Said Kelana, Musikus


Tahun 1907, Said Kelanalahir di Madura, seorang tokoh panggung Indone­sia, setia dan taat pada agama (Islam) Pendidikan terakhirnya adalah HBS Ia bekerja sebagai seorang musikus, penyanyi bahkan terjun dalam dunia film nasional. Dalam film ia berperan sebagai pemain film, sutradara maupun manager/pimpinan perfilman.

Ayahnya berasal dari Madura sedang ibunya dari Italia. Jadi Said Kelana adalah putera Indonesia, berdarah campuran antara Indonesia dan Italia. Dia terkenal sebagai anak yang tampan, bertubuh kekar, wataknya keras, penuh disiplin.

Said Kelana senang bermain terompet. Setelah tamat HBS dia mulai bekerja selaku pemain musik, dan penyanyi terkenal. Kemudian dia terjun ke dunia film. Berkecimpung dalam dunia perfilman, mulai dari pemain film biasa sampai menjadi sutradara. Begitu luas pandangannya dalam bidang film sehingga ia punya kecakapan khusus dan pengalaman-pengalaman yang berharga Pada zamannya Said Kelana sangat terkenal bukan saja sebagai pemain panggung, tetapi juga sebagai pemusik, penyanyi dan sutradara film. Bisa dibayangkan siapa yang tidak mengenal Said Kelana pada tahun-tahun 1942 an sampai tahun-tahun 1950 an.

Selama perang Dunia ke II Said Kelana berkeliling Amerika Serikat, dengan pertunjukan sandiwaranya Waktu itu sandiwara Dardanella sangat terkenal sampai ke luar negeri Dengan berkecimpung dalam permainan sandiwara ini, dia jatuh cinta dan kemudian menikah dengan Dewi Mada, dari pernikahan ini mereka memperoleh seorang anak benama Wassy.Setelah berkeliling Amerika Serikat mereka kembali ke Indonesia. Pada saat Revolusi Kemerdekaan, dia dengan kawan-kawannya dimanfaatkan untuk menghibur tentara Indonesia di front terdepan.

Tahun 1948,  Said Kelana ditangkap Belanda di Cirebon. Pada saat itulah isterinya Dewi Mada meninggal, tak berapa lama mertuanya juga meninggal.Setelah isteri pertamanya meninggal, dia kawin lagi, bahkan sampai beberapa kali. Dari perkawinan-perkawinannya kemudian ia memperoleh lima orang anak. Walau pun kehidupan rumah tangganya kurang harmonis, Said Kelana sangat memperhatikan pendidikan ke enam anaknya khususnya dalam dunia seni baik itu sandiwara, musik, seni suara maupun film. Dia termasuk orang tua pertama yang mempromosikan dengan membentuk Band bocah “The Kids” yang lagu lagunya ia ciptakan sendiri.

Tahun 1960-an, dia termasuk orang yang hidupnya berkecukupan. Boleh dikatakan saat itu dia seorang yang kaya, memiliki banyak harta benda. Apa saja dia buat dengan kekayaan yang ada padanya itu. Begitu kayanya sampai pada waktu itu dia membuat 5 buah film sekaligus. Dia sendiri bertindak sebagai sutradara, juga selaku produser. Ternyata perencanaannya kurang matang, bercita-cita tinggi tetapi gagal. Uangnya kurang lebih Rp. 400 juta saat itu amblas, dan filmnya tidak ada yang jadi. Ia rugi besar tetapi dia tidak pernah kecewa sedikitpun. Kemauannya tetap keras dan betul-betul dia termasuk orang hebat. Walaupun usahanya gagal membuat film dan sangat rugi, tetapi dia tetap menggiring anak-anaknya itu untuk maju dan menekuni panggung. Akibatnya anak-anaknya itu memainkan musik lebih dari orang yang sudah dewasa, mereka sangat genit dan memiliki bakat dan kemampuan yang diturunkan ayah mereka. Selain dia sendiri mendidik anak-anaknya bermain musik maupun sandiwara, ia juga mendorong mereka untuk rajin-rajin bersekolah. Menurut dia, bermain musik harus terpelajar. Tanpa belajar yang sungguh di sekolah, bermain musik yang baik tidak bisa. Untuk memainkan suatu musik yang baik, orang harus belajar dengan sungguh-sungguh sehingga memiliki ilmu dan pengetahuan. Jika orang memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi, maka permainan musik dapat dimainkan secara baik dan mempunyai nilai tambah. Said Kelana benar-benar menekan hal ini serta selalu mendorong anak-anaknya untuk bersekolah dengan sungguh-sungguh memang dia sendiri seorang tamatan HBS pada zaman Belanda, jadi tidak perlu diherankan kalau memang dia begitu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Dia lebih menaruh perhatian pada bidang bahasa, antara lain bahasa Inggris, Cina, Perancis, Arab dan Belanda. Karena itu tak mengherankan bila semua putera- puteranya banyak menguasai bahasa asing di samping Bahasa Indone­sia. Seperti misalnya puterinya Lydia dalam usia 15 tahun sudah menguasai dan berbicara secara fasih Bahasa Inggris, Cina, Perancis dan sedikit bahasa Belanda.

Selaku pemimpin Band The Kids sejak tahun 1980 dia merobah nama Band ini, diganti nama “The Big Kids”. Begitu tinggi kwalitas permainannya dan pengarahan pendidikan kepada anak-anaknya, maka akhirnya anak-anaknya juga mempunyai pendidikan yang berkwalitas dan mempunyai perawakan yang tampan seperti ayah mereka dan selalu menampilkan sikap, bakat mereka dalam film dan berbagai acara seperti nyanyi atau musik.Selama hidupnya, Said Kelana tinggal di Jalan Matraman Dalam No. 14 Jakarta Pusat.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan KebudayaanDirektorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah NasionalJakarta 1994, hlm. 233-235

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seniman, Sosok dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s