Andiyanto


Andiyanto16 September I960 Andiyanto lahir di Surabaya. Agama Kristen.

Pendidikan      :

SD di Batu Malang, 1972.

SMP Santo Yusuf Malang, 1976.

SMA Santo Yusuf Malang, 1979.

Kursus :

Tata rias rambut, dasar dan terampil

Tata rias wajah pengantin.

Tata rias rambut tingkat lanjutan.

Alamat kantor Jl. Pejompongan Raya 1/2 Jakarta Pusat Telep Telepon 582795, Alamat rumah      Jl. Trapesium IV Blok A3 No. 7 Taman Kedoya Permai, Kebun Jeruk Jakarta Barat. Setiap kali diadakan lomba kecantikan dan tata rias, kreasi laki-laki berkacamata minus tebal ini, nyaris selalu menang. Bila tidak juara umum, minimal meraih juara dua atau tiga. Itu sebabnya para peserta dan juri sangat akrab dengan kreasi-kreasinya. Bila ada kreasi rumit dan sukar dibuat, para juri pasti menyebut itu kreasi Andiyanto.

Pria berbadan tambun ini, memang spesialis lomba. Hampir setiap ikut lomba ia berhasil meraih juara. Begitu ia mengundurkan diri dari ajang lomba dan memfokuskan diri mengajar, kembali murid-muridnya yang selalu meraih tempat terhormat dalam setiap lomba.

Ornamen rambut yang dibuat pengagum penyanyi Crisye ini, memang agak unik. Ia mampu membuat bentuk rambut menjadi berdiri tinggi tanpa alat bantu. Itu memang kelebihannya. Tahun 1983, pada lomba tingkat ASEAN, Andi, begitu panggilan akrabnya, mengikuti sekaligus dua katagori. Ia berhasil menjadi juara I pada fantasi make-up dan juara II pada evening style.

Andi kemudian merasa bosan ikut lomba, apalagi beberapa juri menyarankan agar ia tidak usah ikut lagi. “Beri kesempatan pada yang lain,” kata Andi mengulangi anjuran seorang juri kepadanya. Sejak itu, bapak beranak satu ini jarang mengikuti lomba. Ia hanya mendidik panata rias yang akan ikut lomba. Andi pun mampu mengorbitkan puluhan muridnya menjadi juara di setiap lomba. Pernah pada suatu lomba, seorang muridnya berhasil menyabet tiga gelar juara sekaligus.

Karier pria yang suka warna hitam dan warna lembut ini, berawal di kota Surabaya. Ia memang lahir di sana, 16 September I960. Masa kecilnya banyak dihabiskan di sebuah kota kecil berhawa dingin, Batu, Malang.

Mulanya, ia sama sekali tidak tertarik pada dunia yang kini di- gelutinya itu. “Sampai saya berhasil menyelesaikan studi di sekolah menengah atas, saya belum memikirkan cita-cita,” aku pria yang menggemari olahraga bulu tangkis ini. Akan tetapi diakuinya, memang ada keinginan dalam hati untuk mendalami dunia seni.

Sejak SD, ia telah menyukai bidang lukis-melukis. Setiap waktu libur, Andi kecil selalu menghabiskan waktunya dengan melukis dan membuat kerajinan tangan. Sayang, kedua orang-tuanya tidak menyetujui keinginan anaknya. “Kamu tidak bakal hidup layak,” kata Andi mengulangi alasan kedua orang-tuanya waktu itu. Alasan ini keluar karena Andi sangat dimanja orang-tuanya, khususnya sang ibu.

Inilah yang menyebabkan laki-laki pengumpul benda-benda seni ini agak kecewa. Ia tidak mau meneruskan sekolahnya setelah tamat SMA di Malang. Dalam kebingungan itulah, salah seorang kakaknya mengajak tinggal di Surabaya. Kakaknya kebetulan ingin mendalami tata rias rambut. Mulanya ia hanya menunggui sang kakak pulang dari kursus. Lama-lama, ia merasa tertarik pada dunia yang sedang ditekuni kakaknya itu.

