Marsda TNI. ANM. Abdul Halim Perdanakusuma


080Sejak zaman Majapahit, bahkan sebelumnya hingga zaman Mataram pulau Madura merupakan unsur penting dalam kerajaan di pulau Jawa. Sekarang pulau madura termasuk wilayah Jawa Timur dan terkenal dengan karapan sapinya. Di kota kabupaten Sampang di pulau Madura Trunajaya dilahirkan sebagai seorang pejuang yang berani melawan kekuasaan Belanda pada abad ke-17. Di kota Sampang ini pulalah dilahirkan pada tanggal 18 Nopem,ber 1922 Abdul Halim Perdanakusuma, Laksamana Muda TNI Angkatan Udara.
Abdul Halim Perdanakusuma adalah putera Patih Sampang sebelum menunaikan ibadah haji, beliau bernama Raden Mohammad Siwa. Sekembalinya dari tanah suci berganti nama menjadi Raden Haji Mohammad Bahauddin Wongsotaruno. Ibu Abdul Halim bernama Raden Ayu Asyah, puteri Raden Ngabehi Notosubroto, Wedana Gresik Jawa Timur.
Abdul Halim adalah anak keempat dari sembilan bersaudara sekandung sedangkan seluruhnya saudaranya lain ibu berjumlah 27 orang. Pada tahun 1928 Abdul Halim Perdanakusuma mulai masuk Sekolah Dasar (Hollandsch Inlandsche School/HIS) di kota Sampang. la termasuk anak yang cerdas dapat menamatkan sekolah dengan lancar.
Sejak kecil ia tidak suka banyak bicara. la termasuk anak pendiam. Kalau bicara selalu bersungguh-sungguh atau serius. Meskipun demikian ia cukup ramah dan suka bergaul. Ia pun mempunyai sifat rendah hati. Hingga dewasa sifat-sifat itu dibawa terus. Tindakannya selalu dilakukan dengan hati-hati dan diperhitungkan dengan masak-masak oleh karenanya apa yang direncanakannya banyak yang berhasil.
Ia pandai bergaul dengan segala golongan tanpa membedakan antara yang ningrat dan yang bukan. Sebagai hobby atau kegemaran ia bermain biola dan melukis. Di sekolahnya ia berhasil membentuk sebuah band yang dipimpinnya.
Sesudah tamat ELS pada tahun 1935, ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Pertama (MULO). Sementara ia masih duduk di bangku SMP, ayahnya meninggal dunia selanjutnya ia mengikuti kakaknya yang tertua, yaitu Abdulhadi di Surabaya. Sewaktu di MULO ia mengembangkan bakatnya melukis. Hasil karyanya berupa lukisan yang diserahkan kepada kakaknya untuk dijual di pasar Tunjungan, Surabaya. Dengan hasil karyanya itu Abdul Halim dapat memperingan biaya sekolahnya. Kegiatan lainnya ialah bermain musik seperti telah diuraikan di atas.
Sesudah tamat dari MULO ia melanjutkan ke MOSVIA, yaitu Sekolah Pamong Praja di kota Magelang, untuk meneruskan jejak ayahnya yang semasa hidupnya bekerja di Pamong Praja. Setelah lulus dari MOSVIA Abdul Halim bekerja sebagai calon mantri polisi dikantor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Sementara itu keadaan dunia makin gawat. Pada bulan September 1939 pec’ah Perang Dunia II. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1940, negeri Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman. Hubungan antara Hindia Belanda dengan negara Belanda putus, dan pasukan Jepang dapat menyerbu Hindia Belanda setiap waktu. Dengan terbum-buru pemerintah Hindia Belanda menyiapkan kekuatan pertahanan untuk menangkis pertahanan Jepang. Menjelang masa yang gawat itu pemerintah Hindia Belanda memberi sedikit kesempatan kepada para pemuda Indonesia untuk memasuki pendidikan perwira pada angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara.
Abdul Halim yang sedang bekerja di kantor Kabupaten Probolinggo, ditunjuk oleh bupati untuk mengikuti pendidikan perwira Angkatan Laut. Sesudah lulus dari tes ia ditempatkan di bagian pendidikan calon perwira kapal torpedo. Dengan demikian ia masuk Angkatan Laut Hindia Belanda.
