Panembahan Ronggo Sukawati


Diceriterakanlah, bahwa Sukawati adalah raja Pamekasan yang menjalankan Pemerintahan penuh dengan kebijaksanaan. Selain dari pada itu, pribadinya memang memiliki sifat kesatria yang dapat dibanggakan, misalnya keberanian karena benar, kejujuran, keadilan dan kesopanan.

Selain dari itu ia tidak suka memperluas daerahnya dengan daerah kera­jaan lain, tctapi sebaliknya pula ia tidak sudi dicampuri oleh fihak lain didalam menjalankan pemerintahan. Pada suatu waktu, Sukawati baru saja dilantik sebagai raja Pamekasan, menggantikan ayahnya, datanglah seseorang yang mempersembahkan satu landian keris. Keesokan harinya, orang lain lagi datang mempersembahkan sebuah rangka keris dan terakhir, seorang tamu lainnya datang dengan membawakan isi keris. Sesudah itu Sukawati menyuruh seorang ahli keris untuk memasang mempersatukan perkakas perkakas keris yang ia terima dari orang- orang itu. Ternyata cocok, tidak usah dirobah lagi. la lalu memberi narna terhadap keris tersebut, ialah ,,Joko piturun”. Diceriterakan selanjutnja, bahwa pada suatu saat, orang  orang Bali datang menyerang daerah Sampang dan Sumenep.

Di Sumenep Pangeran Lor I meninggal dunia dalam pertempuran dan juga banyak pembesar – pembesar dari Sampang yang gugur. Setelah orang – orang Bali merasa izlah menang, mereka terus menyerang daerah Pamekasan. Pasukan dari Bali itu disambut sendiri oleh Sukawati dipebatasan kota Pamekasan ialah di Jungcangcang. Timbullah pertempuran yang hebat ditempat itu, tetapi tidak antara lama pasukan dari Bali hancur lebur, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun dari orang – orang bali yang dapat menyelamatkan diri. Dengan demikian, kedudukan Sukawati makin kuat dan namanya makin terkenal diseluruh Madura. Diceriterakan pula, bahwa dalam zaman kerajaan Sukawati pernah terjadi dua tahun lamanya daerah Pamekasan tidak ada hudjan turun. Rakyat sangat menderita, karena tidak dapat bercocok tanam dan tim­bullah penyakit busung lapar. Pada suatu malam Sukawati bermimpi, bah­wa tidak  jauh dari kota Pamekasan didaerah hutan dan rawa rawa bertempat tinggal seorang wali yang tidak mempunyai rumah, siang malam ia berselimutkan angin, beratapkan langit. Keesokan harinya Sukawati terus memerintahkan patihnya untuk mencari orang itu. Pepatih beserta beberapa Menteri terus berangkat mencari apa yang telah dipesan oleh rajanja. Ditempat rawa – rawa dan hutan, kelihatan banyak pohon yang telah tumbang. Siapakah kiranya yang menebang pohon itu?

Setelah dicari kian kemari, dijumpainya hanya seorang saja yang mene­bang pohon. Sewaktu ditanyakan, siapakah namanya, maka dijawab bah­wa ia bernama Kiyahi Agung Raba. Patih Pamekasan segera pulang dan menceriterakan segala sesuatunya kepada rajanja. Setelah Sukawati mendengar laporan tersebut, ia segera memerintahkan kepada Patih dan Menteri -Menterinja, supaya mereka menggerakkan tenaga rakyat untuk mendirikan rumah bagi wali tersebut (Kiyahi Agung Raba). Setelah rumah itu selesai dan ditempati oleh Kijahi Agung Raba, maka hujan segera turun dan orang – orang Pamekasan sangat bergembira dan berlomba-lomba berangkat untuk bercocok tanam.

Peristiwa lain semasa pemerintahan Ronggo Sukawati ialah pada suatu saat Panembahan Lemahduwur, Arosbaya datang ke Pamekasan bersama- sama dengan Menteri -menterinya untuk keperluan bersilaturrachmi. Sukawati menerima dengan cukup ramah tamah atas kunjungan Lemahduwur. Sete­lah beberapa lama berselang, Lemahduwur berkenan menangkap ikan dari rawa si Ko’ol dekat kota Pamekasan. Semua Menterinya dengan membuka pakaian luar disuruh melompat kedalam rawa untuk menangkap ikan. Su­kawati menyuruh Menteri-menterinya untuk membantu, dan Menteri dari Pameka­san itu tidak membuka pakaiannya sama sekali dan terjun kedalam air.

Entah karena apa, Lemahduwur setelah melihat peristiwa itu tanpa minta diri, terus pulang dengan diikuti oleh Menteri -menterinja. Sukawati setelah meli­hat tamunya pulang tanpa pamit, terus mengejarnya. Sesampainya di Sam­pang ia menanyakan kepada saudaranya, ialah Adipati Sampang, kemanakah tamunya pergi. Ia mendapat jawaban bahwa tamunya terus menuju Blega dan ditepi jalan dikampung Larangan tamunya itu berhenti sebentar menyandar disebuah pohon. Sukawati menghunus keris Jokopiturun dan ditusukkan kepada pohon kaju itu, dan ia terus kembali ke Pameka­san. Selang beberapa hari lamanya, Sukawati menerima surat dari isterinya Lemahduwur Arosbaya, bahwa suaminya meninggal dunia karena “bisul besar dipinggangnya. Setelah membaca berita itu, Sukawati marah pada dirinya dan diambilnja keris Jokopiturun terus dilemparkan kerawa si Ko’ol. Setelah keris itu dibuang, kedengaran suara : „Seumpama keris Jokopi­turun tidak dibuang, Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”. Setelah Sukawati mendengar suara itu, ia merasa sangat menyesal dan memerintahkan Menteri -menterinja mencari kerisnya didalam rawa- rawa . Tetapi sayang, keris itu tidak dapat diketemukan kembali.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 44-46

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Madura, Pamekasan, Th. 1971 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s