Ismanu Soemiran


ismanu SoemiranIsmanu Soemiran lahir di Tulungagung, 3 Mei 1949. Pendidikan formal yang ditenpuh, SR Jepun (1961), SMPN I Tulungagung (1963) dan SMAN I Tulungagung (1966). Setamat SMA tidak lantas meneruskankuliah, lapimencobamendalamibahasa asing.yang diharpakn bisa menjadi bekal belajar ke luar negeri. Tapi niatnya itu tidak kesampaian.

Saal ini menjabat sebagai Direktur Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, yang didirkan ayahnya, Soemiran. Di samping itu ia juga menjadi Direktur Utama Soetera Bina Samudera, yang mengelola wisata pantai Popoh, Tulungagung.

Menikah dengan Sherly Suherlan dikaruniaitiga puteri dan satu putra. Masing masing bernama Setiyanti Ismaningsih, Ismarlina Dwi Amelia, Ismandriani Tri Irmawidyawati dan Mochamad Anugrah Satriyo Kuncoro.

Bersama keluarga tinggal di Jl. Supriyadi 80 Tulungagung telepon (0355) 21904. Sedang sehari-harinya berkantor di Jl. Mayor Suyadi No. 21 Tulungagung telepon (0355) 23880-2.

 

Lahir sebagai anak laki-laki tertua dari keluargan Soemiran Kaartodiwiryo, pendiri Pabrik Rokok Retjo Pentung. Selanjutnya ia dipercaya bapaknya untuk melanjutkan mekanisme kelangsungan perusahaan tersebut.

Semula bercita-cita sekolah ke luar negeri. Untuk mempersiapkan diri, setamat SMA mengikuti kursus berbagai macam bahasa, misalnya Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa Belanda. Namun setelah mengikuti kursus, kenyataannya menjadi lain, karena orang tuanya ingin agar ia segera meneruskan perusahaan tersebut. Maka urunglah cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ia mengakui, secara psikologis bisa menerima alasan ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua, tentunya memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Dalam soal rokok, ia pertama kali terjun sebagai sales yang biasa menawarkan dari toko ke toko. Waktu satu tahun, dirasa belum cukup pengalaman, kemudian ditam- bah lagi sampai dua tahun. Dengan menjadi sales, ia mengaku memiliki pengalaman pemasaran suatu produk, tidak terkecuali produk rokok. la mengetahui persis keberadaan produk yang dihasilkannya, bisa di- terima masyarakat atau tidak.

“Jangan harap kita bisa bekerja duduk dengan enak,. kalau tidak memiliki penga­laman lapangan. Bagaimana bisa menerapkan manajmen yang pas, kalau pangsa pasar saja tidak mengetahui,” katanya. Un­tuk itulah, agar seseorang ingin suksek berbisnis, menurutnya’ perlu pengalaman la­pangan yang cukup. Dan itu pun memerlukan proses panjang.

Sebagai wiraswastawan, ia mengaku tanpa henti belajar bagaimana mengembangkan perusahaan. Antara pengusaha satu dengan yang lainnya, tentu memiliki perbedaan, meski produknya sama. Tapi setidaknya untuk menjadi usahawan tangguh,  baginya minimal memiliki dasar filsafat 6 S. Kalau dijabarkan, menurutnya resep ini bisa menjadi pemacu keberhasilan.

Enam S yang tidak lain adalah Senyum, Salam, Sapa, Sambung Rasa, Simpatik dan Sovenir ini, sangat efektif sekali. Apalagi sebagai seorang lapangan. Secara gamblang ia menjelaskan, “terhadap seorang calon pembeli, pertama kita harus menunjukkan sifat ramah dengan memperlihatkan senyum. Selanjutnya memberikan salam kepada relasi tersebut. Lalu kita sapa yang akhirnya terjadilah sambung rasa. Setelah itu berkembang dan dari sana akan limbul rasa simpatik sehingga menghasilkan so­venir, alias dagangan laku”.

Setelah menduduki pimpinan di Retjo Pentung, ia segera dihadapkan masalah baru lagi. Tidak hanya soal tawar menawar ketika menjadi sales. Ujian yang kelihatan mencolok adalah tatkala dekade 80 an. Di mana di Indonesia lahir BPPC yang mengurusitata niaga cengkih. Merasaterhambat, karena sulit mendapatkan bahan baku yang berakibat perusahaan kalang kabut. Status dari perusahaan besar, turun menjadi per­usahaan kecil. Dan tak urung 2.000 karyawan terpaksa harus meninggalkan profesinya.

“Sebetulnya saya kasihan terhadap mereka. Tapi bagaimana lagi, itu suatu tindakan sementara yang harus saya lakukan demi kelangsungan perusahaan” kilahnya. Setelah meningkatkan manajemen secara profesional, kehidupan perusahaannya bi­sa kembali seperti semula, dan karyawan yang tadinya ke luar, bisa masuk lagi.

Terhadap tenaga kerja, ia tak mau sembarang mengatur. Obsesinya, karyawan di lingkungannya tak sekedar bisa menikmati standar UMR, tapi bisa meningkat menjadi kebutuhan fisik minimum (KFM). Karena itulah, ia tak pernah membedakan diri de­ngan para karyawan. “Kalau perlu, saya juga belajar dari mereka. Kan tidak ada salahnya. Belajar itu jangan memandang siapa guru kita, tapi apa yang dapat kita terima,” tandasnya.

Sebagaimana ajaran ayahnya dulu, sikap itu terus dipelihara hingga sekarang. Kritik, dianggapnya sebagai nasihat. Dan menurutnya, itu perlu diambil hikmahnya. Barang kali ada benarnya. “Tapi juga tidak sedikit orang mengkritik hanya karena iri Iho,” guraunya.

Yang penting, menurutnya orang hidup ini harus pandai-pandai bersyukur. Rejeki jangan diukur besar dan kecilnya. Tapi sejauh mana bisa membawa kemasla- hatan. (AS-20′)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 54-55 (CB-D13/1996-…)

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pengusaha, Sosok, Th. 1996, Tulungagung dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s