Hari Jadi Kabupaten Nganjuk


Hari Jadi Kabupaten Nganjuk : 10 APRIL 937.

Kabupaten NganjukBeberapa tesis yang sekaligus merupakan kesimpulan untuk dijadikan landasan berpijak dalam penentuan Hari Jadi Nganjuk.

Ada tiga sumber epigrafis yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk sekarang, yaitu : Prasasti Kinawe, dari Tanjung Kalang, Prasasti Hering, dari Kujon Manis, Warujayeng, dan Prasasti Anjukladang, dari desa Candirejo.

(1), Prasasti Kinawe, merupakan sumber tertulis paling tua yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk, yang memuat nama Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini diumumkan bertepatan dengan tahun masehi, hari Kamis Wage, bulan Nopember 928. Walaupun prasasti ini termasuk sumber tertulis paling tua yang dikeluarkan oleh seorang pejabat tinggi Rake Gunungan Dyah Muatan, bersama ibunya Dyah Bingah, tidak memuat data yang dapat dihubungkan dengan sejarah pemerintah Kabupaten Nganjuk secara langsung. Didalamnya memuat pembebasan desa Kinawe dari pungutan pajak, serta mendapat hak sebagai desa Sima. Didalamnya memuat nama Pu Sindok Sri Isana wirakrama sebagai Rakriyan Mapatih, pada masa pemerintahan Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini tidak mengungkapkan peranan Pu Sindok, sebagai panglima perang yang menyelamatkan serangan dari Sriwijaya, seperti diisyaratkan dalam hipotesa Proff.J.G. de Casparis. (de Casparis, 1958). Atas dasar kenyataan itu prasasti ini tidak dapat dijadikan landasan yang kuat untuk dipilih sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk.

(2)      Prasasti Hering, dari Kujon manis daerah Waruj/yeng, Nganjuk timur. Prasasti ini dikeluarkan pada hari Kamis Wage, 22 Mei 934, oleh Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa, berisi antara lain tentang jual beli tanah sawah.

(3)      Dalam sumber tertulis inipun tidak menyebutkan toponimi yang secara langsung dapat dikaitkan dengan nama Nganjuk, baik sebagai nama wilayah maupun nama pusat pemerintahan yang berhubungan dengan Kabupaten Nganjuk sekarang. Nama Hering, Marganung, Kadangan, Hujung, walaupun nama tersebut mungkin sama dengan Keringan, Ganung, Kandangan dan Ngujung, namun kurang memenuhi kriteria sebagai sumber untuk dijadikan dasar penentukan Hari Jadi Nganjuk.

(4)       Prasasti Anjukladang, dari kompleks reruntuhan Candi Lor, J’ desa Candirejo, merupakan sumber tertulis tertua yang memuat toponimi Anjukladang sebagai satuan teritorial Watek, yang dikepa^1 seorang Samgat dan seorang Rama. Prasasti ini dikeluarkan ole Sri Maharaja Pu Sindok Isanawikrama Dharmmotunggadewa, serta nama para pejabat tinggi kraton maupun pejabat daerah. Prasasti ini memuat desa Anjukladang yang dianugerahi status otonomi atau swatantra serta daerah yang dibebaskan dari para pemungut pajak. Penetapan desa Anjukladang sebagai perdikan, dikaitkan dengan pemeliharaan bangunan suci yang bernama : Sang Hyang Prasada Kabaktyan i Sri Jayamrata i Anjukladang. Disamping itu juga dikaitkan dengan suatu monumen kemenangan, berupa Jayastamba. Prasasti Candi Lor ini dibandingkan dengan prasasti Kinawe dan Hering. memiliki nilai historis dan arkeologis. karena memuat nama desa Anjukladang. yang dalam perkembangan sejarah di daerah itu selama 10 abad masih tetap bertahan, walaupun telah mengalami perubahan ucapan. Namun tidak dapat disangkal. bahwa ada kedekatan yang menunjukkan hubungan yang nyata antara nama Anjukladang merupakan sumber tertulis tertua yang ada. yang menunjukkan kedekatan ucapan dengan nama Nganjuk. Ber- dasarkan data epigrafis itu, tahun penetapan anugrah watek Anjuk­ladang, sebagai desa swatantra, dapat dipilih untuk Hari Jadi Nganjuk. Menurut unsur penanggalannya, maka tanggal 12 bulan Caitra. Krsnapaksa, HA PO SO, bertepatan dengan tahun masehi: 10 April 937, secara lengkap jatuh pada hari SENIN PON, HARI YANG (SADWARA) BENTENG (TRIWARA), WUKU SINTA, 10 APRIL 937. Itulah tanggal yang sesuai dan layak sebagai Hari Jadi Nganjuk.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk. Ngamjuk dan Sejarahnya, Ngnjuk :Keluarga, 1994. hlm. 64-66

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Th. 1996 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s