Kusbini, Kabupaten Mojokerto


1 Januari 1910, Kusbini lahirdi  desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya bemama Koesnio seorang manteri kehutanan (bosch hoofsiner boswessen), sedangkan lbunya bersama Moesinah asal Trenggalek, Jawa Timur. Sebagai seorang anak manteri kehutanan, masa kecil Kusbini bersama keluarganya sering berpindah-pindah tempat dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain yang terletak di kawasan hutan di Pojok, Kertosono, caruban, dan saradan Madiun Karena pengaruh lingkungannya pada masa kecil itulah yang menyebabkan Kusbini begitu hirau dengan nasib sesamanya, nasib bangsanya yang tertindas oleh kaum penjajah. Kusbini melihat sendiri bagaiman kesengsaraan hidup yang dialami bangsanya disekitar tempat tinggalnya.Keadaan demikian menimbulkan rasa kebangsaan dalam dirinya.

Tahun 1926, kala Kusbini sedang bersekolah di HIS, di Jombang Rasa kebangsaannya berkembang lagi pada waktu la melanjutkan pendidikannya di MULO dan bahkan di sekolah dagang S de Senerpont Domis di Surabaya, di mana Kusbini banyak berkenalan dengan rakyat biasa sampai kepada para cendikiawan yang aktif digaris depan. Akhirnya Kusbini menemukan jalan yang cocok baginya untuk menuangkan semangat perjuangannya melalui dunia musik yang memang ia cintai sejak kecil.Pada mulanya Kusbini belajar musik sendiri tanpa guru (autodi dakt) bersama dengan kakaknya Kusbini Ia bermain musik dalam orkes “YISTO” (Yong Indisce Stnjk Tekkel Orkest) di Surabaya dan mengumpulkan lagu-lagu keroncong serta stambul guna kepentingan orkesnya.

Tahun 1927—1930 Kusbini baru mengikuti pendidikan musik umum (Algemene Muziekleer) pada sekolah musik “Apollo” di Malang di bawah pimpinan Kitty Ament dan M. Mirop. Ia belajar bermain biola + 3 tahun lamanya.

Tahun 1935—1939,nama Kusbini mulai dikenal sebagai penyanyi dan pemain biola pada siaran radio “NIROM” (Nederlands Indisce Radio Omreep), memimpm studio Orkes Surabaya (SOS) merangkap penyanyi keroncong bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami. Di samping itu Kusbini juga merangkap pembantu penyiar “CIRVO” (Chines Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oest java) dan bekeija juga sebagai penggubah lagu di pabrik piringan hitam “Hoo Sun Hoo”.

Tahun 1941,bersama dengan pertumbuhan perfilman di Indonesia, Kusbini bekerja pada Majestic Film Company yang berpusat di Malang di bawah pimpinan Freed Young. Dan studio dan piringan hitam Kusbini beranjak ke layar putih. karena kegiatan dan pembuatan film oleh Ma­jestic Film Company banyak dilakukan di Jakarta, maka Kusbini pindah ke Jakarta.

Di sini Kusbini banyak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan menunjukan prestasinya. Kemudian dia juga mencipta lagu-lagu khusus untuk cerita-centa film pada waktu itu, antara lain dikenal dengan cerita “Jantung Hati” dan Air Mata Ibu” dengan syair Nyoo Cheng Seng (Monsieur d’Amor). Di sinilah ia menciptakan lagu langgam keroncong “Jantung Hati” yang kemudian diorkestasikan dengan 60 orang pemain yang dipimpin oleh Kusbini sendiri. Dengan lagu Kusbini ingin mempertebal semangat nasional yang dipegangnya dengan teguh, karena sejak awal memang telah diyakininya sebagai sumbangsih dalam ikut mempeijuangkan nasib bangsanya yang teijajah. Lahirlah lagu keroncongnya,” Kewajiban Manusia”, lagu yang syairnya benntikan ajakan menggalang persatuan bangsa.

Di zaman Jepang Kusbini tetap bekega di Jakarta yaitu pada siaran radio (Hoso Kenn Kyoku) yang dipimpin oleh Utoyo Ramelan SH Bersama dengan Ibu Sud, Kusbini mencipta lagu-lagu yang membangkitkan gairah, semangat dan kesadaran anak-anak Indonesia yang mencita-citakan kebebasan tanah air dan bangsanya. Kedua tokoh ini berhasil dengan baik. Pada kesempatan ini Kusbini mencipta lagu- lagu Indonesia yang dimainkan oleh orkes pimpinannya sendiri Di samping lagu Indonesia.

