Wonotirto, Mbah Ladi adalah sosok yang pantas disepuhkan. Tiap-tiap kaum nelayan menggelar ritual adat Larung Sesaji di Bulan Syuro, maka Mbah’Ladi-lah yang dipercaya untuk memimpin jalannya upacara. Tetapi, bukan lantaran pernyataan orang yang cukup dihormati itu, jika sebagian besar warga pesisir mengemukakan kesaksian- nya yang senada dengan apa yang dikatakan Mbah Ladi.

“Mbah Ladi benar, bahwa setiap kali Kelud meletus, maka pasir di pantai ini pasti berkurang. Warga pesisir Pantai Tambakrejo, sudah tidak heran lagi atas keanehan tersebut,” jelas beberapa nelayan di Pantai Tambak­rejo. “Memang, ini sulit sekali untuk bisa dinalar dan sepertinya tidak masuk di akal.Tetapi, memang begitulah kenyataannya,” lebih lanjut, tandasnya. Rini pun mencoba memvisualisasikan benang merah antara Gunung Kelud dengan pantai-pantai selatan di kawasan Blitar Selatan. Menurut Rini, secara metafisis memang ada lorong penghubung antara Gunung Kelud dan laut selatan. Melalui lorong inilah, mater­ial laut selatan bisa sampai ke Gunung Kelud.

“Jadi, sudah tidak mengherankan lagi, jika Kelud meletus material vulkanik yang dimuntahkan di antaranya terdapat jenis pasir yang sama persis den­gan yang ada di pesisir pan­tai selatan. Bahkan, seringkali warga di daerah bencana alam Gunung Kelud menemukan kerang-kerang lautan,” urai Rini. Koneksitas metafisis antara Gunung Kelud den­gan pantai selatan inipun, sempat dijadikan bahan retorika oleh warga Blitar yang berunjuk rasa menentang SK Gubernur Provinsi JawaTimur pada Senin (19/3) pekan lalu. Seperti diketahui, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mempersilakan warga Blitar menempuh jalur hukum untuk menggugat Surat Keputusan Nomor 188/133/KPTS- 1013/2012 yang menyerahkan pengelolaan Gunung Kelud kepada Pemkab Kediri. “Silakan gugat, silakan ambil jalur hukum yang ada,” tantang Soekarwo ketika menemui perwakilan warga Blitar yang berunjuk rasa.

Selain gugatan melalui jalur hukum, warga Blitar menurut Gubernur Soekarwo bisa mendesak bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Blitar untuk menemui Dirjen PU Kementerian Dalam Negeri. Warga diminta memperlihatkan peta wilayah yang menjadi bagian dari Kabupaten Blitar, serta memberikan alasan sosiokultural terkait kepemilikan Gunung Kelud. Di hadapan Soekarwo, salah seorang warga yang mengaku tinggal di lereng Gunung Kelud mengatakan, bahwa keberadaan gunung tak bisa dipisahkan dengan eksistensi warga Blitar. “Bahkan secara mistis, hanya warga Blitar yang tahu kapan Gunung Kelud akan meletus.

MENGADU

Atas sengketa “kepemi­likan” Gunung Kelud itu, Rini mengaku sangat meragukan sistem pengadilan manusia.”Saya lebih percaya dengan pengadilan alam, yang selalu apa adanya, dan sejujur-jujurnya.Tidak ada manipulasi di sana-sini, pasti obyektif karena alam tidak pernah punya tendensi, atau kepentingan-kepentingan yang sifatnya politis,” .

Atas dasar pemikiran demikian itu, Kamis (22/3) malam pekan lalu Rini “mengadukan” persoalan tersebut kepada pemilik otoritas spiritual Gunung Kelud.Yang dimaksud Rini, mungkin tokoh legendaris yang sudah menjadi mitos masyarakat sekitar kaki Gunung Kelud. Mereka adalah Lembu Suro dan Mahesa Sura.Tetapi banyak, yang di antaranya ditandai dengan menyusut- nya pasir di laut selatan Blitar. Jika pasir menyusut, berarti Gunung Kelud akan meletus,” ujar Margiyanto.

Tak hanya itu, warga Blitar setiap tahun juga menggelar acara labuh bumi di Gunung Kelud. Karena itu, budaya ataupun kultur masyarakat Blitar tak bisa dipisahkan dengan Gunung Kelud. “Kami tak pedulikan faktor ekonomi. Kami hanya minta Kelud dikembalikan,” ucap Margiyanto. Ketua DPRD Kabupaten Blitar Guntur Wahono, yang juga turut dalam pertemuan dengan Soekarwo menyayangkan keluarnya SK Gu­bernur. “Ibarat bikin pagar, masak tetangganya tidak dilibatkan,” tutur Guntur. Meski begitu, dirinya bisa memaklumi keluarnya SK tersebut punya yang menyebutnya Jata Sura.

