K. ABDOELLAH ISKANDAR, Lamongan


Lamongan0005K. ABDOELLAHISKANDAR Kiai pejuang sebagai politisi unggul dari PNU pembina kepanduan.
K.Abdoellah Iskandar berprofesi sebagai guru agama dan pendidik yang cakap, tercatat sebagai pejuang empat lima lalu terjun ke dunia politik sejak usia muda baik di tingkat Kabupaten Lamongan maupun di Provinsi Jawa Timur. Pemuda ini pintar berpidato dan berceramah serta termasuk orang yang setia dalam tugas pengabdian dan hidup sederhana.
Nama kecil beliau adalah Abdoellah putera dari seorang santri – pedagang dari Pambon – Brondong bernama Iskandar, setelah besar nama ayah dirangkum menjadi Abdoellah Iskandar yang berwajah ganteng. Beliau adalah anak ke-6 dari 8 saudara yang dilahirkan di Pambon tahun 1919, nama saudara- saudaranya ialah:
1. Kiswati ( keluarga Machinu, Bulu – Sekaran )
2. K.H. Achmad Zaini ( Guru Madrasah Sawahan )
3. Chunaimah
4. Chanah ( di Pambon )
5. H. Masroer ( di Pambon )
6. K. Abdoellah Iskandar ( di Lamongan )
7. Animah ( di Lamongan)
8. Insijah ( di Lamongan)
Pada masa muda Abdoellah Iskandar digembleng di Ponpes Langitan bersama K.H.Achmad Zaini yang masih termasuk
kerabat pondok pesantren ini. K. Abdoellah Iskandar meninggal pada 16-09-1991 karena usia lanjut 72 tahun dan dimakamkan di kuburan sebelah barat kampung Pagerwojo Lamongan.
Pendidikan Kiai ini ialah SR VI tahun, Tsanawiyah Pondok, Madrasah Aliyah Pondok Langitan serta berijazah Pondok. Dalam perjalanan hidupnya beliau menikah dua kali yaitu pertama menikahi gadis Lamongan bernama Rochimah lalu bercerai tidak mempunyai anak. Setelah itu menikahi gadis Gresik bernama Ma’soemah dikaruniai 6 putera sebagai berikut:
1. Izzatul Lailah ( artinya kemuliaan malam )
2. Drs. Mohammad Djunaedi ( artinya tentara kecil terbaik )
3. Drs. Azam Kamal, SH (artinya keinginan yang sempurna)
4. Nailun Nusra (artinya Sungai Nil yang memberi pertolongan)
5. Ir. Agus Sihabudin ( artinya obor agama yang baik )
6. Dra. Wiwik Mujasaroh ( artinya yang dimudahkan ) Pesan K. Abdoellah Iskandar kepada anak-anaknya sebelum beliau wafat ada 3 hal yaitu :
a) Jangan sampai bermusuhan (geger) dengan saudara atau kawan akibat masalah harta-benda, sebab harta-benda mudah dicari namun persaudaraan dan kekerabatan bila putus sulit dan lama untuk menyambung kembali
b) Bergaullah di semua lapisan masyarakat.
c) Jangan sampai hidup ini menggantungkan diri pada orang lain.
Pada masa pendudukan Jepang pemuda Abdoellah Iskandar aktif dalam kepanduan Hisbul Waton dan kepanduan Ansor. Jiwa kepanduan ini dibawa sebagai bekal perjuangan ikut mempertahankan Republik Indonesia dengan bentuk memimpin sebuah kompi Hisbullah berpangkat Kapten. Anak buahnya yang gugur dan mengawali dimakamkan di Taman Bahagia Lamongan adalah Letnan Muda Choiroel Hoeda, anak buahnya yang lain yaitu Letnan Muda Choesnan Marzoeki, Letnan Muda Maksoem Irfan, Letnan Gufron (G. D wipayana pencipta boneka Unyil), Sersan Achmad Djaelani.
