Tradisi Lamaran di Kabupaten Lamongan


Istilah yang berlaku di daerah Lamongan berumah tangga adalah laki-rabi Bahwa wanita membutuhkan laki-laki, dan pria membutuhkan rabi. Maka dari itu wanita dan pria melaksanakan laki-rabi agar mempunyai keturunan. Menurut istilah Lamongan tidak ada wanita yang rabi, tetapi wanita yang dirabeni atau dirabi, atau dinikahi. Untuk dapat mendapatkan jodoh, karena pada jaman dahulu wanita jarang keluar rumah dan pergaulannya terbatas, pada umumnya ada yang bertindak sebagai perantara atau mak jomlang yang di Lamongan diistilahkan sebagai jalciram (Wawancara dengan Priyo Utomo, 15 Juni 2003).

Dalam kehidupan perkawinan, suami maupun isteri seharusnya dapat memahami arti istilah-istilah yang berkaitan dengan perkawinan. Selanjutnya setelah memahami diharapkan dapat melaksanakan maksud-maksud yang tercantum didalamnya. Istilah-istilah tersebut menurut Damardjati Supadjar (1985: 202-203) adalah:

1, Laki-rabi. Kata laki adalah kata majemuk, yang berasal dari kata lara, yang artinya terhormat, dan kata ki, artinya lelaki. Jadi kata laki, artinya orang lelaki yang terhormat. Mak- sudnya bagi isteri di seluruh dunia ini hanya ada satu orang lelaki saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji), yaitu suaminya Kata rabi, juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ra yang artinya terhormat, dan bi yang artinya perempuan. Jadi kata rcibi artinya orang perempuan yang terhormat. Maksudnya bagi suami di seluruh dunia ini hanya ada seorang perempuan saja yang terhormat (yang terbaik dan terpuji) yaitu isterinya.

2. Jodho. Kata jodho juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata jo =ji (siji) dan dho = dua. Maksudnya satu jiwanya tetapi dua orangnya, yaitu suami dan isteri yang keduanya menuju satu cita-cita yaitu kebahagiaan keluarga.

Tradisi lamaran di daerah Lamongan, wanita yang melamar pria. Keluarga wanita yang melamar dengan membawa buah tangan bahan makanan dan kue yang bersifat rekat. Tradisi wanita melamar pria di daerah Lamongan karena terpengaruh oleh adanya kejadian pada abad ke 17, yaitu lamaran putri Andansari dan Andanwangi. Keduanya adalah putri Adipati Wirasaba (sekarang Kertosono), yang melamar Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris, kedua putra Bupati Lamongan ketiga itu, yaitu Raden Panji Puspokusuma (Wawancara dengan Suharjo, 22 Juni 2003; Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Adat lamaran ini sampai sekarang masih tetap dipegang teguh masyarakat di 11 kecamatan Kabupaten Lamongan, yaitu: Kecamatan Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembang bahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagaian Kecamatan Kota. Tetapi daerah-daerah lain di Kabupaten Lamongan (16 kecamatan) sudah mulai luntur. Terbukti bahwa gadis Lamongan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, terutama yang mengenyam pendidikan di kota-kota besar, ada kecenderungan malu atau merasa gengsinya turun bila melakukan tradisi lamaran ini. Selain sudah enggan dijodohkan oleh orangtuanya, juga karena mereka terpengaruh tradisi daerah lain setelah mereka mengetahui bahwa secara umum di daerah lain tradisi lamaran dilakukan oleh pihak pria kepada pihak wanita. Dan mereka umumnya sudah mengenal pacaran dengan teman kuliah yang berasal dari daerah di luar Lamongan (Wawancara dengan Suyari, 21 Juli 2003; dan Mbah Arso, 23 Juli 2003).

Jalan tengah yang bijaksana ditempuh oleh gadis dan jejaka Lamongan yang telah berpendidikan tinggi, yaitu sebelum memutuskan pihak mana yang harus melaksanakan lamaran, antara kedua belah pihak mengadakan kesepakatan terlebih dahulu untuk menentukan keluarga mana yang harus melamar. Setelah terjadi kata sepakat, baru kedua pihak keluarga melaksanakan acara lamaran sesuai hasil kesepakatan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan hasil kesepakatan mereka bahwa pihak wanita yang harus melamar sebagai penghormatan kepada tradisi daerah kelahiran mereka (Wawancara dengan Mbah Arso, 15 Juli 2003).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Seni Budaya, Th. 2006 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tradisi Lamaran di Kabupaten Lamongan

  1. Dwi kartika berkata:

    Mohon maaf boleh tanya, itu narasumbernya dari mana desa dan kecamatan mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s