Pada bulan Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa. Angkatan Laut Hindia Belanda berusaha melawan Jepang, tetapi sia-sia belaka. Banyak kapal Hindia Belanda yang tenggelam dan terkubur di dasar lautan. Sisanya berlayar menuju Cilacap dalam rangka persiapan mengungsi ke Australia dan India. Dalam iring-iringan kapal Belanda itu termasuk pula kapal torpedo tempat Abdul Halim bertugas.
Di kota pelabuhan Cilacap, kapal torpedo itu diserang oleh pesawat terbang Jepang sehingga tenggelam. Abdul Halim Perdanakusuma terjun ke laut dan beruntunglah ia diselamatkan oleh kapal perang Inggris. Bersama mereka yang selamat Abdul Halim dibawa ke Australia dan kemudian diangkut ke India.
Di India Abdul Halim Perdanakusuma tetap berada dalam lingkungan Angkatan Laut. Kegemaran melukisnya masih tetap ditekuninya. Pada suatu hari yang luang, rupanya ia melukis potret Laksamana Mountbatten. Panglima Armada Inggris di India. Lukisan itu digantungkannya dikamarnya. .
Suatu ketika, Laksamana Mountbatten mengadakan inspeksi. Semua kamar anak buah di asrama itu diperiksa. Dikamar Abdul Halim, Laksamana Mountbatten melihatnya lukisan wajahnya tergantung di dinding. Ia lalu bertanya, siapa yang melukis itu? Abdul Halim menjawab singkat, bahwa dialah yang melukis.
Sejah itu terjadilah hubungan pribadi antara Laksamana Mountbatten dengan Abdul Halim. Apalagi sesudah mengetahui bahwa Abdul Halim itu putera Indonesia, Laksamana Mountbatten lalu menawarkan kepada Abdul Halim apakah suka menambah pendidikan di negara Inggris ? Abdul Halim menyetujui tetapi mohon agar diperkenankah pindah bidang, yaitu Angkatan Udara. Permintaan itu dikabulkan. Sesudah itu Abdul Halim diterbangkan ke Jibraltar dan selanjutnya ke London. Kemudian iamengikuti pendidikan juru terbang di Kanada. Di Kanada ia berlatih di Royal Canadian Air Forte jurusan navigasi. Sejak itu mulailah pengabdiannya di Angkatan Udara.
Sesudah selesai dengan pendidikannya, Abdul Halim ditempatkan di Inggris sebagai perwira navigasi Angkatan Udara Inggris. Sebagai manusia biasa tentu ia sangat rindu tanah air, bangsa dan keluarganya. Selama berkecamuknya peperangan itu, ia sama sekali tidak mendengar kabar tentag nasib keluarganya. Sedangkan keluarganya ditanah air sudah menganggap, bahwa Abdul Halim tentu sudah gugur dan tenggelam di lautan ketika kapal torpedo yang ditumpanginya dibom Jepang di perairan Cilacap pada awal Perang Pasifik itu.
Tentulah Abdul Halim dapat juga mengirim surat melalui Palang merah Internasional memberitahukan keadaannya kepada keluarganya di Surabaya dan Sampang, tetapi Abdul Halim juga menyadari resikonya. kalau Jepang mengetahui dia perwira Inggris, niscaya akan menangkap dan menganiaya seluruh keluarga Abdul Halim. Karena itu Abdul Halim tetap menahan dan menyabarkan diri. Satu-satunya harapan ialah agar perang dapat lekas selesai.
Abdul Halim makin memusatkan pekerjaannya pada bidang Angkatan Udara. Berkali-kali ia mengikuti pemboman ke Jerman. Ia mengalami berbagai pertempuran sengit di udara, berupa duel-duel antara kapal-kapal terbang Inggris dengan kapal-kapal terbang Jerman. Abdul Halim masuk dalam skuadron tempur yang terdiri dari pesawat Lancaster dan Liberator. Waktu itu ia berpangkat kapten Penerbangan dan merupakan salah seorang perwira Angkatan Udara berkulit berwarna yang tidak banyak jumlahnya.
Dalam operasi serangan pemboman ke Jerman, Kapten Abdul Halim tercatat 42 kali mengikutinya. Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam penerbangan kembali ke pangkalannya di Inggris, skuadronnya dicegat oleh pesawat-pesawat Fockewulf yang membawa senjata roket. Terjadilah duel di udara yang seru. Pihak Sekutu kehilangan tiga buah pesawat pembom B-17 karena tembakan roket Jerman.