Andi kemudian minta kepada kakaknya ikut kursus kecantikan rambut. Tentu saja keinginan adiknya ini membuat terkejut sang kakak. Melihat kesungguhan adiknya, akhirnya dia rela menjadi teman sekelas Andi.

Meskipun tergolong muda di kelas itu, Andi cepat menyesuaikan diri. Awalnya memang ada sedikit rasa nervous dalam dirinya. Maklum, dari seluruh murid, hanya ada dua yang berjenis kelamin laki-laki. “Waktu itu, saya sangat lamban. Say a baru bisa menyelesaikan satu kepala contoh dalam satu hari penuh,” cerita Andi mengenang masa lalunya.

Siapa nyana, ketika berlangsung ujian akhir, Andi berhasil keluar dengan nilai tertinggi. “Dari dulu saya punya sifat jelek, tidak pernah mau kalah. Kalau ada orang yang bisa begitu, kenapa saya tidak bisa,” urainya.

Selesai mengikuti pendidikan rambut di Citra Henny, Andi mulai menekuni kariernya sebagai penata rambut. Ia mencoba untuk buka salon kecil-kecilan di rumahnya. Selain itu, melihat bakat besar dalam diri Andi, pimpinan Citra Henny pun memintanya untuk mengajar di tempat kursus tersebut.

Cukup lama Andi mencurahkan perhatiannya menjadi guru kecantikan di Surabaya. Sambil mengajar, ia selalu mengembangkan keahlian di bidang hair ornament. Keahlian inilah yang kemudian hari niembuat namanya besar dan dikenal orang.

Selain mengajar dan membuka salon, anak ketujuh pasangan Nyo Ting Yong dan Poo Kim Tia ini, terus mengikuti perlombaan. Hampir setiap lomba selalu diikuti dan menang. Kondisi ini membuatnya jenuh. “Saya tidak berkembang kalau terus di sini,” celoteh penata rias yang berpandangan hidup ini siapa menabur akan menua.

Akhirnya Andi nekad ke ibukota. Seperti para urban lainnya, Jakarta adalah tumpuan masa depan. Begitu juga yang tergambar dalam kenak penggemar masakan khas Jawa ini. Kebetulan nasib baik memang sedang mengikutinya. Apalagi Andi punya keahlian khusus.

Martha Tilaar, seorang ahli kecantikan yang sudah punya nama waktu itu, mengajak Andi bergabung dengannya. Tentu saja setelah Martha kenal dan melihat bakat besar dalam diri Andi. Tahun 1983, Andi resmi bekerja di lembaga pendidikan kecantikan rambut milik Martha. Ia ditempatkan sebagai guru tata rias rambut tingkat lanjutan.

Cukup lama ia ditempatkan di bagian ini. Melihat keseriusan dan keahlian Andi, selain mengajar, pria yang punya hobi memasak dan mencicipi makanan ini juga di tempatkan di bagian artistik Sari Ayu Puspita Martha. Salah satu bidang usaha yang dimiliki Martha Tilaar.

Ketekunan dan keseriusannya, membuat Martha Tilaar sangat menyukai hasil kerja Andi. Lima tahun bekerja di Martha Tilaar, bukanlah waktu yang singkat.

Berbagai pengalaman dan pengetahuan juga diperolehnya. Beberapa kali Marta Tilaar mengirim Andi untuk belajar ke luar negeri atau mengikuti seminar. Ia pernah dikirim ke Hongkong untuk memberikan makalah di hadapan hairdresser dunia. “Padahal saya belum tahu apa-apa,” katanya merendah.

