Rumah Manusia Wajakensis


Rumah Manusia Wajakensis Tulungagung, Beberapa waktu lalu di Tulungagung tersiar kabar ditemukan sebuah fosil ma­nusia purba yang dipercaya sebagai fosil dari Homo Wajakensis. Diperkirakan berumur ribuan tahun. Tulungagung selatan merupakan pegunungan kapur yang terdapat banyak sekali gua-gua kecil, dan di gua itulah dimungkinkan para manusia purba itu tinggal. Benarkah demikian?

 Berikut jelajah posmo.

Menurut informasi yang berhasil disaring oleh posmo tempat penemuan fo­sil manusia purba tersebut berada di sebuah gua yang bernama Gua Song Gentong. Gua tersebut berada di kawasan Besole Campurdarat. Letak Campurdarat ini berjarak kurang lebih 20 km dari pusat kota. Untuk mencapai lokasi gua ini memang tidaklah mu dah sebab tidak ada penunjuk arah yang menunjukkan dengan pasti lokasi terse­but.

Beruntung je­lajah posmo kali ini ditemani de­ngan sebuah lembaga yang memilik perhatian terhadap peninggalan berupa fosil-fosil yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur. Saat itu posmo berangkat sekitar pukul 08.00 pagi. Saat itu rupanya langit sedang tidak bersahabat sebab sejak matahari membuka mata langit terus-menerus dipenuhi dengan mendung.

Ketika berusaha menemukan lokasi berkali-kali posmo harus bertanya kepada penduduk sebab lokasi di mana ditemu­kan fosil tersebut memang tidak ada petunjuk sama sekali. Infor­masi yang diterima loka­si gua terse­but berada belakang pabrik marmer. Dan tak menunggu lama lokasi tersebut langsung dituju. Dalam bayangan posmo jalan yang untuk menuju lokasi sudah tertata dengan rapi sehingga untuk menjangkau gua terse­but tidaklah sulit.

Namun, ketika sampai di belakang pabrik marmer bay­angan itu hilang sama sekali karena jalanan untuk mencapai gua sangatlah sulit. Apalagi hujan yang mengguyur Tulungagung bagian selatan sejak kemarin membuat jala­nan kian menantang untuk ditaklukkan. Dan karena sulitnya medan akhirnya posmo pun menyerah dan dipaksa berjalan kaki menuju lokasi.

Setelah berjalan kaki selama hampir lima belas menit akhirnya posmo pun sampi di tempat tujuan. Akan tetapi keadaan gua sangatlah berbeda dengan apa yang ada di benak posmo. Sebab gua yang dimaksud sebagian besar telah runtuh karena adanya aktivitas penambangan marmer. Hanya tinggal sebuah gua saja yang tersisa dan hanya menyisakan sebuah gua itu pun tidak terlalu dalam.

Dalam gua hanyalah beberapa meter saja dan jika dilihat memang gua tersebut mirip dengan gua tinggal. Sekilas Gua masih terlihat dengan jelas sisa-sisa penam­bangan marmer serta bekas eskavasi yang dilakukan oleh tim dari UGM beberapa waktu yang lalu, tim memastikan kabar yang diterima bahwa di lokasi tersebut memang banyak terdapat fosil. Posmo dan tim dari Dharma Tyas Project melakukan pencarian di beberapa tempat sekitar Gua Song Gentong. Di beberapa tempat seki­tar gua banyak sekali terdapat fosil-fosil baik itu maupun tumbuhan. Fosil sendiri merupakan sisa-sisa tumbuhan, binatang, mapun manusia yang berasal dari masa silam yang telah terawetkan.

Kebanyakan fosil yang ditemukan di sekitar gua adalah fosil dari binatang laut utamanya kerang. Hal ini selain dimungkinkan bahwa kerang-kerang tersebut merupakan makanan dari manusia purba jenis Homo Wajakensis juga dimungkinkan pula binatang tersebut berasal tidak jauh dari wilayah tersebut.

Memang terdengar aneh sebab wilayah tersebut adalah daerah pegunungan gamping sehingga tidaklah mungkin ada binatang laut ataupun air yang mampu hidup di daerah tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya tidak­lah dapat mengesampingkan bagaimana wajah Tulunga­gung tempo dulu.

Pada zaman dahulu Tulun­gagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulunga­gung, nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening. Konon wilayah Rawa Pening ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong. Bicara tentang Rawa Pening tentunya tidak terlepas den­gan pusaka Kabupaten Tulun­gagung yang bernama Tombak Kiai Upas. Berdasarkan legenda masyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening.

Namun Rawa berangsur-angsur kering dan hingga saat ini Rawa Pening telah hilang sama sekali. Hilangnya Rawa Pening disebabkan oleh dibangunnya Waduk Wonorejo yang menampung aliran air dari brantas serta dibukanya terowongan niyama buat mengalirkan rawa-rawa yang ada di Tulungagung ke laut selatan. Tentu saja tujuan dari pembangunan waduk dan pembuatan Rawa Pening ini untuk membebaskan wilayah Tulungagung dari bencana yang datang setiap tahun sejak diresmikannya dan terowongan ini Tulungagung berhasil terbebas dari banjir. •ZULY

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: posmo, 740-13 Agustus 2013

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 2013, Tulungagung dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s