Ludruk dan Perkembangan


Menurut tulisan Bambang Andrias dan Dida Tukini (wartawan) dan Goprak Harsono (redaktur) pada majalah Topik No. 18 Thn, XIII, 18 Juli 1984

Era perkembangan bentuk ludruk ini dapat diklasifikasikan atau dibagi atas beberapa bentuk, yaitu bermula dari ludruk “Bandhan” yang sudah lahir abad XII— XV. Ludruk “Bandhan” ini mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang lebih bersifat magis dengan menitikberatkan pada pameran kekuatan batin. Sekitar abad XVI—XVII “Lerok” yang dipelopori oleh Pak Santik dari Jombang. Kata ‘lerok’ diperkirakan berasal dari kata ‘lira’ yaitu alat musik yang berbentuk seperti kecapai (cimplung siter) yang dipetik sambil bersenandung mengeluarkan isi hati. Saat itu Pak Santik menghias dirinya dengan cara mencorat-coret muka, memakai ikat kepala, dada telanjang, celana panjang berwarna hitam, serta memakai selendang sebagai “sampur” sebagai iringan musik atau gamelannya Pak Santik memakai mulutnya sendiri. Sampai tahun 1914 ciri khas ikat kepala harus berwarna merah.

Karena perubahan zaman, maka gendang mulai digunakan cimplung (semacam ketipung), dan jidor (tambur besar) mulai dipakai sejak tahun 1915. Sedangkan perbendaharaan kidung mengikuti irama parianyar, besakalan, kalongan, dan jula-juli.

Setelah permainan bertambah menjadi tiga orang timbullah nama ludruk “Besutan” yang diambil dari tokoh utama yang bernama Besut dan pemain lainnya bernama Asmonah (istri Besut) dan Paman Jamino. Pada tahun 1931 ludruk berubah menjadi ludruk sandiwara dengan tokoh yang semakin ber­tambah jumlahnya dengan mempertahankan ciri tarian remo, kidung (nyanyian lirik), dagelan (lawak) dan cerita.

Pada tahun 1937, dengan munculnya tokoh seniman ludruk Surabaya yang bernama Cak Durasim, ludruk mulai menggunakan legenda cerita rakyat dan dalam bentuk drama.

Menurut James L. Peacock (1968: 29 – 32)
Pertunjukan ludruk sebagai seni panggung telah ada sejak abad XIII zaman kerajaan Majapahit (L. Poerbokoesoemo Ludruk dari Segi Sejarah serta Perkembangannva, 1960) dengan sebuatan “ludruk bandan” dan “ludruk lirok”. Sedangkan ludruk sebagai pertunjukan telah tercatat pada tahun 1822 (Th. Pigeaud, Javaanse Volksvertoningen, 1938), yang menampilkan dua orang pelaku laki-laki: seorang pelawak yang membawakan cerita lucu dan seorang penari yang berdandan wanita.

Pada abat ke-20 terdapat suatu bentuk luduk bernama Besut yang ditandai dengan pelawak Besut yang menari, menyanyi (mengidung), dan berjenaka (melawak) dan seorang teledhek (penari) pria berdandan wanita (female impersonator) yang menari dan mengidung. Kira-kira tahun 1920 ludruk Besut mengalami beberapa elaborasi dengan mengubah dua pemain menjadi tiga tokoh pelaku cerita. Di sini Besut mencari istri, Asmunah, yang dimainkan oleh seorang impersonator wanita, dan paman Asmunah bernama Paman Jamino. Ludruk ini sekarang disebut ludruk Besutan. Kemudian pelaku keempat, yaitu Juragan Cekep sebagai pemeran orang kaya dalam kampung yang menjadi lawan Besut. Setelah debut Juragan Cekep ini lakon Besut lalu disebut Besep.

Pada tahun 1930 Cak Gondo Durasim mengorganisasi kelompok ludruk Surabaya dan menjadi suatu tipe ludruk yang baru yang disponsori Dr. Soetomo. Pada tahun 1942 tentara pendudukan Jepang menggunakan ludruk sebagai alat propaganda “Kemakmuran Asia Timur Raya” (Greater East Asia Co-Prosperity Sphere). Pada suatu ketika di bawah pengawasan Jepang, Durasim menampilkan permainannya dengan kidungan “pegupon omahe doro, urip melu Nipon tambah sengsara”, “pegupon: rumah burung merpati, hidup ikut Nipon bertambah sengsara”. Karena kidungan itu ia ditahan Jepang dan akhirnya meninggal pada tahun 1944. Kemudian setiap pertunjukan ludruk merupakan kebulatan dari genre: ngremo (tari kepahlawanan), dagelan ‘lawak’ selingan (sisipan), dan cerita.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.8

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Th. 1987 dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s