Manik-manik Kaca, Kabupaten Jombang


Manik-manik Kaca Diminati Wisman
Manik-manik Kaca0002SUATU siang beberapa turis turun dari minibus di halaman galeri kerajinan manik kaca milik Nur Wachid, di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Dalam rombongan turis ini ada lima orang dari Austra¬lia, Jepang dan Malaysia. Mereka menginap di hotel berbintang di Surabaya yang sengaja berbelanja di show room manik kaca milik Nur Wachid, salah satu perajin manik- manik kaca di Jombang.
Begitu turun dari kendaraan, mereka langsung ‘menyerbu’ berbagai jenis manik kaca yang dipajang. Nur Wachid sebagai pemilik galeri langsung menyambutnya dan menerangkan kelebihan manik-manik yang dijualnya dengan bahasa Inggris yang fasih. Salah satu rombongan turis adalah Else, dari Australia. Ia terlihat memilih satu persatu dan begitu menikmati manik-manik kaca, “Saya sengaja beli banyak karena har- ganya murali dan banyak pilihan. Sesampai di Australia nanti akan saya jual lagi,” kata Else.
Menurut Nur Wachid, manik-manik hasil produksinya sangat diminati wisatawan asing karena memiliki nilai historis dan nilai seni yang cukup tinggi. Dalam produksinya, manik-manik bikinannya tidak dibuat dengan mesin cetakan seperti produksi pabrik, tetapi benar-benar original dibuat dengan tangan perajin sendiri. Selain itu produksinya adalah manik-manik etnik khas suku-suku dari berbagai belahan dunia termasuk suku-suku pedalaman Indonesia yang kini sudah semakin langka. Antara lain manik-manik yang dibuat Majapahitan, suku Dayak, suku Sabu, Sefron, manik Haye khas Sentani, dan masih banyak lagi.
Manik-manik Kaca0001Membuat manik-manik jenis itu tidak tergolong mudah, karena dibutuhkan keahlian dan ketelat- enan perajin dalam melukis atau memberi corak manik-maniknya dengan menggunakan bara api. Harga manik-manik bervariasi, mulai dari Rpl5 ribu sampai Rpl80 ribu bahkan lebih setiap bijinya. Pada hari biasa, Nur Wachid mengaku pesanan manik-manik etniknya seperti gelang, kalung dan aksesoris lainnya, hanya berkisar antara 8-10 ribu biji perbulan. Namun ketika digelar Miss World digelar di Bali tahun lalu, jumlah pesanan yang datang me- ningkat hingga 13 ribu biji.
Digelarnya ajang Miss World di Indonesia memberi berkah tersendiri baginya. Selama ajang Miss World berlangsung, pesanan kerajinan man¬ik-manik meningkat, karena manik- manik buatan perajin asal Jombang sangat diminati wisatawan asing di Bali sebab bermotif etnik yang kini sudah semakin langka. Selain memiliki galeri di Jombang, Nur Wachid juga memiliki sejumlah galeri di Bali, sehingga ia merasakan langsung manfaat digelarnya ajang Miss World di pulau Dewata tersebut. Sebab selain mempromosikan potensi wisata yang ada, ajang Miss World juga membuat buah karya seni para perajin manik- manik etnik tradisional seperti dirinya semakin dikenal luas masyarakat mancanegara. (mimik suryathy/ wurita andaningsih)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah SAREKDA Jawa Timur/edisi 021/2014 halaman 41

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Sentra, Th. 2014 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s