Ny. Djohar Insiyah Suharso


11 Desember 1920, Djohar Insiyah lahir di Ngawi, Ia adalah puteri dr. R. Agusdjam yang. Ibunya bernama RA Sudjarah yang berasal dari Magelang. R. Agusdjam adalah lulusan Indisch Art STOVIA Batavia tahun 1913 ia mula-mula bertugas di RS Tepra Plentungan Kendal kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Mata di Ngawi.

Djohar Insiyah adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara,hubungan Djohar dengan orang tua dan saudara-saudaranya tampak serasi dan bahagia. Sebagai kanak-kanak ia hidup senang dan berkecukupan. Mereka tujuh orang bersaudara hidup rukun dibawah asuhan orang tua yang disegani masyarakat Di samping sekolah mereka diharuskan belajar mengaji dengan mendatangkan seorang guru wanita. Dalam waktu dua tahun Djohar sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Tahun 1925, Djohar mulai masuk sekolah saat itu ia berumur empat setengah tahun. Ia masuk Frobelschool (SekolahTaman Kanak-kanak) di Susteran Kotholik Pontianak.

Tahun 1926 dalam usia lima setengah tahun ia pindah ke Europese Lagere School (ELS). Ia senang belajar ilmu bumi dan sejarah di samping pelajaran kepandaian puteri. Setamat E.L.S. Djohar masuk Van Deventer School di Semarang pada tahun 1934. Sekolah ini mendidik gadis-gadis menjadi guru sekolah kepandaian putri dan guru sekolah Taman Kanak-Kanak. Di sekolah Djohar menjadi kapten kelas baik dalam belajar maupun olahraga. Ia juga gemar membaca buku-buku di perpustakaan sekolah sehingga ilmu pengetahuannya bertambah luas.

Tahun 1937, Djohar lulus dari Van Deventer School saat itu ia berumur 17 tahun. Ia merasa masih terlalu muda untuk terjun ke masyarakat. Ia kemudian minta izin untuk memperpanjang masa belajarnya. Ternyata permintaannya dikabulkan. Ia bergabung dengan saudara-saudara kandungnya di Jakarta. Di sini ia mengambil kursus- kursus di Institut Schaver, yaitu program bahasa Inggris dan Perancis. Kecuali itu juga mengambil kursus stenografi, Bond A dan mengetik. Di Jakarta kegiatannya beralih ke dunia bisnis dan pergaulannyapun makin luas. Bersama teman-temannya seperti Rusiah (Saijono), Hurustiati (Subandrio), (Prof. Dr.) Soelianti dan lain-lain mereka membentuk perkumpulan wanita “Huise Vrouwen Vereniging”.

Tahun 1939, setelah cukup dengan berbagai kursus Djohar kembali ke Pontianak. Ia membantu lbunya yang aktif dalam kegiatan ma­syarakat muslim. lbunya menjadi Ketua Aisiah Pontianak yang bertugas menghimpun dana untuk menyelenggarakan sekolah Taman Kanak- kanak, pengajian dan organisasi sosial yang lain. Disinilah Djohar mulai belajar berorganisasi dan teijun secara aktif dalam kegiatan.

7 September 1941 Djohar menikah dengan dr. Suharso seorang dokter muda lulusan NIAS (Nederlands Indische Artsen School) Surabaya yang bertugas di rumah Sakit Ketapang. Setelah menikah Djohar mendampingi suami bertugas sebagai dokter ahli bedah. Djohar mencoba membimbing muda-mudi Ketapang dalam cara berpakaian dan masak-memasak. Mereka kemudian dikaruniai tiga orang anak yaitu TunjungSulaksono. Tunjung Wijayanto dan Tunjung Hamurdoyo; dua diantaranya dokter dan satu insinyur.

27 Desember 1941 kota-kota di Kalimantan Barat diduduki Jepang, didahului dengan serangan pesawat-pesawat udara Jepang terhadap Kota Pontianak Dalam pendudukan Jepang, keluarga dr. Suharso merasakan tekanan dan tindakan keras Jepang.

Tahun 1943, Djohar bersama suami menjalani cuti ke Jawa (Solo), untuk mengurangi ketegangan dan kecurigaan Jepang.

Tahun 1944, terjadi musibah atas diri dr. R. Agusdjam. Ayah Djohar bersama tokoh- tokoh masyarakat dan kaum pergerakan Pontianak dibunuh oleh Jepang. Kedukaan Djohar tidak dapat terobati begitu saja apalagi dr. Suharso yang bertugas di Solo juga diintai oleh Kempetai. Pada masa perang kemerdekaan , Djohar kembali ke Surakarta. Di Solo ia aktif membantu P.M.I, di Purbayan dan menyelenggarakan dapur umum bersama-sama Ny. Margohutomo dan Ny. Sugondo Notodisuijo. Sehingga praktis kegiatan beroganisasinya sudah tumbuh sejak ia masih remaja.

