Arak-arakan Kamantan Madura


Di dalam suatu tatanan upacara adat kamantan atau perkawinan/ pernikahan adat Madura terdapat dua macam arak- arakan. Pertama arak-arakan, sewaktu mengiring kemantan Laki-laki menuju ke tempat kemanten Wanita. Kedua arak-arakan saat kedua mempelai sudah dipertemukan.

Arak-arakan Pertama,

Arak – arakan dalam prosesi penghantar pengantin laki-laki menuju ke kediaman pengantin wanita. Masing-masing pelakunya membunyikan rebana. Bermacam-macam syair religius dan berbagai pantun dilagukan. Kerapkali Haddrah dilengkapi dengan sebuah instrumen jidor atau beduk. Apabila demikian, maka ansambel ini disebut Haddrah Jidor atau Haddrah Jidur. Akhir-akhir ini.

Pengantin laki-laki dengan seorang atau dua orang pengiringnya yang berpakaian dan berhias serupa dengannya berjalan atau menunggang kuda di belakang kelompok pemusik dan penari Gambu atau diapit oleh para penari Gambu tersebut. Kuda yang ditunggangi masing-masing dihias dan dituntun oleh seorang sais. Sebuah guling diletakkan di atas pangkuan. Jika para pengiringnya tidak berpakaian seperti mempelai pria, maka mereka hanya berjalan mengiringkannya saja.

Pengantin laki-laki dan pengiringnya memakai celana panji-panji, berkain rapek, setagen, ikat pinggang, kelatbahu, gelang, kalung kace, dan atribut penutup kepala yang terbuat dari rangkaian bunga melati, mawar, kantil, dan kenanga berwarna putih, merah, kuning, dan hijau. Untaian bunga kenanga dan daun pandan yang berwarna hijau menjuntai dari kedua telinga sampai dada.

Baik pengantin laki-laki maupun pengiringnya tidak mengenakan baju dan alas kaki. Pengantin laki-laki dan juga pengiringnya berbedak putih yang dipakai sangat tebal dan seluruh badan yang tidak tertutup pakaian berbalur bedak berwarna sangat kuning. Mereka berjalan kaki atau dapat juga masing-masing menunggang kuda berhias dan berpayung kebesaran.

Sebuah bangunan terbuat dari bambu beratap kain menyerupai tenda yang diusung oleh enam sampai delapan orang kadang-kadang dipakai untuk melengkapi atau menggantikan payung kebesaran. Beberapa orang sanak keluarga dan kerabat biasanya wanita beriring-iringan membawa bhan gibhan, yaitu sesuatu berupa barang atau makanan untuk disampaikan kepada pengantin wanita dan keluarganya.

Mereka berada di bagian akhir arak-arakan. Suara rebana yang ditabuh, syair-syair yang dilagukan, bersama dengan beduk yang bertalu-talu, dan sorak sorai menjadi tengara kedatangan rombongan pengantin laki-laki.

 

Arak-arakan Kedua

           Prosesi upacara mengarak kedua mempelai, pada prosesi ini pengantin wanita duduk bersila di dalam sebuah tandu berhias yang diusung oleh empat orang laki- laki. Pengantin laki-laki berjalan atau menunggang kuda di belakang tandu. Ia mengenakan pakaian kebesaran yang disebut pangantan leggha, yaitu berkain rape’, mengenakan penutup dada tanpa kebaya, kelatbahu, gelang, subang, kalung kace, kepala dipenuhi bunga-bunga seperti halnya pengantin laki-laki, wajah berbedak putih, serta berbalur bedak kuning di seluruh tubuhnya. Di depan tempat ia duduk diletakkan sebuah bantal.

