TAS Pelepah Palem


Pelepah Palem ‘Disulap’ Jadi Tas Cantik

Banyak material alam yang tumbuh di sekeliling kita kurang dimanfaatkan banyak orang, padahal jika diolah dengan baik, benda yang awalnya dinilai tak berguna atau limbah, bisa jadi benda bernilai tinggi.

Tas Pelepah Palm0001
PELEPAH palem, salah satunya, di kota besar seperti Surabaya banyak tumbuh khususnya di taman kota, perumahan mewah dan jalan-jalan protokol. Seperti kebanyakan pohon pohon kelapa yang telah tua, palem menggugurkan pelepahnya sehingga menggangu keindahan kota. Kondisi ini ternyata menggugah seorang mahasiswa jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (Ubaya) untuk memanfaatkan sisa tanaman palem untuk dikelolah menjadi produk yang bermanfaat dan bisa dipakai semua kalangan.
“Saya lihat di depan rumah saya, dan dibeberapa ruas jalan, banyak pelepah pohon palem yang tergeletak dan dibuang di tempat sampah atau dibakar, saya berfikir mungkinkan limbah ini dikelolah,” kata Maureen Florencia Dharmawan di Gedung International Village Kampus II Ubaya Tenggilis Surabaya, Selasa (12/8). Karena penasaran, Florencia lantas mengambil beberapa sample pelepah palem yang ada di sekitar rumahnya untuk diteliti tekstur, keunikan, dan kekuatannya. Florencia pun mencari referensi tentang po¬hon palem. Setelah diamati diketahui tanaman yang mirip pohon kelapa ini, mempunyai kualitas pelepah yang bisa dimanfaatkan, karena memiliki tekstur garis-garis vertikal yang unik. “Warna cokelat alaminya juga bagus,” katanya.
Mulailah mahasiswa asli Surabaya itu mencoba membuat benda yang sesuai dengan karakteristik pelepah palem. Tas dipilih menjadi benda pertama yang dibuat, karena dianggap mudah dan banyak manfaatnya. “Untuk awal, saya memilih membuat tas, karena banyak manfaatnya, bisa digunakan untuk kuliah, jalan-jalan, atau pergi ke acara resmi seperti pesta perkawinan dan ulang tahun,” tutur mahasiswi berkacamata ini di hadapan sejumlah awak media.

Tas Pelepah Palm0002

Jenis Palem
Untuk membuat tas cantik ini, Florencia membutuhkan tiga jenis pohon yakni palem raja atau Palem Sadeng yang banyak ditanam berasal dari Kuba, yakni Roystone regia, R.buringuena, dan R.elata. Palem ini juga dikenal dengan nama royal palm. Ciri tanaman ini bentuk batangnya kokoh, dengan tinggi mencapai 25 meter lebih. Biasanya ditanam sebagai penghias pinggir jalan.
Selanjutnya palem putri, palem yang ini mirip palem raja ini sering dijumpai di pinggir jalan. Perbedaan antara palem raja, dan palem putri terletak pada warna daunnya lebih hijau dan lebih lebar. Palem ini didatangkan dari Madagaskar.
Terakhir yakni palem ekor tupai termasuk salah satu jenis palem endemik,yaitu di daerah pantai timur laut Queensland. Habitatnya terutama di daerah hutan yang lebat dengan curah hujan yang cukup. Di tempat asalnya, orang menamakannya “black palm” (palem hitam). Di Indonesia para pencita tumbuhan lebih mengenalnya sebagai palem ekor tupai.
“Ketiganya saya manfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat tas-tas ini saya membuat eksperimen dengan merendamnya dengan cuka atau memasaknya” ujar alumni SMA Kr Petra 5 ini bersemangat.
Proses Membuat Tas
Bahan pendukung selain pelepah palem agar menjadi sebuah tas yang unik antara lain karton, kain, lem epoksi, dan kulit. Bahan-bahan pendukung ini didesain sedemikian rupa hingga saling menya tu membentuk tas yang berkesan natural, eksotis, edgy dan bertekstur garis-garis keras sebagaimana karakter. “Saya tidak perlu banyak me- ngubah, karena karakter pelepahnya sudah sangat kuat,” ujarnya Florencia.
Cukup lama Florencia bereksperimen hingga akhirnya didapat cara untuk membuat pelepah palem raja lebih putih dia merendamnya dalam pemutih pakaian selama sehari. Sementara untuk membuat pelepah palem putri lebih gelap dia rendam dengan natrium hidrok- sida (NaOH).
Sementara warna alami dari palem ekor tupai dinilai sudah cukup bagus sehingga tidak perlu diberi tambahan pewarna. Setelah mendapat tiga warna pelepah, Maureen melanjutkannya dengan mem¬buat motif tas menggunakan kertas karton 2 mm. Dia terinspirasi dari Art Deco untuk membuat desain berunsur geometri.
Ada tiga jenis tas yang dibuat, yakni Clutch yang diberi nama Clurcy bag dengan desain rantai sebagai handle nya, Lalu tas tablet yang diberi nama tabby dengan desain lebih besat dan terdapat tempat menyimpan tab maksimal 8 inci. Terakhir, tas jinjing bernama Lola bag dengan desain paling besar dan bergaya serut sebagai pembuka bagian dalamnya.
“Satu tas ini saya buat sekitar dua minggu,”kata bungsu dari dua bersaudara ini menjelaskan.
Dari beragam proses yang dialami, paling lama saat eksperimen warna pelepah palem serta menyusunnya dalam pola yang sudah dibuatnya. “Pelepahnya kalau kering agak menyusut, jadi potongan-potongannya tidak pas dengan pola, nanti akan jelek,”ungkapnya.
Ia optimis karyanya ini bisa diterima pasar lcarena masih baru, eksotik dan natural Hanya saja, dia masih perlu menyempurnakan dengan mencoba mencari desain lain yang terkesan lebih santai Banyak yang meminta tasnya tidak terlalu kaku. Jadi, saat ini saya sedang mencari bahan-bahan yang lebih elastis dan bisa ditempeli pelepah palem “katanya. (hjr) A
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 38-39

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Surabaya dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s