Tahun 1942, ia menjadi anggota Fu Jin Kai Ketapang,

Tahun 1944, kegiatan beroganisasinya berlanjut menjadi anggota Fu Jin Ki Solo.

Tahun 1949-1952,  menjadi anggota Perwari ranting Jebres kemudian pindah ke jalan Slamet Riyadi 240. Setelah terbentuk Ikatan Istri Dokter Indonesia.

Tahun 1950, Djohar menjadi anggota IIDI cabang Surakarta.

Tahun 1963-1964. menjabat sebagai Ketua IIDI cabang Surakarta.

5 Februari 1953, Djohar ikut merintis terbentuknya Yayasan Pemeliharaan Anak anak Cacat. Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat (YPAC) adalah suatu organisasi sosial untuk merehabilitasi anak-anak cacat yang berumur 3 sampai 18 tahun, sehingga mereka masih mendapat kesempatan untuk menjadi orang yang berguna dikemudian hari. Melalui YPAC anak-anak penderita cacat memperoleh pertolongan sehingga mereka dapat ikut merasakan hidup yang layak seperti halnya anak-anak yang sehat. Mereka merasa tidak canggung dan rendah diri dalam menghadapi pergaulan dengan anak-anak lain.Dalam Yayasan tersebut Djohar mula-mula menjadi sekretaris I.

Tahun 1954, ia terpilih menjadi ketua umum YPAC. Djohar dan kawan-kawannya mulai membina YPAC dari awal sekali dengan bekal sedikit pengalaman, beberapa petunjuk dari dr. Suharso, serta sedikit literatur dan majalah tentang rehabilitasi. Di samping itu banyak belajar dan melihat dari panti-panti semacam YPAC di luar negari. Dalam mengunjungi kongres-kongres dan pertemuan lainnya di luar negeri ia pergunakan untuk belajar dan melihat lalu diterapkan di Indonesia. Ia memang selalu mempergunakan kesempatan untuk belejar dan melihat. Hal itu ia lakukan untuk mengimbangi pendidikannya, yang tidak sampai memperoleh gelar. Dahulu orang mengira, bahwa dengan meninggalnya dr. Sukar SD YPAC akan mati. Dugaan tersebut ternyata tidak benar. YPAC bahkan semakin berkembang. Ny. Suharso tidak sekedar berada di bawah bayangan-bayangan suaminya, tetapi mampu ia bergerak sendiri.

Keberhasilannya membawa YPAC ke tingkat yang sekarang ini tidak lepas dari sifat-sifat pribadinya. Kepribadiannya cukup kuat untuk menunjang semua cita-citanya.Ia memang seorang yang cerdas, tekun, tegas disiplin dan berpendirian teguh.Bila ia sudah mengambil suatu keputusan tidak akan mudah untuk digoyahkan. Tetapi sebelum ia mengambil keputusan, ia telah membicarakan dengan beberapa stafnya. Sebagai pemimpin ia sangat memperhatikan anak buahnya. Ia suka bergaul dan sangat terbuka. Bila seorang anak buahnya berbuat salah , ia akan langsung memarahinya, tetapi kemarahan itu akan cepat hilang dan segera melupakannya. Ia memang bukan seorang pendendam.

Bila ia menyerahkan suatu tugas pada seorang anak buahnya, ia akan sepenuhnya mempercayai orang tersebut. Dengan demikian yang diserahi tugaspun akan bertindak sebaik mungkin, karena sadar akan tanggung jawabnya. Di samping itu sebagai pimpinan ia menghendaki segala sesuatunya hitam diatas putih. Misalnya, bila seorang melapor tentang suatu alat yang rusak haruslah disertai buktinya. Hal ini ia lakukan untuk menjaga kedisiplinan anak buahnya. Ia juga seorang yang mau mengakui kekurangannya. Misalnya saja, karena merasa tidak mampu mendalami semua masalah satu persatu, ia selalu melihat bagan atau skema. Sebagai imbangan ia menguasai beberapa bahasa asing dan pengetahuanya tentang medis cukup luas , sehingga ia tidak mudah ditipu perawat atau bahkan dokter.