Perjuangan K. Abdoellah Iskandar bersama anak buah berada di front Benjeng, Metatu, Balongpanggang dan bertahan di Mantup, Beliau memperoleh berbagai tanda penghargaan dan tidak mengurus tunjangan veteran seperti beberapa temannya bahwa berjuang mengusir orang kafir Belanda adalah jihadu fisibilillah sebagai rasa cinta kepada bangsa dan negara (khubbul waton). Sepulang dari perang dan selamat adalah nikmat anugerah Allah yang patut disyukuri yang penting Indonesia tetap merdeka.
Jabatan K. Abdoellah Iskandar dalam kemasyarakatan tercatat sebagai berikut:
1. Dewan Pertimbangan Ponpes Langitan (1970-1991)
2. Ketua Takmir Masjid Jamik Lamongan (1980-1985)
3. Nadzir Waqfiyah Sawahan Lamongan (1982-1991)
4. Dewan Penasehat Bazis Lamongan (1990-1991)
5. Ketua Tanfidiyah dan Rois, Suriah NU di Lamongan (1960-1991)
6. Ketua Dewan Pertimbangan PPP Lamongan (1977-1987)
7. Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1960-1966)
8. Anggota DPRDS Kabupaten Lamongan 1951-1956-1960)
9. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (1977-1982)
10. Kepala PGANU Lamongan (1982-1987)
Jika sedang berkhutbah Jumat di Masjid Jamik Lamongan (kini Masjid Agung Lamongan) K.Abdoellah Iskandar selalu mengajak kebaikan dan persatuan serta peningkatan kualitas hidup dan beragama hal ini dilakukan dengan suara keras, lantang, menantang kemungkaran, tegas, berisi muatan kehidupan masa depan. Beliau mengajar mengaji kitab kuning di rumahnya kampung Mojo, Demangan, Kauman, Sawahan, Karangasem dan terakhir di Perumnas Made, juga aktif mengajar di PGANU dan Madrasah Mualimin NU Lamongan.
Penulis sangat akrab dengan K. Abdoellah Iskandar yang merupakan Guru tercinta, dan juga telah lama bersama sebagai guru PGANU sejak tahun 1968, Penulis juga sebagai Sekretaris beliau di Yayasan Wattarbiyah Sunan Giri Sawahan Lamongan sejak tahun 1982 sampai wafatnya beliau dan sampai saat ini.
Selama bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar ini Penulis banyak menimba ilmu dan dapat memberikan penilaian serta kenangan di bawah ini, bahwa beliau memiliki sifat:
a. Jiwa kejuangan yang tinggi dan tanpa pamrih.
b. Bila berjanji bertemu dan mengadakan rapat selalu tepat waktu.
e. Selalu menjaga kesehatan, berkaca mata minus.
d. Berpakaian rapi perlente, bersongkok dalam acara resmi, dan sering bersarung jika bergaul dalam dunia santri.
e. Gemar bela diri silat dan gemar makanan enak bergizi.
f. Arif, sederhana, tidak materialis, sehingga memiliki rumah pribadi baru tahun 1985 di Perumnas Made.
g. Jujur dan betul-betul memperhatikan dunia pendidikan.
h. Bicara harian pelan, ramah, tegas, namun jika berkhutbah lantang.
i. Berjuang di jalan politik dalam PNU dan PPP
j. Mendapat julukan dari orang NU ” Dua Serangkai Politikus ” terdiri K. Abdoellah Iskandar Dan KH. Sjoekran. k. Mendapat julukan dari orang Lamongan ” Trio Santri Unggul ” terdiri K. Abdoellah Iskandar, R.H. Moeljadi, H. Ali Affandy yang ketiganya adalah jebolan Ponpes Langitan.