Setiap kali mendarat di pangkalan dengan selamat. kawan-kawannya selalu membicarakan pengalaman-pengalaman di medan pertempuran, sesudah itu tidak jarang mereka mengambil pena dan menulis pengalamannya kapada keluarganya di rumah. Alangkah sedihnya bagi Abdul Halim karena ia tidak dapat menceritakan pengalamannya atau menulis surat kapada keluarganya. Ia tetap menahan diri demi keselamatan keluarganya. Karena itu hidupnya di tanah Inggris itu bagaikan seorang anak yatim piatu.
Satu hal yang mengherankan setiap kali Abdul Halim ikut dalam serangan udara di atas kota-kota Jerman dan Perancis, maka pastilah seluruh pesawat dalam skuadron itu kembali dengan selamat ke pangkalannya. Karena itu Angkatan Udara Inggris memberi sebutan The Black Mascot atau Si Jimat Hitam kepadanya. Para perwira senior pun menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Tentu hal-hal tersebut menggembirakan hatinya.
Sesudah perang di Eropa berakhir, maka selesai pula tugas Abdul Halim. Ia kini tinggal menunggu waktu untuk pulang kembali ke tanah air. Tetapi untuk sementara waktu ia harus bersabar, karena Jepang masih menduduki Indonesia.
Untunglah pasukan Jepang segera menyerah kepada Sekutu sehingga Abdul Halim dapat segera pulang ke tanah air. Kapten Abdul Halim ikut bersama pasukan Inggris yang mendarat di Jakarta pada bulan September – Oktober 1945. Pasukan Inggris itu atas nama Sekutu bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan ke negerinya. Begitu mendarat di Jakarta ia lebih dulu menelpon gadis, Kussadalina yang bekerja di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemulyaan Tanah Abang, Jakarta.
Gadis berasal Madiun itu dikenalnya waktu ia bertugas dalam Angkatan Laut Hindia Belanda di Surabaya. Alangkah terkejutnya Kussadalina menjumpai Abdul Halim dalam keadaan hidup dan segar bugar. Kussadalina dan seluruh keluarga di Surabaya dan juga keluarga Abdul Halim di Sampang sudah bertahun-tahun menduga bahwa Abdul Halim sudah gugur di perairan Cilacap.
Dengan tabah dan penuh haru Kussadalina berkata lirih ”Saya mau menerimamu, asal jangan memakai seragam penerbang Angkatan Udara kerajaan Inggris. Pakaian seragam itu akan menyulitimu dan diriku. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Semua yang bercorak kebelandaan tentu dimusuhi” Abdul Halim menjawab, ”Saya tidak mempunyai pakaian lain kecuali piyama untuk tidur. Apakah saya harus ganti dengan piyama”. Kussadalina menjawab, ”Piyama lebih baik dari pada seragam RAF (Royal Air Force, Angkatan Udara Kerajaan Inggris)”.
Keesokan harinya Abdul Halim dengan surat dari Perdana Menteri Syahrir pergi menengok keluarganya ke Kediri. Tetapi di Kediri ia ditahan oleh pasukan Republik Indonesia dan dimasukkan ke dalam penjara karena dicurigai sebagai tentara NICA (Belanda).
Sementara itu Residen Kediri, yaitu Pratalikrama adalah termasuk kakak Abdul Halim sendiri. Residen Kediri sesudah mendengar adiknya ditahan, segera memberi kabar ibu Abdul Halim, yaitu Ibu Wongsotaruno. Sang ibu pun lalu pergi ke Kediri tetapi alangkah kecewa hatinya, karena yang berwajib hanya mengizinkan Ibu Wongsotaruno selama sepuluh menit saja untuk menjenguk putranya yang sudah tiga setengah tahun tidak dijumpainya.
Di penjara itu Abdul Halim berbaur dengan tahanan lainnya. Ia pun menulis perjalanan hidupnya di tembok rumah tahanan Kediri, sehingga menarik perhatian para petugas penjara, siapakah gerangan sebenarnya orang yang ditahan ini.