Selain hal-hal tersebut di atas, ia adalah seorang yang sangat mencintai penca (penderita cacat), penuh inisiatif dan dedikasinya besar pada YPAC. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambilnya bisa diterima oleh semua pihak. Antara lain ia memutuskan agar pengurus yayasan tidak menjadi pegawai YPAC. Hal ini dimaksudkan agar pengurus dapat mengontrol pegawai

Keberhasilannya Ny. D.I. Suharso tidak hanya diakui di Indonesia saja, tetapi juga oleh dunia mternasional. Ia memang seorang yang memiliki kemampuan bertaraf internasional. Sejak YPAC menjadi anggota Rehabilitation International (RI) ia hampir tidak pernah absen duduk dalam kepengurusan badan dunia tersebut. Dalam kongres-kongres yang dikunjunginya ia tidak hanya sebagai peserta saja, tetapi juga sebagai pemrasaran Ia banyak menulis tentang rehabilitasi di berbagai konferensi/kongres baik ditingkat nasional, Asia maupun dunia.

Dalam kongres Rehabilitation Internasional ke-XII di Sydney, Aus­tralia, salah seorang pengurus YPAC Australia mengatakan kekagumannya atas besarnya dan sistimatisnya organisasi sosial YPAC Indonesia. Adapun peserta kongres dari Asia merasa heran dan kagum atas kemajuan yang di capai YPAC Indonesia melebihi YPAC mereka, sekalipun keadaan masing-masing negara umumnya tidak berbeda dalam perawatannya. Sistem non panti yang diterapkan Ny. Djohar Insiyah Suharso belum dapat diterapkan di negara mereka.

Sebagi wanita karir yang berhasil Ny. Djohar Insiyah Suharso tidak pernah meninggalkan sifat kewanitaannya Ia tetap memiliki keluwesan seperti layaknya seorang ibu Dari wajahnya yang lembut terpancar keramahan dan kecerdasannya. Ia selalu hati-hati dalam berceritera, tegas tetapi tetap lembut, alami dan pembicaraan tidak kosong. Pantaslah ia menjadi lambang wanita Indonesia masa kini

Dengan keberhasilan yang dicapainya sekarang terwujudlah sebagian dari cita-citanya semasa kecil, yaitu menjadi Raden Ayu, yang menurut pengertian Ny. Djohar Insiyah Suharso adalah seorang puteri sejati yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Seorang wanitayang luhur budinya, yang dapat dipandang dan disegani masyarakat karena pertolongan dan kelakuan baik.

Keberhasilan Ny. Djohar Insiyah Suharso dapat juga dilihat dari penghargaan-penghargaan yang di perolehnya. Ia dapat beberapa penghargaan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Tahun 1954, mendapat penghargaan World Veterans Federation Award di Vienna.

20-12-1961, mendapat penghargaanSatya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI.

19 September 1969, mendapat penghargaanAlbert Lasker Award yang diberikan oleh Albert and Mery Lasker Foundation pada Kongres Dunia ISRD yang ke XII di Dublin Ireland.

2 Mei 1977,  Ny. Djohar Insiyah Suharso menerima Piagam Hadiah Pendidikan dari Menteri P dan K Sjarif Thajeb sebagi Perintis Pembinaan Pendidikan Luar Biasa (Anak Cacat).

Maret 1981, ia memperoleh “Kartini Group Medalle” sebagai Ibu Sosial dari Kartini Group.

Di samping penghargaan-penghargaan tersebut, masih ada beberapa sertificat,

Tahun 1954,  ia memperolehyaitu sertificat sebagai National Secretary.

Septem­ber 1969, ia memperoleh sertificat sebagai Vise Chairman (1969-1972).

Tahun 1978, ia memperolehsertificat sebagai member of the Council,

Di rumah tangga pun ia merupakan seorang ibu yang berhasil dalam mendidik anak-anak. Ia berhasil mengantarkan tiga orang anak laki- lakinya menjadi “orang”. Anak sulungnya meneruskan karir ayahnya sebagai dokter bedah di R.C. Surakarta. Anaknya kedua seorang insinyur yang saat ini bertempat tinggal di Surabaya. Sedang anak bungsunya juga seorang dokter, kini tinggal di Medan.

Daftar Pustaka

  1. Bahan Angket Ny. Djohar Insiyah Suharso, naskah ketikan, Surakarta 4 Juli 1977.
  2. Daftar Riwayat Hidup Ny. Djohar Insyiah Suharso Ketua Umum Y.P.A.C. Pusat Surakarta, naskah ketikan.
  3. Ny. Djohar Insiyah Suharso, Sejarah dan Proses Rehabilitasi Para Penderita Cacat Anak-anak di Y.P.A.C. naskah ketikan.
  4. Ny. Djohar Insiyah SuharsoKompas Minggu, 1 Maret 1981.
  5. Riwayat Singkat Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat, Pengurus Besar Y.P.A.C. Surakarta.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan KebudayaanDirektorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 81-87


Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ngawi, Sosok, Th. 1994 dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s