Legenda Rawa Pening, Kabupaten Tulungagung


Pada zaman dahulu Tulun­gagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulunga­gung, nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening. Konon wilayah Rawa Pening ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong. Bicara tentang Rawa Pening tentunya tidak terlepas den­gan pusaka Kabupaten Tulun­gagung yang bernama Tombak Kiai Upas. Berdasarkan legenda yang ada di masyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening ini disebabkan karena ada seorang anak kecil yang merupakan jelmaan dari naga baru klinthing yang telah dipotong lidahnya oleh ayahnya. Anak kecil tersebut mengadakan sayembara beru­pa barang siapa yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Sebenarnya sayembara tersebut diadakan oleh si anak kecil yang merupakan jelmaan dari Naga Baru Klinthing tadi yang merasa jengkel karena ulah warga sekitar tidak ada yang mau memberinya makan. Dari sekian banyak warga yang mau memberinya bantuan berupa makanan hanyalah seorang nenek-nenek.

Setelah selesai menghabiskan makanan yang diberikan oleh nenek-nenek tersebut si bocah kecil tadi berpesan agar nenek tersebut menyediakan lesung dan entong kayu jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mendengar permintaan anakkecil tersebut sebenarnya ne­nek tua itu merasa bingung karena untuk apa lesung dan entong kayu itu sebab pada waktu itu masih musim kemarau. Namun karena menuruti apa kata hatinya nenek terse­but akhirnya menyiapkan apa saja yang diminta oleh anak kecil tadi.

Sesudah mewanti-wanti ne­nek yang membantunya tadi si anak jelmaan dari Baru Klinting tadi bergegas ke lapagan desa untuk memberi pelajaran war­ga desa yang sombong dan tidak peduli terhadap orang lain. Saat di lapangan tadi anak kecil tadi menancapkan sebatang lidi dan berujar barang siapa yang mampu mencabut lidi tersebut, maka dia boleh mengambil nyawanya. Namun apabila orang yang bersangkutan tidak mampu mencabut lidi, maka orang tersebut haruslah memberikan makanan kepadanya. Akhirnya makanan kian menumpuk banyak kare­na tidak ada satu pun yang mampu mencabutnya. Karena rnelihat banyak kegagalan warga pun merasa marah dan meminta kepada anak kecil tadi untuk mencabut lidi terse­but.

Sebenarnya sebelum men­cabut lidi tersebut anak kecil tadi telah berkata bahwa akan terjadi sesuatuyang buruk apa­bila dia mencabut lidi tersebut. Namun karena amarah telah merasuk di hati para warga, maka tidak ada jalan lain bagi dia selain mencabut lidi tersebut. Ketika lidi tercabut muncullah air mancur pada tempat lidi ditancapkan tadi yang kian lama kian membesar.

Karena tidak mepersiapan akan datangnya banjir, maka semua warga desa tadi meninggal karena tenggelam. Namu kesekian banyak penduduk desa tadi yang selamat adalah nenek tua yang membantu si Baru Klinting nenek tersebut selamat dengan menggunakan lesung sebagai perahunya dan entong kayu sebagai pengayuhnya seperti apa ya katakan oleh Baru Klintin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ZULY  posmo, 740-13 Agustus 2013

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Th. 2013, Tulungagung dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s