Abon Kelinci, Kota Batu


Abon Kelinci Mencari Pasar

abon-kelinci001Sate kelinci sudah bukan jenis makanan baru bagi masyarakat. Di mana-mana mudah ditemui warung sate kelinci. Tetapi abon kelinci, tentu belum banyak orang yang tahu. Abon kelinci boleh dibilang belum populer sebagaimana abon dari daging sapi. Di rak-rak di banyak swalayan abon kelinci juga belum banyak dipajang.

Namun abon kelinci bisa menjadi altematif selain abon sapi, karena kandungan kolestrolnya yang rendah. Ditengarai, mutu gizi daging kelinci lebih bagus daripada daging lainnya Selain itu bahan baku abon kelinci juga mudah didapat. Di JawaTimur, salah satu sentra abon kelinci berada di Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Kota Batu sudah lama menjadi sentra peternakan kelinci. Di bawah Koperasi Akur yang berada di Desa Bulukerto, sedikitnya terdapat 67 anggotanya yang menjadi peternak, yang tersebar di Kecamatan Bam, Junrejo, Bumiaji, Pujon, Karangploso, Singosari dan Dampit. Selain beternak kelinci potong, peternak juga beternak kelinci hias dan bibit. Bahkan pemasaran bibit kelinci tidak hanya di Jawa, namun juga menjangkau ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, bahkan ke Malaysia. Selain beternak, diam-diam peternak kelinci di Bulukerto juga memproduksi abon kelinci. Dari 67 peternak anggota Koperasi Akur, 10 peternak di antaranya membikin abon kelinci. Usaha ini dimulai 3 tahun lalu. Usaha ini umumnya dikelola oleh ibu-ibu. Memang sejauh ini warga Bulukerto yang menekuni usaha abon kelinci belum banyak. “Ya maklum saja. sifatnya baru coba-coba,” kata Sukarni, Ketua Bidang Produksi Koperasai Akur.

Abon kelinci bisa membantu 1 peternak kelinci dalam mengatasi populasi ternaknya. Sebab, kelinci afkiran atau yang tidak produktif lagi, misalnya yang sudah mandul, bisa diolah menjadi abon. Selama ini kelinci yang tidak produktif dijual sebagai kelinci potong. “Atau misalnya yang sudah terlalu banyak pejantannya, ya bisa dibuat abon,” kata Sukarni.

Umul Mahmuda, salah seorang pembuat abon di Cangar mengatakan, mengaku membuat abon sebagai usaha sampingan. Pasalnya, membuat abon tidak memerlukan banyak tenaga dan waktu. Diceritakan oleh Mahmuda, sekali membuat abon dia membutuhkan 5 ekor kelinci. Setelah kelinci disembelih dan dicuci, tulang-tulang dipisahkan, kemudian difresto, lalu digiling hingga lembut, baru kemudian dicampur dengan rempah-rempah, tahap terakhir daging kelinci digoreng sampai memerah. Proses pembuatannya butuh waktu sekitar empat jam.

Abon-abon produksi peternak Bulukerto dikemas dalam plastik dengan berat 1 ons. Dikatakan oleh Umum Mahmuda, abon kelinci dalam kemasan ini bisa bertahan hingga 7 bulan. “Saya jamin dalam waktu tujuh bulan abon kami tidak apa-apa,” kata wanita yang sudah 3 tahun nnenekuni abon kelinci ini. Abon-abon tersebut dijual dengan harga Rp 15.000/ons, untuk berat 1 kg dijual dengan harga 150.000. Sedangkan abon yang sudah dicampuri nangka muda (ketewel) harganya Rp12.000/ons. Sementara itu harga per ekor kelinci untuk bobot 1,5 kg Rp 40.000.

Memang, dibanding abon sapi, harga abon kelinci lebih mahal. Itu sebabnya sampai saal ini penjualannya tidak sekencang abon sapi. Tidak mau menimbun produk terlalu lama, akhimya pembuatan abon kelinci seringkali berdasarkan pemesanan. Diakui oleh Sukarni, sejauh ini yang menjadi kendala pengusaha abon kelinci Desa Bulukerto adalah masalah pemasaran.

Untungnya setiap Kota Batu mengikuti pameran dagang ke luar kota abon kelinci selalu diikutkan. Kami juga mempromosikan ke Universitas Brawijaya,” kata Sukarni. Petenak juga kerap diajak Pemkot Batu untuk acara temu bisnis dengan pengusaha.

Melihat pasar abon kelinci yang masih terbatas, merupakan tantangan tersendiri bagi peternak. Salah satunya Sriwoto, peternak sekaligus pembuat abon kelinci DesaBulukerto. Karena pasar abon kelinci belum ramai, maka dia semakin giat memperkenalkannya kepada berbagai pihak. Salah satunya perlu ada semacam toko khusus untukUKM.

“Saya berharap, toko untuk menjual berbagai produk UKM, termasuk abon kelinci bisa segera realisasi. Karena sebelumnya sudah ada rapat bersama Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian,” kata Sriwoto yang juga ketua Koperasi Peternak Kelinci, Akur.

Kini berbagai keterampilan termasuk pemasaran sedang giat dilakukan oleh pembuat abon Desa Bulukerto. Di antaranya kerjasama dengan BLPP Singosari Malang dalam hal pengolahan daging kelinci dan juga STIP Lawang, Malang dalam kemasan. (bud)

Daging Kelinci Turunkan
Daging kelinci dapat menjadi makanan altematif yang relatif mudah diperoleh. Daging itu mampu menurunkan risiko kolesterol dan penyakit jantung. Sayangnya, daging kelinci belum populer. “Padahal, mutu gizinya lebih bagus dibanding daging lainnya,” kata Dr Yono C Raharjo dari Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor, dalam Seminar Nasional bertema prospek ternak kelinci untuk meningkatkan gizi masyarakat.

Salah satu cara mengenalkan daging kelinci kepada masyarakat adalah dengan mengolah daging kelinci ke dalam beberapa jenis masakan seperti sate kelinci, sosis, dendeng, dan bakso. “Semakin cepat dimasak, kandungan gizi kelinci makin sedikit berkurang. Daging kelinci yang paling baik dimasak adalah daging kelinci muda karena lebih cepat matang.” papar Kusmajadi.

Menurutnya, daging kelinci berbeda dengan daging ternak ruminansia. Daging kelinci berserat halus dan warna sedikit pucat, sehingga dapat dikelompokkan dalam golongan daging berwarna putih seperti halnya daging ayam. Daging putih kadar lemaknya rendah dan glikogen tinggi.

“Rendahnya kandungan kolesterol dan natrium membuat daging kelinci sangat dianjurkan sebagai makanan untuk pasien penyakit jantung, usia lanjut dan mereka yang bermasalah dengan kelebihan berat badan. “‘Keuntungan lainnya, tulang pada kelinci lebih tipis, dagingnya halus, dan seratnya pendek sehingga mudah dikunyah,” papar Kusmajadi. (Sumber : Kompas.com)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 47, September-Oktober 2009, hlm. 36.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s