Untuk menemui makhluk astral Gunung Kelud itu, sebelumnya Rini telah sowan terlebih dahulu menghadap Kanjeng Ratu Kidul di Pantai Serang. “Mengapa tidak di Tambakrejo, tetapi di Pantai Serang?” Atas pertanyaan LIBERTY tersebut, Rini mengatakan – bahwa menurutnya yang di Pantai Tam­bakrejo itu bukan Kanjeng Ratu Kidul, melainkan Nyi Roro Kidul.”Keduanya memang sama persis, bagai pinang dibelah dua.Tetapi sebenarnya.’ada tanda-tanda khusus yang membedakan- nya, dan menurut keyakinan saya, yang.di Pantai Serang itulah yang Kanjeng Ratu Kidul,” jelasnya.

Dalam pertemuan astralnya dengan Kanjeng Ratu Kidul, Rini mengaku minta restu untuk menemui penguasa spiritual Gunung Kelud. Setelah restu terse­but didapatkannya, barulah ia bersama paranormal Herry Langit dan beberapa warga Blitar lainnya men- proses ritual sedang berlangsung. Langit yang semula mendung, tiba-tiba saja menjadi terang benderang. Langit pun bertabur bintang gemintang, dan sekeping rembulan tampak purnama penuh. Salah satu puncak Gunung Kelud, yang lazim disebut Gajah Mungkur – yang semula tertutup kabut menjadi terlihat samar-samar.

Tak ada gerakan demonstratif, selama proses ritual berlangsung. Hanya saja, setelah meditasi beberapa waktu, Rini mengatakan kepada LIBERTY, bahwa dirinya melihat sebuah penampakan di pucuk Gunung Kelud. “Saya seperti melihat sosok raksasa yang hanya mengenakan cawat saja. Sosok itu berkelebatan di puncak Gunung Kelud, dan dalam keyakinan saya bahwa beliau itu adalah Joto Suro,” jelas Rini. 

RAPAT ASTRAL DI PENATARAN

Rini mengatakan, sebenarnya telah terjadi perte­muan antara Kanjeng Ratu Agnelia Rini Palupi SE, agenda pembahasan beliau- beliau itu,” kisah Rini sambil tersenyum.”Meski berada di demensi yang berbeda, tetapi beliau terbukti cukup responsif dengan persoalan Gunung Kelud yang diperebutkan itu,” ungkap Rini. Bagi Rini, secara metafisis Candi Penataran itu sebenarnya adalah semacam pendopo khusus, tempat pertemuan-pertemuan antara Kanjeng Ratu Kidul dan penguasa gaib Gunung Kelud. “Rapat-rapat penting yang menyangkut hubungan ‘ dan persoalan keduanya, hampir selalu diadakan di Candi Penataran. Sejarah pun mencatat, bahwa keberadaan Candi Penataran nyaris tidak bisa dipisahkan dengan eksistensi Gunung Kelud,” tandas Rini.

Yang jelas, menurut Rini pasukan Kanjeng Ratu Kidul yang dikerahkan untuk membantu terlaksananya “hajatan Gunung Kelud” sudah siap siaga, jika sewaktu-waktu dibutuhkan. “Ibaratnya.Tentara Lampor (Pasukan Khusus Kanjeng Ratu Kidul) itu, hanya tinggal menunggu aba-aba saja. Jika penguasa Kelud sudah memberikan sinyal kepada Kanjeng Ra’tu Kidul, maka selanjutnya Kanjeng Ratu Kidul yang akan mem­berikan komanda ke pasukannya itu,” urai Rini.

Baik dalam pertemuan- nya dengan Kanjeng Ratu Kidul atau dengan Jata Suro, Rini tidak me’minta apapun atas status kepemilikan Gunung Kelud. “Jadi jangan salah sangka, meskipun saya ini warga Blitar, tidak lantas minta Kelud menjadi milik Blitar, atau sebaliknya.Yang saya minta, hanya ditun- jukkannya kebenaran dan keputusan yang seadil-adilnya,” aku Rini.

Rini pun mengaku telah mendapatkan semacam petunjuk atau bisikan, bahwa antara Pemkab Blitar dan Pemkab Kediri menurut Kanjeng Ratu Kidul dan Jata Suro sama-sama memiliki kesalahan. Tetapi mana yang lebih salah antara kedua pemerintah daerah yang sedang bersengketa itu, Rini tidak mau menyebutkan. “Yang jelas, masih ada pemimpin Blitar yang memi­liki hutang kepada Kanjeng Ratu Kidul, dan ini mungkin juga masuk perhitungan Kanjeng Ratu Kidul atas sanksi yang akan diberikan,” ungkap Rini.

Menjawab pertanyaan LIBERTY, benarkah pemim­pin Blitar yang dimaksudkan itu Bupati Herry Noegroho? “Saya’tidak mengatakan Bupati Herry Noegroho, tetapi pemimpin Blitar. Apakah pemimpin Blitar hanya Pak Herry Nugroho saja? Blitar itu punya Muspida, ada Bupati, ada pula Kapolres, ada Dandim, ada pula Ketua DPRD. Semua itu, boleh kita sebut pemimpin Blitar,” jawab Rini diplomatis.

“Yang jelas, semua itu sudah dirapatkan oleh Kanjeng Ratu Kidul dan Joto Sura di Candi Penataran,” tandasnya. “Menyangkut sanksi atas kesalah kedua pemerintahan daerah itu sendiri,” ujarnya•

——————————————————————————————-

LIBERTY, 11 – 20 APRIL 2012

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Sejarah, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s