Sesudah beberapa waktu dan sesudah jelas semuanya. Pemerintah segera membebaskan Abdul Halim. Ia lalu pulang ke Sumenep. Kepala Staf Angkatan Udara RI Suryadi Suryadarma segera memanggil Abdul Halim Perdanakusuma ke Yogyakarta untuk memperkuat Angkatan Udara RI yang baru saja didirikan. Tentara Keamanan Rakyat atau TKR Jawatan Penerbangan yang kemudian menjadi AURI dan TNI Angkatan Udara, mulai giat membangun dengan menggunakan pesawat terbang tua Jepang jenis Cureng dan Ciukyu. Dengan pesawat rongsokan itu pula Abdul Halim melatih pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang Angkatan Udara RI. Pada tanggal 23 April 1946 jam 12.30 tiga buah pesawat AURI bermotor satu terbang di udara Jakarta dan mendarat di Kemayoran. Dalam penerbangan percobaan itu ikut serta Abdul Halim Perdanakusuma.
Selanjutnya Abdul Halim juga terbang ke arah timur dan mendarat di lapangan pegaraman di Sumenep, Madura. Ia juga memimpin penerbangan formasi ke Malang.
Waktu itu ia berpangkat Komodor yang selalu mendampingi Kepala Staf AURI Suryadarma dan sering pula berkonsultasi dengan Panglima Besar Jendral Sudirman. Komodor Halim Perdanakusuma juga melatih pasukan penerjun payung yang menggunakan pesawat Dakota.
Dengan gugurnya komodor Agustinus Adisutjipto di Maguwo yang menjabat Wakil Kepala Staf AURI, maka Komodar Halim Perdanakusuma diangkat sebagai penggantinya.
Dengan keberanian yang luar biasa, Komodor Halim Perdanakusuma memimpin operasi pemboman ke kota-kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang yang waktu itu diduduki Belanda. Mereka membom kota-kota tersebut dengan pesawat-pesawat Cureng yang sebenarnya bukan pesawat pembom. Sungguh luar biasa. Bom-bom itu diikat pada bagian bawah sayap pesawat untuk kemudian dilepaskan dan jatuh ke tanah.
Baru saja dua bulan Komodor Halim Perdanakusuma menikah dengan Kussadalina, ia sudah diperintahkan berangkat ke Bukittinggi bersama Opsir I lswahyudi untuk membangun AUR1. Pekerjaan itu sungguh berat, karena mereka harus mampu menembus blokade Belanda untuk berhubungan dengan luar negeri gunamembeli perlengkapan, persenjataan dan obat-obatan. Sering pula ia menerbangkan para pejabat negara untuk berbagai tugas. Komodor Halim Perdanakusuma juga memimpin penerjun pasukan payung di daerah Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Pada waktu isterinya mengandung empat bulan Komodor Halim Perdanakusuma ditugaskan untuk menerbangkan pesawat terbang Auro Anson RI-003 dari Muangthai ke Indonesia. Tugasnya itu dilakukan bersama Opsir lswahyudi melakukan penerbangan tersebut dari Muangthai menuju Singapura untuk mengambil obat-obatan. Di sekitar Tanjung Hantu, Malaysia, udara sangat buruk. Ketika pesawat akan melakukan pendaratan darurat, terjadi kecelakaan. Sayap pesawat melanggar pohon dan patah, kemudian meledak. Malapetaka itu tepatnya terjadi di Labuhan Bilik Besar, antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin di Pantai Lumut, Malaysia. Komodor Halim Perdanakusuma dan Opsir lswahyudi gugur dalam malapetaka itu.
Selama bertahun-tahun jenazah Laksamana Muda TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma dimakamkan di Tanjung Hantu, Malaysia. Kemudian kerangka jenazahnya dipindahkan ke Indonesia, ke makam Pahlawan Kalibata pada tanggal l0 November 1975.
Laksamana Muda Halim Perdanakusuma besar sekali jasanya dalam membina dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia. Segala pikiran, kemampuan, serta pengalamannya, baik berupa teknik penerbangan, taktik perang udara, penguasaan navigasi pesawat terbang dan sebagainya telah dimanfaatkan dan disumbangkan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia.
Atas jasa-jasanya bagi Negara dan Bangsa itu pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK/Th. 1975 tertanggal 9 Agustus 1975 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI. Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1875

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pahlawan, Pahlawan Indonesia, Sampang, Sosok dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s