To’-oto’


To’-oto’ Sebagai Tindakan Sosial-ekonomi, tujuan dilakukannya kegiatan arisan dalam strata sosial apapun di Indonesia ini memiliki dua tujuan mendasar, yakni mengakrabkan sesama anggotanya dan adanya motif ekonomi. Hanya saja motif mana dari kedua motif tersebut yang lebih dominan pada tiap-tiap kelompok arisan akan berbeda. Demikian pula dengan to’oto’ sebagai kelompok arisan orang Madura di Surabaya. Sesuai dengan keberadaan mereka sebaqai kaum pendatang dengan tingkat sosial-ekonomi yanq rata-rata termasuk golongan menengah ke bawah, motivasi didirikannya suatu kelompok to’-oto’ pasti pada mulanya didasari oleh unsur kekerabatan/kesukuan pada saat ini lebih didominasi motif-motif ekonomi.
Pada awal perkembangannya to’-oto’ (yang secara harafiah artinya: kacang, yakni makanan ringan yanq selalu disuguhkan setiap kali diadakan pertemuan kelompok orang-orang Madura) adalah perkumpulan kedaerahan orang-orang dari Sampang dan Banqkalan yang berada di perantauan yang bertujuan untuk menguatkan ikatan kekerabatan dan ikatan persaudaraan antar sesama daerah asal. Perkumpulan kedaerahan ini adalah fenomena yang umum didapati pada kaum perantauan dari dan di daerah manapun untuk saling bertukar pengalaman dan berbagai alasan primordial lainnya seperti untuk mempererat kekerabatan dan keakraban sesama perantau dari daerah asal yang sama. Demikianpun dengan to’-oto’ pada saat mulai berdirinya, seperti yanq dikemukakan oleh salah seorang informan (yang kebetulan adalah seoranq ketua kelompok to’- oto’) bahwa ketika pertama kali mendirikan to’-oto’ niatnya adalah mengumpulkan saudara dan sanak famili yang masih satu daerah yang tersebar di wi1ayah Surabaya agar ikatan kekerabatan mereka tidak hilang serta untuk membatasi budaya lain masuk.
Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut selain dilakukannya saling tukar pikiran mengenai berbagai hal, saling berbagi perasaan sebagai sesama kaum pendatang di kota serta saling bersilaturahmi, kemudian muncul usulan dari yang hadir untuk saling membantu antar sesama yang hadir dalam masalah ekonomi. Usulan disetujui oleh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk selanjutnva dikoordinasikan oleh penyelenggara pertemuan. Semula sumbangan dari masing-masing yang hadir bersifat sukarela sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kemudian disimpan oleh koordinator perkumpulan atau orang yang ditunjuk sebagai pemegang uang untuk mencatatnya dalam sebuah buku untuk kemudian diberikan dan atau dipinjamkan kepada angaota kelompok yang paling membutuhkan. Sesudah berjalan cukup lama akhirnya muncul ide agar kegiatan saling membantu ini dilembagakan dalam suatu kegiatan semacam arisan; yakni dengan menentukan batas minimum uang yang disumbangkan sedangkan akumulasi uang sumbangan yang terkumpul diberikan kepada setiap anggota kelompok secara bergiliran berdasarkan prioritas kebutuhan, yakni apabila ada warga yang membutuhkan uang atau untuk kepentingan yang mendesak maka ia dapat giliran memperoleh uang terlebih dahulu.

Waktu pertemuannya pun kemudian disepakati secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Demikianlah dari suatu kegiatan sosial yang bersifat informal kemudian berkembang sebagai kegiatan ‘formal’ dalam arti memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama.Dalam perkembangan selanjutnya ketika manfaat ekonomis dari arisan to’-oto’ ini semakin dirasakan para anggota dan semakin populer di kalangan para pendatang, mulailah bermunculan kelompok-kelompok to’-oto’ baru yanq sengaja didirikan oleh orang-perorang maupun oleh kelompok kekerabatan tertentu. Dalam konteks ini sifat keangqotaannyapun mengalami perubahan, dari yang semula orang-orang yang masih sekerabat dekat atau sekelompok setane’an menjadi tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut Masing-masing orang bisa menentukan sendiri ke kelompok mana ia akan bergabung. Pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi kecenderungan seseorang, memasuki kelompok to’-oto’ tertentu biasanya adalah figur ketua kelompok to’-oto’ tersebut serta ‘kredibilitas’ kelancaran kelompok tersebut. Seorang informal mengatakan:
“… kalau mau ikut to’-oto’ lihat ketuanya dulu. Kalau ketuanya berwibawa, jujur dan bisa mengatur anggotanya maka to’-oto’nya akan maju. Kalau ketuanya sembarangan saja to’oto’nya cepat bubar…”.
Jadi dalam menentukan kelompok mana yang akan dimasuki seorang calon anggota diandaikan telah memiliki rasionalitas tertentu, baik oleh rasionalitas nilai maupun rasionalitas formal-instrumental.