Pengantin wanita biasanya ditemani oleh beberapa orang gadis kecil sebagai pengiringnya sepanjang arak-arakan. Para pengiring ini berdandan serupa dengan mempelai wanita. Kadang-kadang mereka juga tampak mengenakan pakaian sehari-hari saja. Mereka juga diusung oleh empat orang laki-laki di atas tandu berhias dan dalam prosesi berada di belakang mempelai wanita. Mereka dapat mempergunakan tandu yang berbeda-beda atau dapat pula berada dalam tandu yang sama dengan mempelai.

Pengantin wanita memakai gaun panjang berwarna putih dengan kerudung dan bunga- bunga imitasi di kepala. ( Kini di sebagaian wilayah dijumpai pasangan pengantin yang berpakaian model Barat atau sesuai dengan kreasi perias mereka).Tangannya juga memegang rangkaian bunga imitasi. Anting-antmg, kalung, cincin, bros, serta gelang gemerlapan merupakan aksesoris yang dipakai. Ia juga mengenakan sarung tangan berwarna putih dan kacamata hitam. Pengantin laki-laki mengenakan jubah panjang dan kerudung kepala, sarung tangan juga berwarna putih, serta memakai ikat pinggang. Kepalanya berhias mahkota bunga imitasi. Ia memegang sebilah keris dengan untaian bunga melati atau bunga imitasi dan juga mengenakan jam tangan, cincin, serta kacamata hitam. Sepasang pengantin ini masing-masing memakai kaos kaki berwarna putih dan alas kaki berupa sepatu atau sandal. Meskipun mereka memakai sandal, tetapi kaos kaki tetap dikenakan. Keduanya memakai corrective make-up.

Tata busana dan rias pengantin medern sudah banyak dipergunakan baik di kota-kota maupun di pedesaan, namun busana tradisional tetap dipergunakan berdampingan dengan tata busana dan rias modern. Keluarga yang cukup berada akan memilih kedua busana teresebut (tata busana dan rias modern dan Tradisional). Namun biasanya tata busana dan rias tradisional dikenakan pada saat prosesi berjalan sampai awal kedua mempelai disandingkan di pelaminan, selanjutnya  mereka berganti pakaian yang lain seperti yang telah direncanakan.

Dalam arak-arakan yang dilakukan, kedua mempelai berjalan kaki dengan diiringi seni pertunjukan semacam Haddrah yang dilengkapi dengan tambur dan simbal. Turut serta di dalam arak-arakan beberapa orang peraga yang mempergunakan topeng dan pakaian badut topeng dan pakaian menyerupai binatang-binatang tertentu, seperti beberapa ekor kuda, burung, kera, dan  singa. Semua yang memperagakannya laki-laki  dewasa.

Beberapa anak-anak dan remaja laki-laki kadang-kadang ikut pula di dalam prosesi ini atau mereka di tempatkan dipintu gerbang kediaman mempelai wanita menunggu  kedatangan rombongan yang mengadakan prosesi. Anak- anak dan remaja laki-laki ini mengelu-elukan kedatan mereka dengan melambai-lambaikan bendera-bendera kain bertangkai bambu yang dipegang oleh masing-masing  anak. Di setiap ujung atas bambu yang dipergunakan sebagai tangkai bendera diberi guntingan hiasan yang  terbuat dari warna-warni kertas. Selain bendera, mereka  juga membawa hiasan atau bunga-bunga imitasi.

Anak-anak dan remaja laki-laki ini kebanyakan adala sanak keluarga, kerabat, atau anak-anak tetangga sekkitar.  Mereka mengenakan pakaian berupa kemeja berlengan  panjang berwarna putih, celana panjang berwarna sama dengan kemejanya, dan memakai peci hitam. Selemb kain berwarna menyolok bersulam benang emas dipakai di leher masing-masing. Pakaian ini biasanya dipinjam dari pondok pesantren atau dari tempat-tempat yang menyewakan perlengkapan pengantin.

Arak-arakan; Seni Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura,Tarawang Pers, Yogyakarta, 2000. Hlm.47-59

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seni Budaya, Th. 2000 dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s