Beberapa lagu yang diciptakannya antara lainBagimu Negeri (1942), Bersatu (1942), Nyanyian Bunga (1944), Cinta Tanah Air (1945), Pembangunan (1945), dan lain-lain dari sekian banyak lagu kanak-kanak ciptaan Kusbini, Lagu Bagimu Negeri terpilih menjadi lagu wajib di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai tingkat perguruan tinggi dan juga sudah sejak lama Lagu Bagimu Negeri ini dialunkan di RRI maupun TVRI sebagai lagu penutup siaran. Lagu Bagimu Negeriinilah karya terkenal dari Kusbini

Tahun 1942 1945,lagu-lagu yang diciptakan Kusbini dimaksudkan untuk mengimbangi lagu-lagu Jepang yang membanjir ke Inddonesia. karena itu lagu-lagunya jelas mengandung semangat perjuangan nasional.Sebagai ahli musik Kusbini diakui oleh masyarakat luas, sehingga Bung Karno mengangkatnya sebagai anggota Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama dengan Ki Hadjar Dewantara, Muh. Yamin,  Ibu Sud, C. Simanjutak, Sanusi Pane dan lain-lain dibawah pimpinan Bung Karno. Pekerjaannya dimulai di zaman Jepang, kemudian dilanjutkan di zaman kemerdekaan di Yogyakarta sampai sekarang. Sebelum ke Yogyakarta ia bekeija pada ALRI di Lawang Jawa Timur dan kemudian pada Badan Penerima Kesatria I (Angkatan Darat) di Madiun, semuanya sebagai ahli musik.

Di Yogyakarta Kusbini berkarya terus, mencatat berbagai lagu, termasuk lagu-lagu daerah, mengaransir dan mencipta lagu serta bekeija sama dengan pengarang yang lain. Bertolak dari ciptaanva keroncong, menghilangkan ciri-cirinya yang kampungan, Si Buaya keroncong itu telah berhasil mengumpulkan berbagai lagu untuk dipelajari, diteliti dan dicatat kemudian menjadi “dokumentasi keroncong” yang berharga untuk bahan sejarah musik Indonesia.

1 April 1943, berdirinya Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shideshe), yang berkantor di Jalan Noordewijk (sekarang Jalan Ir. H. Djuanda) Jakarta, Kusbini terpilih sebagai wakil ketua Bagian Musik.

19 Maret 1943, berdirinya PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Bung Karno, para seniman dan seniwati mendapat peluang yang lebih luas Dengan pergaulan yang erat antara seniman-seniman, sastrawan dan pimpinan-pimpinan bangsa, Kusbini banyak mendapat ilmu dan gagasan-gagasan di dalam menciptakan lagu-lagunya. Ia tidak saja mencipta lagu dengan syair, tetapi tidak sedikit pula syairnya ditulis oleh kawan-kawan seniman dan sastrawan, antara lain Padi Menguning (syair Armin Pane), Ronce melati (syair Akhdiat kartamihardja), Laguku atau Lagu Kasihku (syair Kardjomuljo) dan Suka Rayu, Smara Turun, Ratapan Ibu (syair Kama Djaya).

Tahun1953, menulis buku Kamus Musik, penerbit, UP. Indonesia, Yogyakarta.

Tahun 1963,  Tujuh Lagu Wajib, terbitan PN Balai Pustaka.

Tahun 1965, Merdu dan Gembira, penerbit PT. Pembangunan Jakarta.

Tahun 1965, Lagu Wajib, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta.

17 Agustus 1972, buah ketekunan dan keahlian Kusbini dalam hal keroncong telah diakui terbukti dengan diperolehnya Anugrah Seni dari Departemen P dan K.

Tahun 1973, sebagai pegawai pada Departemen P dan K, menjabat sebagai kepala Seksi Seni Suara Urusan pension, khusus di bidang keroncong.

Tahun 1975, terlah terbit buku Indonesia Yang Kucinta. penghimpun M. Pardosi Siagian, penerbit Penyebar Musik Indonesia, Yogyakarta.

Januari 1977, memperoleh Piagam penghargaan atas segala bantuan dan pengabdiannva pada Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dan ditandatangani oleh Drs Sunaijo M.Sc.