Sebagai suatu bentuk Wolompok arisan, berbeda dengan arisan pada umumnva, to’-oto’ mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut.:
(1) Kalau pada umumnya arisan-arisan di pulau jawa lebih banyak dikerjakan oleh wanita yang memegang keuangan keluarga, namun pada kelompok to’oto’ beranggotakan para pria yang notabene adalah kepala keluarga.
(2) Kalau pada arisan umumnya diperlukan waktu hanya beberapa jam dari Jam pelaksanaannya, maka pada to’-oto’ dibutuhkan waktu hingga dua hari.
(3) Dalam hal hidangan makanan dan hiburan, biasanya pada arisan dihidangkan sewaiarnva, tetapi pada kegiatan to’-oto’ dihidangkan dalam berbagai macam makanan dan diundangnya grup-grup kesenian tertentu seperti sandur. Hal ini tergantung dari jenis to’-oto’ yang dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan ada 3 (tiga) jenis to’- oto’ yakni: to’-oto’ lit-dulit yang paling sederhana karena tanpa hiburan dan dengan hidangan yang secukupnya sehingaa membutuhkan biaya yang lebih sedikit. Selanjutnva to’-oto’ piringan yang menggunakan hiburan seperti tape recorder, orkes maupun karaoke dan dengan bermacam suguhan yang diletakkan di atas piring dengan demikian membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak. Sedangkan biaya yang lebih banyak lagi akan dikeluarkan apabila jenis to’-oto’ yang diselenggarakan adalah to’-oto’ sandur karena mengundang grup kesenian khas Madura sandur (seni tayub atau tandhak yang khas Madura. Selain itu dalam to’-oto’ jenis ini juga menghidangkan makanan yang lebih beragam dan dengan prosesi kegiatan yanq lebih rumit dan formal yang ditandai dengan dikenakannya pakaian adat Madura oleh ketua, para pengurusnya dan pengurus kelompok lain yang diundang.
(4) Dalam arisan umumnya jumlah iuran anqqota sudah ditentukan nilai nominalnva dan dibayarkan secara rutin sebesar nilai nominal tersebut, sedangkan dalam to’-oto’ meskipun besarnya uang nominal iuran sudah ditentukan tetapi kenyataan yanq ada lebih mirip buwuhan, yakni seorang anggota memberikan uanq di atas nominal uanq vanq diberikan oleh penyolenggara to’-oto’ (tuan rumah) dibanding ketika yang bersangkutan datang ke rumahnya saat dirinya menjadi ‘tuan-rumah’ to’-oto’ pada peri ode yang telah lalu. Kelebihan uang dari jumlah simpanan pokok disebut tumpangan yang bisa dipahami sebagai semacam pinjaman lunak antar anggota yang wajib di kembalikan pada waktunya nanti.
(5) Anggota kelompok tertentu bisa berpartisipasi pada kegiatan to’-oto’ yanq diadakan anggota kelompok yang lain, atas selain ketua kelompok dimana ia tergabung secara resmi. Hal ini sering disebut dengan istilah tumpangan antar kelompok. Sehingga ketika ia sendiri menyelenggarakan to’-oto’, orang yang memperoleh tumpangan tadi pada saatnya nanti akan bertandang ke rumahnya untuk membalas tumpangannya tadi, sehingga dengan demikian ia berharap akan momperoleh ‘hasil’ yang lebih banyak lagi yang tidak semata-mata dari kelompoknya.

