Djanatin alias Osman bin Mohammad Ali


Djanatin-Alias-Osman-bw-253x300Djanatin alias Osman bin Mohammad Ali lahir : Purbalingga, 18 Maret 1943
beragama Islam, Ayah H. Mohammad Ali Ibu Rukiyah

Pendidikan :
SD Tahun 1958
SMP Tahun 1961
Pendidikan Militer 1962

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN
Djanatin berasal dari keluarga santri yang patuh kepada agama, disamping itu keluarga Djanatin ádalah merupakan pejuang bangsa yang gigih, salah seorang kakaknya telah gugur di dalam tugas mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1949. Dua orang kakaknya yang lain meneruskan perjuangan kakaknya yang telah gugur tersebut.
Pada tahun 1961 saat Djanatin duduk di kelas 3 SMP, berdengunglah Tri Komando (TRIKORA) yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno. Trikora itu amat menyentuh jira Djanatin, Djanatin bermaksud memenuhi panggilabn tersebut. Tahun 1962 Djanatin mulai mengikuti pendidikan militer yang diadakan oleh Korps Komando Angkatan Laut RI. Djanatin mengikuti pendidikan selama 6 bulan dan diteruskan dengan latihan amphibi selama 4 minggu, selanjutnya Djanatin memasuki pendidikan khusus di Cisarua selama satu bulan. Setamat dari berbagai latihan niscaya Djanatin dan kawan-kawan seangkatannya merupakan prajurit pilihan yang serba mampu. Kemudian Djanatin terlibat dalam pelaksanaan Trikora pembebasan Irian Barat.
Sementara itu Djanatin menamatkan pendidikan militer sukarela tanggal 20 Agustus 1962 dan dipindahkan ke Batalyon III KKO-AL. Dalam melaksanakan tugas “Operasi Sadar” di Irian Barat, Djanatin dapat menunjukkan kemampuannya sebagai seorang prajurit sejati yang dapat menepati sumpahnya termasuk termasuk disiplin serta kesetiaan yang tinggi pada kesatuannya. Dalam kesatuan itulah Djanatin berteman dengan Harun yang sama-sama memberikan pengabdian maksimal kepada negara dan bangsa.
Saat Indonesia mengumandangkan ” Konfrontasi” dengan federasi Malaysia dan lahirlah ”Dwikora”, pelaksanaannya antara lain memanggil sukarelawan dari berbagai bagian ABRI. Menurut Surat Perintah KKO tanggal 27 Agustus 1964 Kopral Osman (Djanatin) dan Prako II Harun dimasukkan dalam Tim Brahmana I dibawah pimpinan Kapten KKO Paulus Subekti yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau, disini mereka bertemu dengan Gani bin Arup.
Pada tanggal 8 Maret 1965 mereka bertiga ditugaskan menyusup ke Singapore dengan bekal 12,5 kg bahan peledak. Tugas mereka adalah melaksanakan sabotase yang dapat menimbulkan efek psikologis yang dapat menggoyahkan kepercayaan umum kepada Pemerintah Singapore. Tanggal 9 Maret 1965 mereka berhasil mendarat di Singapore meskipun penjagaan keamanan sangat ketat. Sasaran yang mereka tentukan adalah Hotel Mr. Me Donald House di Orchard Road. Mereka berhasil membuat ledakan dahsyat di Hotel tersebut yang menyebabkan 3 orang meninggal dan sejumlah orang luka berat dan ringan. Sabotase tersebut mencapai efek yang dimaksud, masyarakat Singapore menjadi gelisah dan menimbulkan kegoyahan dan kepercayaannya kepada pemerintahnya.
Pada tanggal 10 Maret 1965 mereka memutuskan untuk kembali ke pangkalan mereka di Pulau Sambu. Osman dan Harun bersama-sama sedangkan Gani memisahkan diri. Osman (Djanatin) dan Harun berhasil naik kapal “Begama” dan menyamar sebagai pelayan dapur. Tetapi pada malam hari tanggal 12 Maret 1965 penyamarannya diketahui oleh pemilik kapal, sehingga mereka mencari kapal lain. Mereka berhasil merampas motor boad yang dikemudikan seorang Cina, tetapi di tengah lautan motor boad tersebut macet, sehingga pada tanggal 13 Maret 1965 mereka ditangkap dan ditahan untuk menunggu perkaranya diajukan ke muka pengadilan.
Pada tanggal 4 Oktober 1965 Djanatin alias Osman bin Haji Mohammad Ali dan Harun bin Said alias Tahir diajukan ke Pengadilan Tinggi Singapore. Pada tanggal 20 Oktober 1965 mereka dijatuhi hukuman mati. Tanggal 6 Juni 1966 mereka naik banding ke Pengadilan Federal, tetapi pada tanggal 5 Oktober 1966 permohonan naik banding tersebut ditolak. Kemudian pada tanggal 17 februari 1967 perkara tersebut diajukan ke “Prici Council” di London, namun pada tanggal 21 Mei 1968 pengajuan tersebut di tolak. Upaya selanjutnya adalah permohonan grasi kepada Presiden Singapore, pada tanggal 1 Juni 1968 tetapi permohonan grasi tersebut di tolak.
Upaya terakhir untuk menyelamatkan Osman dan Harun, yaitu Presiden Suharto mengirim utusan pribadinya Brigjen TNI Cokropranolo (waktu itu Sekmil Presiden) untuk menghubungi pejabat yang berwenang di Singapore, usaha terakhir ini pun tidak berhasil.
Akhirnya pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 – 07.00 pagi, KBRI Singapore menelpon penjara Changi dan mendapat penjelasan bahwa hukuman mati atas Osman dan Harun telah dilaksanakan.
Dari Jakarta dikirimkan sebuah pesawat terbang khusus untuk menjemput kedua jenazah tersebut untuk dibawa ke tanah air dan selanjutnya dimakamkan di TMPN kalibata.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dengan menaikkan pangkat mereka :
a. Djanatin bin Mohammad Ali alias Osman menjadi Sersan Anumerta KKO-AL.
b. Harun bin Said alias Tahir menjadi Kopral Anumerta KKO-AL.
Dengan Surat Keputusan Presiden No. 50/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968, mereka berdua dianugerahi Gelar Pahlawan.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber: Kementrian Sosial RI

http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1843

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pahlawan, Pahlawan Indonesia, Sosok, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s