Sejarah Sekolah Lanjutan di Jawa Timur


Politik pendidikan yang dijalankan pada masa itu tidak lain hanya untuk mempersiapkan anak didik menjadi pegawai administrasi di kantor pemerintahan atau di perusahaan-perusahaan Belanda. Karena itu hanya sampai pada Sekolah Dasar Eropa. Tingkat kepandaiannva belum dapat menduduki jabatan yang lebih baik di pemerintahan. Sudah barang tentu jabatan yang lebih tinggi dari lulusan atau tamatan Sekolah Dasar Eropa masih di duduki oleh tenaga dari Negari Belanda yang pendidikannya lebih tinggi.

Selain pertimbangan itu pemerintah memperhatikan tindak lanjut dari pendidik yang telah ada agar modernisasi di bidang pendidikan segera dapat tercapai. Perhatian pemerintah itu di- dasarkan adanya beberapa usul dan desakan dari orang-orang Belanda sendiri untuk mendirikan sekolah lanjutan. Akan tetapi pelaksanaannya masih selalu mengalami kegagalan. Baru kemudian setelah Fransen Van der Putte dari golongan liberal tampil di dalam pemerintahan di Negeri Belanda mempunyai niat melak- sanakan pendidikannya bercorak liberal.

Mulai saat itu pendidikan yang diterapkan di Indonesia mengalami perluasan. Bukan hanya terbatas pada bangsa Belanda saja, tetapi juga untuk orang-orang bumiputera Fransen Vander Putte dikenal sebagai seorang tokoh liberal dan yang memperkenalkan pendidikan liberal di Indonesia. Karena itu menurut pen- dapatnya pengajaran untuk anak-anak bumiputera harus ada dan diperiuas. Tidak hanya terbatas pada usaha menyiapkan calon-calon pegawai pemerintah saja, tetapi seperti halnya di Nederland, sekolah juga ditujukan untuk memajukan penduduk. Pada masa itu di Jawa terdapat dua lapisan masyarakat yang masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda, baik dalam politik, ekonomi, sosial, dan kulturil. Perbedaan itulah yang mendorong mereka mempunyai sikap berlainan terhadap pendi­dikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Terlepas dari kemauan baik golongan liberal itu, mayoritas merintangi dan meragukan adanya modernisasi di Indonesia. Hal demikian tentu saja akan menghambat pula kemajuan pendi­dikan bagi anak-anak Belanda atau mereka yang dilahirkan di Indonesia. Akibatnya menimbulkan hambatan di dalam mempersiapkan pegawai negeri yang berasal dari keturunan Belanda di Indonesia untuk menduduki jabatan menengah apalagi jabatan yang tinggi. Nasib pendidikan lanjutan masih merupakan problem. Lebih-lebih pendidikan untuk anak-anak bumiputera betul- betul masih jauh dari perhatian pemerintah. Di antara orang-orang Belanda yang mempunyai minat di bidang pendidikan untuk bangsa Indonesia adalah Fransen van der Putie dan Baron van Hoevell. Baron van Hoevell adalah seorang pendeta yang bukan saja aktif di bidang keagamaan, tetapi ia juga berusaha meningkatkan tingkat hidup bangsa Indonesia melalui pendidikan. Menanggapi situasi yang wajar dalam konteknya dengan perkem- bangan imperialisme, ia menunjukan sikap tidak senang terhadap Pemerintah Belanda. Hasil sementara dari gerakkannya membawa perbaikan dan perubahan-perubahan dalam penyelenggaraan pengajaran menengah.

Sesudah mengalami proses yang berlarut-larut, akhimya Raja Willem II memberi kuasa untuk mendirikan Sekolah Menengah. Sekolah baru dibuka pada tahun 1860 dengan nama Gymnasium atau Sekolah Menengah. Sekolah tersebut merupakan sekolah menengah yang pertama di Indonesia dengan mengambil tempat di Batavia, yaitu yang terkenal dengan nama Gymnasium Wil­lem III. Pendidikan tersebut hanya diperuntukkan mendidik anak-anak orang Belanda. Pendirian sekolah menengah (Gym­nasium) akhirnya juga meluas sampai Surabaya, yang baru dibuka pada tahun 1875.

Gymnasium di Surabaya kemudian diubah namanya menja­di Hogere Burgere School (HBS). Sekolah inilah yang kemu­dian dapat menghasilkan seorang presiden dan dua menteri luar negeri Republik Indonesia Sebelum menempati gedung tetapnya yang sekarang yaitu di jalan Wijayakusuma, HBS bertempat di Instituut Buijs. Gedung tersebut terletak di Jalan Baliwerti dekat Alun-Alun Contong. Sekarang gedung itu dipakai oleh ITS (Institut Teknologi Surabaya). Pada tahun 1881 HBS dipin- dah ke sebuah gedung bekas rumah kediaman eks Bupati Sura­baya. Sekarang Kantor Pos Besar Surabaya yang terletak antara Jembatan Semut dan Mesjid Kemayoran. Baru pada tahun 1923 HBS Surabaya dipindah ke gedung yang dibangun di bagian daerah elite Belanda di Ketabang. Lama pendidikan HBS adalah lima tahun. Setelah kelas empat diadakan pembagian, yaitu cle wiskundige ufdeeling (bagian ilmu pasti-alam) dan de luerairt? ufdeeling (bagian sastra) di mana tidak banyak diajarkan ilmu- ilmu eksakta tetapi lebih banyak diajarkan sastra dan kebudc- yaan terniasuk bahasa Griek dan Latin.32) Lulusan HBS dapat diharapkan masuk Perguruan Tinggi. baik yang diselenggarakan di Negeri Belanda maupun di Indonesia scndiri seperti yang uda di Bandung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 1986 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sejarah Sekolah Lanjutan di Jawa Timur

  1. Di Surabaya tidak ada perguruan tinggi yang bernama Institut Teknologi Surabaya. Mohon diperiksa kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s