Tahun 1986, ketika masih aktif mengajar di lembaga pendidikan Puspita Martha, Andi juga mencoba membuka salon. Ruangan kecil di depan rumah yang dikontraknya disulap menjadi salon. Sayang kesibukan mengajar membuat salon ini tidak dapat digarap serius.

Melihat kondisi ini, Andi minta pada Martha Tilaar untuk memberikannya dispensasi. Beruntung, Martha bersedia memberinya kesempatan dengan bekerja part time. Dari pagi sampai siang ia mengajar di Martha. Siangnya laki-laki yang bercita-cita ingin hidup tenteram di hari tua ini, mengelola salon. “Bu Martha banyak berjasa pada saya,” kenangnya.

Salon Andi sedikit tertolong. “Salon itu usaha jasa, bagaimana mungkin maju kalau kita tidak ada di sana,” katanya. Makin lama, salon milik Andi kian berkembang. Kursi yang tadinya tersedia, terpaksa di tambah seiring dengan semakin ramainya langganan. Begitu juga peralatan salon.

Perkembangan pesat ini membuat Andi mulai berhati-hati untuk menjaga klien dan langganan. Ia tidak mau setengah-setengah lagi namun ia masih terikat kontrak dengan Martha. Dua tahun setelah Andi mulai merintis salon, tepatnya tahun 1989, ia minta berhenti kepacia Martha Tilaar dan ingin mandiri dengan mengelola salon sendiri.

Sejak berhenti dari Martha, Andi semakin serius mengembangkan salonnya. Selain itu, ia juga terus menerima murid untuk belajar tata rias rambut. Dalam mengajar, Andi berbeda dengan lembaga pendidikan rambut atau kosmetik lainnya. Ia hanya menerima murid yang sudah tahu dunia salon. “Saya ingin membuat mereka profesional,” kilahnya.

Dalam lembaga pengajaran milik Andi, murid dibatasi paling banyak lima orang. Jumlah ini sangat dibatasi untuk meyakinkan pelajaran benar-benar dapat diterima murid. Biasanya murid yang ikut pendidikan di tempat Andi, telah mengadakan perjanjian sebelumnya. Kebanyakan yang ikut belajar di sini adalah pemilik salon dan ibu-ibu.

Sebagai teman seprofesi dan guru, Andi disukai banyak orang. Ia memang tipe penata rias yang low profile. Dalam membagi ilmu, Andi tidak pernah pelit dan setengah-setengah. Begitu juga di organisasi Tiara Kusuma. Dalam wadah ahli kecantikan Indonesia tersebut, laki-laki yang suka membaca kisah perjalanan hidup orang terkenal ini dipercaya membawahi bidang lembaga.

Itulah Andi yang terus berkiprah di bidangnya. Ia senantiasa belajar dari pengalaman dan memetik hikmah setiap kegagalan. Akan halnya hikmah yang diperoleh di lembaga pendidikan Martha Tilaar, selain pengalaman dan pengetahuan juga seorang istri yang cantik dan kini telah memberinya seorang putra.

Sewaktu mengajar di Puspita Martha, seorang gadis manis berdarah Batak bernama Hermilan Yasmin Simanjuntak telah mencuri hatinya. Hampir setiap hari Andi mengimpikan agar dapat terus mengajar dan bertemu dengan si pencuri hatinya itu. Beruntung, cinta peranakan Cina ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Dua tahun berpacaran, akhirnya mereka memutuskan menikah. Waktu itu Andi masih mengajar di Puspita Martha dan mulai membuka salon di rumahnya. Cukup berat perjuangannya mempersunting si gadis pujaan. Maklum, cukup banyak perbedaan di antara mereka. Kedua orang-tua masing-masing, terutama orang-tua Andi, sangat menentang perkawinan ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Top Tokoh Kecantikan/editor Hambali; [et al]. Jakarta: Ciptawidya Swara, 1992, hlm. 51-57

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di 1992, Ahli Kecantikan, Sosok, Surabaya, Th. 1992 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s