Tahun 1978, Kusbini telah menulis naskah Keroncong Indonesia : Sejarah dan Perkembangannva yang disusun sejak tahun 1924 sampai tahun 1978.

Tahun 1978, Mengenai lagu “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini ini pernah terjadi kesalahpahaman di dalam masyarakat baik mengenai notasinya, maupun judulnya, pernah dihebohkan tentang penciptanya antara Kusbini atau J. Semedi. Namun demikian Kusbini tetap bertahan berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1912 yang tetap masih berlaku sampai sekarang, maka jelas Kusbinilah yang memiliki “Hak Cipta” atas lagu “Bagimu Negeri” (1942) dan juga lagu- lagu lain ciptaannya.

4 April 1979, memperoleh Piagam penghargaan atas pengabdiannva pada bidang seni suara keroncong dalam rangka Ketahanan Nasional dikeluarkan oleh Panglima Komando Wilayah Pertahanan II, Letjen Widodo.

Tahun 1979 UP (Urusan Penerbitan) Indonesia Yogyakarta mulai menerbitkan himpunan lagu- lagu bersama kawan-kawan.

Pada usia lanjut ini Kusbini tidak lagi tampak mencipta lagu-lagu baru, tetapi masih tetap bekerja menyusun berbagai sistem dan metode bermain musik disanggar Olah Seni Indonesia. Ia telah menemukan sistemnya sendiri dalam bermain gitar dan biola dan diajarkan di sanggamya dengan berhasil. Ia juga menekuni sistem bermain kelintang dan angklung untuk tenaga pengajar maupun untuk para murid-muridnya.

Tahun 1951, Kusbini mendirikan Sanggar Olah Seni Indonesia (OSI), dalam masa pensiunnyaKusbini tidak pernah lelah atau capek karena musik, tanpa memaksakan diri Kusbini masih tetap tegar membimbing murid-muridnya di bidang pendidikan musik di sanggar OSI di rumahnya sendiri yang sederhana di Jalan Pengok Yogyakarta.

40 tahun di sana Kusbini bersama istrinva tercinta bernama Ngadiyem dan sebelas orang putra-putrinya menerapkan konsep pendidikan musik yang aartistik, idiil, religis, histens dan pelitis Dengan prinsip itu pendidikan-pendidikan tidak hanva diarahkan untuk menjadi instrumentalis atau vokalis saja, tetapi juga ke arah bangsa yang kuat dalam membawakan kebudayaannya.

Banyak sudah yang telah diperbuat oleh si buaya keroncong ini, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk meningkatkan citra seni di Indonesia. Dari membangkitkan semangat patnotisme, cinta tanah air, sampai kepada tanggung jawab yang besar dalam mempertahankan mutu dan nilai kepribadian Indonesia dalam budaya seni musik kita.

Hasil dari gemblengan Kusbini melalui sanggar OSI-nya, lahirlah seniman-seniman musik yang tangguh dan berpengaruh, antara lain MP. Siagian, Ketua Komponis Nasional Indonesia, penyanyi seriosa Prawaningrum, penyanyi keroncong Subardjo HS dan banyak lagi yang lain-lain.

Daftar Pustaka

1.          Kamajaya, Sejarah Bagimu Negeri, Lagu Nasional, Penerbit U.P Indonesia,Yogyakarta, 1979.

2.          Kusbini, 16 Lagu wajib, Penerbit U.P Indonesia, Yogyakarta, 1966.

3.          Kamajaya, Riwayat Hidup Kusbini, U.P Indonesia, Yogyakarta, 1965. 4 Harian Kompas Minggu, 30 Desember 1979, Kusbini.

4.          Dibukukan, Siapa Pencipta Lagu Bagimu Negeri, Sinar Harapan Minggu, 8 April 1979.

5.          Tim Penulis, Butet Kartaredjasa dkk, 33 Profil Bu day a wan Indonesia. Penerbit Direktorat Televisi c/q Televisi RI Stasiun Yogyakarta, PT. Pustaka Sinar Harapan, PT. MTU Harian Suara Pembaharuan, PT. Gramedia-Devisi Penerbitan Buku, Percetakan PT. Intermasa, Jakarta. 1990.

6.          S. Sumardi, Drs. Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud) karya dan pengabdiannva, Depdikbud, Ditjarahnitra, Proyekl SDN, Jakarta, 1984.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 159-164

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Mojokerto, Seniman, Th. 1994, Tokoh dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s