Pondok Pesantren Putri Al-Farros, Tebuireng


Gus Irvan; Ponpes Putri  Al-farrosPondok Pesantren Putri ini bernama Al-Farros. Nama tersebut berasal dari bahasa Arab yang artinya banyak cakap atau cerdas. Sesuai dengan namanya, maka pesantren ini memiliki harapan bisa mencerdaskan akhlak serta pengetahuan kepada para santri-santrinya.
Sejak didirikannya pada tahun 2006 pesantren ini diasuh oleh H. Agus Irvan Yusuf, M.Si (Gus Irvan). Beliau adalah putra keempat almarhum KH. M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng periode 1965-2006. Dalam memimpin pondok, Gus Irvan senantiasa dibantu oleh sang istri, Hj. Indira Laila. Nama Pesantren Al-Farros juga diambil dari salah satu putra beliau yang bernama Barbarosa Muhammad Farros.
Sebagai pesantren muda, Al-Farros beberpa kali mengalami pengembangan. Pada tiga tahun pertama (2006-2009), Al-Farros hanya menerima santri putra. Santri yang
terdaftar mencapai 30 orang dari berbagai kota. Setelah banyak yang lulus, hanya ada beberapa santri putra saja yang tinggal di sana.
Hingga akhirnya, Pesantren Al-Farros resmi merubah dari pondok putra menjadi pondok putri. Pada tahun pelajaran 2009-2010 terdapat 21 santriwati. Tahun 2010-2011 jumlah seluruhnya mencapai 41 santriwati yang seluruhnya menempuh pendidikan di unit-unit pendidikan Pesantren Tebuireng (MTs, SMP, SMA dan MA).
Aktifitas Pesantren Al-Farros tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang ada di Pesantren Tebuireng. Dalam sistem pendidikan, Al-Farros juga mendirikan MAD IN (Madrasah Diniyah), yang fokus mempelajari ilmu agama, mulai ilmu alat (nahwu shorof), tauhid, ta’lim muta’allim, pego dan lain-lain. MADIN ini berlangsung setelah shalat jama’ah Maghrib pukul 18.30 hingga 19.30 WIB. Sebelum proses belajar- mengajar berlangsung, terlebih dahulu mereka mengikuti kegiatan bahasa Arab berdurasi 15 menit.
Belajar malam dimulai setelah para santri selesai shalat dan makan malam. Ini diwajibkan dengan tujuan melatih kedisiplinan dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidur malam tidak diperkenankan melebihi jam 22.00 wib. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar mereka bisa istirahat cukup dan bisa bangun subuh lebih awal. Di tengah malam mereka juga dianjurkan melaksanakan shalat tahajjud sebagaimana yang telah diajalankan oleh para nabi dan ulama untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Setelah berjama’ah subuh, mereka bergegas menuju kelas masing- masing untuk mengikuti pengajaran Al-Qur’an. Bagi yang belum mampu
membaca Al-Qur’an harus mengikuti program Tilawaty yang merupakan jembatan menuju tingkat Al-Qur’an. Pengajian ba’da subuh ini berakhir pukul 06.30 pagi lalu dilanjutkan persiapan berangkat sekolah. Selama kurang lebih 9 jam mereka belajar di sekolah masing- masing yang masih berada di bawah naungan Yayasan Hasim Asy’ari. Di sana mereka mendapatkan berbagai macam pengetahuan umum maupun agama serta organisasi.
Sepulang dari sekolah, mereka diwajibkan langsung menuju pondok. Tidak diperkenankan bermain atau mengunjungi tempat-tempat lainnya. Setelah melepas lelah, mereka bergegas melaksanakan shalat ashar secara berjama’ah kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bahasa Arab pukul 17.15.
Karena padatnya kegiatan santriwati baik di sekolah maupun pondok, maka didatangkan pula tukang cuci atau “laundry” dari luar. Semua santri mencucikan bajunya di sana. Sekalipun demikian ketika libur hari Jum’at, mereka tetap diajarkan mencuci agar bisa mandiri.
Di Pesantren Al-Farros terdapat beberapa ruangan. Di lantai pertama adalah musholla, ruangan pembina dan asrama “Shofiyah” yang ditempati 15 santriwati. Di lantai dua terdapat kamar “Aisyah” dengan jumlah 16 santriwati dan kamar “Khodijah” berkapasitas 12 santriwati. Ketiga kamar tersebut memiliki fasilitas yang sama, yaitu kamar mandi dan tempat tidur. Begitu pula, setiap santriwati mendapatkan fasililitas berupa dipan (kasur plus bantal) serta almari. Agar suasana kamar menjadi sejuk dan nyaman maka dilengkapai pula dengan satu buah kipas angin.
Untuk melatih kemandirian, dibentuklah pengurus kamar yang memiliki wewenang mengatur keadaan kamar masing-masing, termasuk kebersihan, aturan, sanksi, dst. Selain pengurus kamar, juga dibentuk pengurus pondok yang keseluruhan dari santriwati senior. Sedangkan pembina yang membimibing mereka setiap harinya adalah para ustadzah yang merupakan mahasiswa senior di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Untuk kebutuhan pokok yang lain seperti makan dan minum sudah disediakan pondok. Sesekali mereka diajarkan memasak pada hari Jum’at. Pada hari itulah mereka diberi kebebasan memilih menu sendiri sekaligus mempersiapkan makan siang dan sore.
Selain kegiatan muhadhoroh sebagai kegiatan wajib, bagi mereka yang memiliki bakat ataupun keinginan belajar qiro’ah dan banjari, bisa disalurkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Yang paling utama dari semua jenis kegiatan tersebut adalah shalat berjamaah lima waktu. Bagi santriwati Pesantren Al-Farros, shalat berjamaah tidak boleh ditinggalkan. Dari shalat berjamaah itulah banyak manfa’at yang telah dirasakan: menambah kebersamaan, kedisiplinan, berakhlaqul kariamah kepada Allah SWT dan sesama manusia.()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profil Pesantren Tebuireng: Pustaka Tebuireng; 2011, halaman 230-233

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Pendidikan, Th. 2011 dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s