Besarnya uang yang diterima oleh seorang penvelenggara to’-oto’ berbeda-beda tergantung dari besarnya uang angsuran dan jumlah anggota kelompok serta sering-tidaknya ia mengikuti to’-oto’ kelompok lain. Besarnya iuran pada masing-masing kelompok berbeda berdasarkan kemampuan ekonomi rata-rata anggota kelompok tersebut yang sebelumnya disepakati bersama oleh ketua dan anggotanya. Dalam satu periode putaran (yakni sesuai dengan jumlah anggota) jumlah iuran tetap sedangkan besarnya tumpangan bebas dengan nilai minimal sebesar pokok angsuran. Dalam putaran periode berikutnya besarnya iuran pokok bisa ditingkatkan jumlahnya setelah melalui musyawarah anggota. Jumlah anggota kelompok juga bervariasi tergantung sudah lama atau belum kelompok tersebut berdiri serta sejauh mana kredibilitas ketua dan kelompok tersebut di kalangan orang-orang Madura di Surabaya. Jumlah anqgota masing-masing kelompok to’-oto’ berkisar antara 20 orang sampai 70 orang. Kelompok yanq anggotanya sedikit (kurang dari 20 orang) biasanva adalali kelompok yanq relatif belum lama berdirinva sedangkan kelompok yang beranggotakan lebih dari 50 anggota biasanya adalah kelompok yang sudah lama bertahan, beberapa di antaranya ada yang sudah berusia 30 tahun.

Semakin banyak jumlah anggota dalam suatu kelompok serta anggota kelompok lain yang ikut ‘nimbrung’ dalam kelompok tersebut semakin banyak jumlah uang yanq diperoleh anggota yang mengadakan atau mendapat giliran melaksanakan kegiatan to’-oto’. Berdasarkan informasi seorang pedagang mebel antik Madura diketahui bahwa besarnya perolehan uang bervariasi mulai dari yang jumlahnya hanya ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah, informasi terakhir dari informan tersebut. disebutkan bahwa kerabatnya pernah memperoleh uang sekitar 60 juta rupiah dalam satu kali pelaksanaan to’-oto’. Uang yang diperoleh tersebut, setelah dikurangi biaya administrasi untuk sekretaris dan bendahara (ketua tidak menerima upah) serta untuk biaya operasional seperti menyewa kursi, sound sistem dan lainnya, akan digunakan untuk berbagai keperluan yang dianggap penting seperti menambah modal usaha dalam berdagang, membangun atau memperbaiki rumah serta berbagai keperluan lain yang dianggap mendesak. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) perolehan uang tersebut juga digunakan sebagai ongkos naik haji. Hal yang terakhir ini bisa dipahami sebab memang bagi orang-orang Madura naik haji adalah obsesi umum orang Madura. Bergelar haji berarti memiliki gengsi sosial yang tinggi, yang sekaligus mencerminkan keberhasilan seseorang secara ekonomi, mengingat untuk bisa naik haji dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi dari para anggota dan pengurus to’-oto’, jumlah kelompok yang terdapat di Surabaya saat ini diperkirakan sekitar 77 kelompok to’-oto’ yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terutama di wilayah Surabaya Utara yang merupakan kantong-kantong pemukiman kaum pendatang dari Madura. Meskipun demikian karena terdapat anggota kelompok-kelompok tersebut berdomisili serara tersebar di barbagai wilayah Surabaya, maka pelaksanaan kegiatan to’-oto’ juga tersebar di berbagai wilayah tersebut sesuai dengan alamat. anggota yang mendapat giliran.
Berdasarkan observasi diketahui bahwa pada saat ini kegiatan to’-oto’ ini sudah menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur seperti Malang dan Madiun, juga didapati di Jogjakarta, di Jakarta bahkan di kota Banjarmasin atau kota-kota lain yang terdapat cukup banyak migran yang borasal dari Sampang dan Bangkalan. Bahkan di Sampang dan Bangkalan pun kegiatan to’-oto’ ini dicoba diintrodusir oleh sebagian warganya, tetapi berdasarkan kesaksian beberapa informan, kegiatan di tempat asal kaum migran ini justru tidak jalan atau tidak lancar sebagaimana halnya kegiatan to’oto’ di daerah rantau.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Edy Herry Pryhantor: Kegiatan To’-Oto’ Di Kalangan Etnik Madura Surabaya; Studi Tentang Mekanisme Survival Etnik Pendatang di Kota Berkebudayaan Majemuk, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. hlm. 17 – 25

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda, Madura, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s