Sarip Tambakyoso


(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Wijaya Kusuma Malang) Pimpinan Pelda Mulyono/Supriyadi

Sarip Tambakyoso sedang dikejar-kejar polisi dan lurah pemerintahan Belanda dengan tembakan-tembakan. Tetapi Sarip menantang mereka agar semua polisi dan lurah penjajah menghabiskan peluru untuk menembakinya karena Sarip mengetahui bahwa dirinya tak bakal mati ditembak dan tak dapat ditangkap. Sementara itu, Lurah Noto yang merasa sebagai jago penja­jah diserahi tanggung jawab menagih pajak kepada Mbok Sarip yang sudah menunggak selama tiga tahun.

Mbok Sarip menimbang-nimbang perasaannya terhadap anaknya yang tertua bernama Mualim dan adiknya bernama Sarip Tambakyoso. Ibarat telur satu sarang, setelah menetas berbeda warnanya. Sarip selalu menjadi pergunjingan tetangga dan masyarakat karena perbuatannya yang suka mencuri, merampok, dan membegal. Sedangkan Mualim rajin salat, pergi ke langgar, dan tekun mengaji agama di pondok. Tetapi, Mbok Sarip lebih cinta kepada Sarip daripada Mualim. 

Datanglah Lurah Noto menagih pajak kepada Mbok Sarip, tetapi Mbok Sarip tak dapat membayarnya pada hari itu. Akibatnya, Mbok Sarip dipukuli, walaupun usianya sudah tua dan minta waktu membayar sampai kedatangan Sarip. Tiba-tiba datanglah Sarip dan ketika melihat Mbok Sarip berlumuran darah, Sarip naik darah dan langsung saja Lurah Noto dibunuhnya dengan pisau belati dengan alasan bahwa Lurah Nato adalah lurah desa Gedangan yang tidak berhak menarik pajak di desa Tambakyoso, lagi pula telah berani menyiksa ibunya yang sudah tua itu. Setelah membunuh Lurah Noto tersebut Sarip menantang semua lurah dan polisi pemerintahan Belanda di seluruh Kabupaten Sidoarjo agar menghabiskan peluru untuk menembaki dirinya. 

Sarip tiba di rumah Mualim dengan ibunya yang babak belur dan berlu­muran darah. Mualim yang hanya pandai bicara tetapi tak banyak berbuat, serta-merta mencela Sarip yang tak waspada menjaga ibunya. Tetapi, setelah diceritakan Sarip bahwa Lurah Noto telah dibunuhnya, juga mencela perbuatan Sarip bahwa membunuh itu berdosa. Ditambah pula serentetan nasihat agar Sarip berhenti mencuri, merampok, dan membegal; dan mengikuti jejaknya, yaitu rajin salat, pergi ke langgar, dan mengaji di pondok agar kelak, jika mati, masuk surga. Sarip yang jengkel terhadap kakaknya, yang ternyata juga kikir terhadap ibunya itu, menjawabnya bahwa dia biarlah menjadi ma­ling dan menjadi penghuni neraka, sedangkan kakaknya biarlah tekun beribadat dan kelak, jika mati masuk surga. Sarip pun pergi meninggalkan kakak dan mboknya itu untuk merampok orang kaya.

Seorang kusir delman bernama Paidi adalah seorang pendekar, yang hari itu merasa paling pendekar karena telah dapat mengalahkan Sarip dengan memukulkan tongkat serandang,yaitu kayu penumpang delman dan membuang mayat Sarip ke sungai. Paidi tahu pula bahwa dirinya juga orang kepercayaan Pak Haji, ayah gadis cantik bernama Ning Saropah, dan sadar pula bahwa dirinya adalah anak kyai (ulama) di daerah Dorosmo. Hari itu Paidi ditugasi oleh majikannya untuk menjemput Ning Saropah yang sedang berkeliling menagih hutang dari seorang yang menggunakan uang ayahnya. Setelah berjumpa dengan Ning Saropah, kusir delman Paidi minta izin untuk memberi makan kudanya dan minta maaf terlambat menjemput karena lebih dahulu ia menjemput teledek (wanita penari harga murahan di desa).

Lalu datanglah Sarip, yang setelah menggoda Ning Saropah, segera meminta uang dan hendak merampas gelang perhiasannya. Tampillah Paidi pelindung Ning Saropah. Terjadilah perkelahian seru dan Sarip, setelah terkena pukulan tongkat serandang dari teras kayu kulintang (meranggai) yang telah lama direncam, seketika itu juga mati. Mayatnya dibuang ke sungai oleh Paidi dan sesudah itu mengantar Ning Saropah pulang. 

Ketika Mbok Sarip sedang mencuci pakaian istri Mualim di sungai. Tampaklah mayat Sarip yang sangat dicintainya itu terapung-apung di sungai. Dengan sekali panggil saja sambil mengucap “Sarip, belum waktunya kamu buyung”, maka seketika itu juga Sarip hidup kembali. Maka berceritalah ibunya itu bahwa dahulu ketika Sarip masih dalam kandungannya, ayahnya yang bertapa berpesan jika Sarip lahir supaya dijatuhkan dari para-para yang di bawahnya diletakkan tumbak sapu lidi yang sudah usang sebanyak seribu buah. Lagi pula, bayi Sarip harus disuapi tanah merah separuh dan separuh lagi dimakan ibunya. Dengan begitu, selama ibunya masih hidup, Sarip Tambakyoso tak akan bisa mati asalkan nama Sarip disebut oleh Mbok Sarip. Itulah sebabnya Sarip Tambakyoso selalu berteriak mengumandangkan diri­nya sebagai pendekar tanpa guru. 

Sekarang Sarip yang telah hidup kembali menaruh dendam dan mengancam Paidi untuk dilempari perutnya dengan pisau belati. Sarip berjumpa de­ngan seorang gadis bernama Karsinah, anak pemilik warung kopi, yang sebenarnya kekasih Paidi tetapi juga intim dengan Sarip. Sarip berpesan agar disampaikan kepada Paidi bahwa Sarip akan mengeluarkan isi perut Paidi dengan pisau belatinya. Tibalah saatnya Paidi datang ke warung kopi Pak Kacung, ayah gadis Karsinah. Pesan Sarip disampaikan, tetapi Paidi terheran-heran karena Sarip telah mati dan mayatnya dilempar ke sungai. Tiba-tiba muncullah Sarip yang segera duduk menghadapi Paidi di warung kopi. Setelah saling menyindir dan menantang, kedua pendekar itu berkelahi lagi dan kali ini perut Paidi berhasil ditusuk pisau belati dan mati seketika itu juga. 

Kini oleh pihak penjajah dilakukan pengejaran dan penggerebegan dilakukan terhadap Sarip Tambakyoso dengan mengerahkan polisi dan para lurah desa ke rumah Mbok Sarip. Mbok Sarip ditangkap dan disuruh mengaku menunjukkan rahasia kesaktian Sarip Tambakyoso itu. Mbok Sarip yang tak tahan lagi akan siksaan, akhirnya membukakan rahasia kesaktian Sarip, yaitu harus ditembak dengan peluru perak atau emas. 

Dalam pengejaran, setiap kali Sarip kena tembak terdengar suara Mbok Sarip memanggil nama Sarip, dan Sarip pun hidup dan bangkit melawan serta menyerang musuh-musuhnya. Diketahuilah tentang rahasia Sarip yang sebenarnya dan Mbok Sarip pun ditangkap serta dibungkam mulutnya. Maka Sarip Tambakyoso pun mati terkena tembakan peluru penjajah Belanda.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.103

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Th. 1987 dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s