1. K. Abdoellah Iskandar berwajah ganteng simpatik, tidak pernah berbuat yang tercela dalam hidup dan perjuangannya.
m. Dalam tahun 1980-1990 K. Abdoellah Iskandar bersama KH. Asjikin Ghozali menjadi rujukan orang-orang NU Lamongan
K. Abdoellah Iskandar bekeija sebagai Pegawai Negeri Sipil di KUADepartemen Agama Kab. Lamongan sejak tahun 1950 dan pensiun pada tahun 197.6.
Keahlian yang mendalam K. Abdoellah Iskandar ialah bidang Tarikh Islam, Feqih, Syariah,. Dalam hal ubudiyah dan fatwa hukum Islam beliau sangat berhati-hati. Salah satu keistimewaan beliau adalah sebagai pendidik lapangan (tipe luar) jarang istiqomah mengajar di rumah kecuali isterinya yang istiqomah mengajar mengaji di rumah.
Sebuah perbuatan yang baik selalu dilakukan beliau yaitu senang bersilaturahmi dengan naik sepeda pancal ke rumah kawan, murid dan keluarganya, beliau tidak pernah mempertentangkan masalah khilafiyah namun selalu menunjukkan kebenaran Islam dalam faham Ahlussunnah waljamaah yang sesuai A1 Qur’an dan A1 Hadits.
Beliau sangat sedih jika melihat ada sebuah Madrasah NU dan Madrasah Muhammadiyah yang bubar tidak ada muridnya.Kepada Penulis beliau berpesan agar benar-benar mendalami A1 Qur’an dan Sunnah Rasul jika ingin menjadi orang pintar yang beriman.
Pada tahun 1990 setahun sebelum wafat K.Abdoellah Iskandar memberikan argumentasi kepada Penulis sehubungan adanya upaya agar beliau aktif di Golongan Karya, kata beliau:
Hei! Chambali, anda salah satu santriku yang menjadi abdi negara, abdi pemerintah, berbuatlah kejujuran dimana kau berada! Anda tahu Saya aktif di PPP bersama Kiai Abdul Aziz Choiri karena untuk menjaga keseimbangan pembangunan bangsa lewat jalur Ulama. Jadi tidak semua Ulama harus di Golongan Karya, biarkan ulama di PPP, di PDI, di Golkar, yang penting pengabdiannya. Bila Anda sebagai pegawai negeri terpaksa ” di- Golkarkan” maka jadilah orang baik , jadi kader yang tangguh dan bertaqwa pada Allah Swt!”
Pada tahun 1965 dan 1966 K.Abdoellah Iskandar menjadi figur orang NU yang disegani dan dikenal orang sebagai pelopor pembasmian PKI di Kabupaten Lamongan bersama KH.Moch. Mastoer Asnawi yang memberi fatwa dibantu KH. Sjoekran,
beserta tokoh lain yang mendapat dukungan ABRI saat itu dan para eksponen 66 di Lamongan.
Ada beberapa komentar dari beberapa orang kalangan NU tentang pribadi K. Abdoellah Iskandar yaitu :
1. H. M. Maksoem Abdoerrachman
Selama saya bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar selaku senior Saya, maka melihat adanya sifat kesederhanaan, tegas dan moderat.
2. KH. M. Ghufron Sholichin
Selama Saya berkawan dengan Dia, sampai sama-sama di MUI dapat melihat K. Abdoellah Iskandar pandai membina kader santri dan tentara, beliau berpesan menjadi Ulama itu harus hati-hati, menjaga diri dan harga diri yang tetap menjadi panutan. Kepada pemuda beliau mengharap agar banyak belajar yang konferehensif.
3. KH. Suudi Karim
Selaku senior Saya, K. Abdoellah Iskandar termasuk tipe orang ikhlas, apabila ada permintaan yang bisa dibantu maka dengan segera beliau memberikan sesuai kemampuan.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Enam Figur Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1951-2004),  halaman 13-20

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Pejabat Negara, Sosok, Th. 2003, Tokoh Agama dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s