Adipati Sendang sedayu


 Ki Pitrang Bergelar Adipati Sendang sedayu, Serat Kuno Babad Majapahit dan Para Wali (33)

Pangeran Sendang dan istri pergi untuk menempati daerah kekuasaan pemberian Adipati Blambangan. Warga bersukacita menyambutnya bak pahlawan perang. Upacara penyambutan di alun-alun pun digelar dengan mementaskan berbagai kesenian rakyat.

ADA sebuah tamsil aneh yang terjadi dalam kisah Empu Supa, yakni tidak selamanya orang berbuat salah berbuah petaka. Setidaknya itulah yang ter- sirat dalam Serat Babat Majapahit dan Para Wali dalam cerita Empu Supa saat mencuri Keris Sengkelat dari Adipati Blambangan. Dengan kelicikannya, dirinya bisa nyusup ke dalam kerajaan di ujung timur Pulau Jawa itu tanpa mengundang syakwasangka dari para prajurit Blam­bangan.

Bahkan sang penguasa sang Adipati Blambangan pun bisa dikelabuhinya dengan cara dibuatkan Keris Sengkelat palsu, untuk selanjutnya yang asli diambilnya. Anehnya, sang Adipati tak merasa kalau dirinya dikelabuhi oleh seorang empu sakti itu. Malah sebagai bebungah, Sang Adipati memberi Empu Supa gelar baru bernama Ki Pitrang dan menjabat sebagai Pangeran Sendang, yang artinya penguasa tunggal di tlatah Sendhangsedayu.

Selanjutnya Ki Pitrang dikawinkan dengan putri sang Adipati, bernama Sugiyah. Namun jabatan dan istri itu sebenarnya diraihnya tanpa harus bersusah payah. Itu semua dilaluinya seperti sebuah mimpi dan hanya membalikkan telapak tangan. Inilah yang membuat hati Empu Supa menjadi gundah gulana. Apalagi ia adalah seorang empu sehingga dirinya harus bersikap kesatria. Tetapi apa yang dilakukannya di Blam­bangan terasa sebagai tipudaya sehingga sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Nah, dalam suasana pikiran yang gamang, ia terlihat merenung dan berkata dalam hati. “Kalau saya berkata jujur kepada Adipati Blambangan tentang semuanya, pastinya aku akan mendapatkan hukuman,” resah hati Empu Supa.

Semalaman ia terpekur dalam galau. Hanya seorang diri dalam kesunyian alam. Malam pun makin cepat berlari. Bulan sabit di langit menampakkan sinarnya yang temaram, isyaratkan bari segera beranjak pagi. Empu Supa tetap duduk bersila di tikar usang, depan surau tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru, Sendangsedhayu.

Tiba-tiba seekor burung hantu melintas di atas kepalanya. Suara kepak sayapnya membuyarkan lamunananya. “Hemm, isyarat apa ini,” gumam Empu Supa sembari mendongak ke atas. Na­mun burung itu sudah hilang di keremangan malam. Mata Empu Supa hanya bisa menangkap goyangan dahan pohon so- nokeling yang tak jauh dari tempatnya bersila. Dirinya meyakini, jika ada bu­rung hantu atau burung gagak terbang di tengah malam, akan terjadi sesuatu di luar jangkauan nalar manusia.

Sadar dirinya berada dalam bahaya, Empu Supa berdiri dari duduknya, berjalan ke arah surau, bersiap menjalankan salat malam. Usai salat, ahli pembuat pusaka ini bertafakur, mencoba kembali mengurai perjalanan hidupnya hingga dirinya sampai berada di Sendhangse­dayu. Setelah resmi mempersunting Sugi­yah, nama samarannya Ki Pitrang oleh Adipati Blambangan diganti dengan Pangeran Sendhang. Setelah itu, kedua mempelai, dari Blambangan menuju ke Sendhangsedayu. Nah, demi mendengar akan segera datang pangeran sarimbit (berserta istri) masyarakat desa di lereng gunung itu tak putus membicarakannya siang malam.

Di sawah, pos ronda, sampai di pasar-pasar. Mereka percaya, sang pan­geran akan memerintah wilayah desa yang subur itu dengan penuh kearifan. Oleh sebab itu, kedatangan Pangeran Sendhang dan istrinya benar-benar di- subyo-subyo (dielu-elukan) oleh pen- duduk.

Di setiap pojok kampung digelar pertunjukan kesenian hingga suasana kawasan Pedukuhan Sedhayu menjadi rejo (ramai). Melihat antusias warga yang begitu tinggi, hati Pangeran Sen­dang tak kuasa menyembunyikan rasa bahagiannya, demikian halnya dengan sang istri, Sugiyah. Ketika pesta telah usai dan masyarakat kembali pada kehidupan aslinya pergi ke sawah, pasar, dan ke surau ketika menjelang beduk magrib, hati Pangeran Sendhang kem­bali gundah.

Sebenarnya hati kecilnya tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Namun ia tak kuasa menolak, apalagi mangkir dengan cara tinggal glanggang colong playu (memilih pergi meninggalkan tanggung jawab besar yang dibebankan kepadanya). Sekali lagi Empu Supa tak kuasa menjawabnya. Sebagai empu kondang dirinya merasa tak bisa men­gurai benang kusut yang sedang membelit pikirannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: EDY WINARTO: posmo, EDISI 550, 2 Desember 2009, hlm. 32

 

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Legenda, Th. 2009 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s