Kampung-Kampung Kuno pada Masa Kerajaan Surabaya


Dalam memahami keberadaan kampung-kampung kuno yang ada di kota Surabaya pada masa kerajaan (Kerajaan Surabaya) maka tidak dapat lepas terhadap pemahaman konsep tata kota yang biasa berlaku pada kota-kota di Jawa secara umum. Tata kota pada Kerajaan Surabaya juga sangat dipengaruhi oleh pandangan kosmos (cosmic state) yang salah satu cirinya adalah berpedoman pada arah penjuru mata angin (Robert Heine-Gelderen. 1982:12). Pada tata kota di Jawa arah utama mata angin ada empat: utara-selatan-timur-barat. Selain itu pada konsep tata kota di Jawa juga menggunakan dasar pemikiran bahwa kota seperti rumah dan merupakan sesuatu yang “hidup “. Oleh karena itu penyusunannya harus mengambil pola tubuh manusia dengan tata letaknya memperhatikan arah mata angin.
Utara adalah letak kepala, jadi selalu resmi dan kebesaran, sedang selatan letak kaki dan kelamin merupkan sifat yang kekeluargaan dan keturunan. Ke timur adalah arah matahari terbit dan tangan kanan, artinya keqa atau yang berhubungan dengan keduniawian. Ke barat merupakan arah matahari terbenam atau tangan kiri, artinya keija atau-yang berhubungan dengan kejiwaan rohaniah dan sakral. Sedang di tengah adalah tempat jantung yaitu pusat kehidupan (Surabaya Post. 29 Maret 1981).
Letak-letak kampung pada masa Kerajaan Surabaya ternyata juga mengikuti konsep tata ruang kota di Jawa. Pembagian wilayah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Daerah tengah tempat Keraton Surabaya berada.
Pusat dari Keraton Surabaya adalah di Kampung Kraton Disebelah utara Kampung Kraton ini terdapat alun-alun lor (alun-alun utara) yang lokasinya berada disekitar Jalan Alun-alun (sekarang Jalan Pahlawan). Di alun-alun sebelah utara ini terdapat Kampung Kawatan (yang berarti semacam pakis halus). Kampung Kebon Rojo (kebun milik raja), Kampung Serayan (yang berarti hijau segar), dan Kampung Wiro (berasal dan kata prawiro yang berarti gagah perkasa atau pahlawan atau kampung tempat tinggal para pahlawan). Di selatar. Kampung Kraton terdapat alun-alun kidul (alun-alun selatan) yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan alun-alun Contong. Di tempat ini juga terdapat Kampung Carikan (tempat tinggal carik keraton yang mempunyai tugas untuk menerima tamu yang berasal dari arah selatan). Tidak jauh dari tempat ini ada Kampung Gemblongan (gemblongan berasal dan kata “gembong” yang berarti tempat pendaratan raja yang berbentuk dua perahu besar yang disatukan).
Dari uraian di atas terlihat bahwa nama-nama kampung disekitar Kampung Kraton merupakan suatu sistem yang lengkap dan dapat memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keadaan yang berlaku pada waktu itu.

Daerah barat berhubungan dengan kejiwaan dan kesakralan.
Di daerah yang berada di sebelah barat Kraton Surabaya terletak kampung- kampung sebagai berikut: Kampung Temenggungan (kampung tempat tinggal para tumenggung), Kampung Maspatih (kampung tempat tinggal patih dalam kerajaan).. Sedang patih yang bertugas di luar bertempat tinggal di Kampung Kepatihan. Selain itu ada Kampung Praban ( kampung tempat tinggal para prabu), Kampung Ronggo (kampung tempat tinggal para ronggo atau pembuat keris), Kampung Bubutan (berasal dari kata butotan yang berarti pintu ngerbang, yaitu kampung tempat jalan untuk keluar masuk khusus pejabat-pejabat negara yang penting). Berbatasan dengan kompleks kraton ada (berasal dari bahasa Portugis “baluarte” yang berarti benteng penguat). Untuk memperidah wilayah kota, maka dari arah selatan kraton dibuatkan taman yaitu di injungan (tunjungan berarti bunga teratai putih) (Radar, 4 April 2001. Hlrn.8).

Daerah timur berhubungan dengan keduniawian
Bagian timur terdiri dari kampung-kampung yang berfungsi sebagai profesi kekaryaan. Yang terdekat dengan Kraton Surabaya adalah Kampung Pandean (kampung tempat tinggal para pande besi), Kampung Plampitan (kampung tempat tinggal para pembuat tikar atau lampit), Kampung Peneleh ( peneleh berasal dari kata “tilih” atau waduk air, jadi merupakan tempat tinggal penjual air), Kampung Undaan kampung tempat penjual sangkar burung), Kampung Pengopohan (kampung tempat i besi yang kasar atau cor), Kampung Pengampon (pengampon berasal dari kata “ampo” yang berarti tanah liat merah atau kampung tempat pembuatan tembikar), Kampung Pecindilan (berasal dari kata “cinde” yaitu kain bermotifkan kembang, jadi pakan kampung tempat membatik atau menyablon), Kampung Pegirian ( berasal kata “giri” yang berarti buruh, jadi merupakan kampung tempat tinggal para buruh). Kampung Ngaglik (berasal dari kata “aglik” yang berarti alat pembersih jadi merupakan kampung tempat tinggal para penenun), Kampung Ketabang sal dari kata “ketabagan” yang berarti tempat menganyam gedeg, jadi merupakan kampung tempat tinggal para pembuat gedeg), Kampung Ondomohen (berasal dari gemoh yang berarti pekerjaan tangan ringan, jadi berarti kampung tempat kerajinan tangan), Kampung gubeng
Yang artinya kain penutup kepala, jadi berarti kampung tempat penghasil kain tutup kepala), Kmpung Tarukan (berasal dari kata “taros” atau “tari”, jadi berarti perkampungan seniman ider, tandak, atau ledek).
Daerah di sebelah timur selain terdiri dari kampung-kampung yang berhubungan dengan profesi pekerjaan seperti yang telah dikemukakan di atas, ternyata juga memiliki kampung-kampung yang berhubungan dengan jabatan tertentu, seperti: Kampung Tambak Bayan (kampung tempat tinggal kebayan), Kampung Kepatihan kampung tempat tinggal patih kerajaan), Kampung Kademangan (kampung tempat para demang), dan Kampumg Keradenan (kampung tempat tinggal raden).

Daerah-daerah khusus
Yang termasuk daerah-daerah khusus, misalnya: Kampung Keputran (kampung tempat tinggal dan mengasuh putra-putri raja), Kampung Sidi Keputran (kampung tempat para guru pengasuh dari putra-putri raja). Kampung Kayon (yang bearti kampung ini berkaitan dengan kesakralan antara wilayah Keputran dengan kampung Pandegiling (kampung para pande giling), Kampung Malang (berasal “walengan” yang berarti kayu yang keras dan baik, jadi merupakan kampung yang berupa perkebunan/ hutan kayu), Kampung Tegalsan (kampung yang berupa ladang iur), Kampung pregolan (kampung tempat regol atau bangunan gapura), Surabayan (kampung yang sekarang digunakan untuk menamai kota SURABAYA, kampung kaliasin (kampung yang berawa tempat pembuangan orang yang memusui raja)(Surabya Post, 30 Mei 1981.)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya/ Drs. Muryadi [dkk]; Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm.15-19 (CLp-D13/2001-353)

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s