MASJID AULIYA’ SETONO GEDONG, Kota Kediri


Jl. Dhoho, Setono Gedong, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur

masjid-setono-gedong-nPada serangan tentara Islam Demak ketiga tahun 1524  atas Daha (Kadhiri) yang dipimpin langsung Djakfar al-Shodiq (Sunan Kudus), berhasil merebut Ibukota Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Sunan Kudus adalah anak Rahmatullah (Sunan Ngudung) yang telah memimpin serangan pertama dan ke dua, beliau gugur pada serangan ke dua. Sunan Kudus membangun sebuah “Monumen Peringatan” untuk mengenang jasa-jasa ayahnya yang gugur dalam serangan kedua. Monumen tersebut bukan makam dari Rahmatullah (Sunan Ngudung), karena menurut Hikayat Hasanudin dimakamkan di dekat Masjid Demak. Yang kubur di Setono Gedong adalah sesuatu yang melambangkannya, seperti aksesoris yang selalu dikenakan olehnya. Lebih tepatnya monumen itu dijadikan lambang kemenangan tentara Islam Demak atas Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Monumen peringatan tersebut berupa sebuah inskripsi tertulis menggunakan huruf arab yang terpahat pada Makam Syeh Wasil Syamsudin, isinya adalah:

”Ini makam Imam yang sempurna, seorang alim mulia, dan syekh yang saleh, yang menghafal Kitab Allah yang Maha Tinggi, yang paling menyempurnakan Syariat Nabi Allah-semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepadanya-Al Syafi’i Mazhabnya, Al-Abarkuhi(?)…….Al-Baharajni(?) nisbahnya. Dialah Mahkota(?) (Pelita?) putusan(para Hakim)(?), dan Matahari…………….Sembilan ratus(?)dua puluh(?)…….hijrah nabi…….” [(?)……., tanda tidak terbaca].

Terjemahan inskripsi makam Syeh Wasil Syamsudin adalah petunjuk tentang masuknya Islam di wilayah Kediri melalui seorang tokoh yang digambarkan seperti matahari. Pembacaan angka tahun pada isi inskripsi kurang jelas, maka untuk menentukannya dengan patokan antara 920-929 Hijriah. Apabila dijadikan masehi menjadi 1514 – 1523 M. Jadi itulah yang dapat digunakan sebagai patokan penentuan tahun diresmikannya inskripsi pada makam Syeh Wasil Syamsudin tersebut.

Pada perkembangan Islam di Kediri, hal-hal berkaitan dengan Agama Hindu maupun Budha semuanya dihancurkan karena dianggap musyrik yang akan membawa dampak pada kekafiran. Pengrusakan candi pada Situs Setono Gedong beserta isinya karena adanya faktor politik dari ekspansi Kerajaan Demak ke Ibukota Majapahit yang berada di Kediri pada dua puluh tahun pertama abad XVI.

Pengrusakan pada situs Setono Gedong terjadi lagi pada tahun 1815 M. [laporan perjalanan Thomas Staford Raffles di Nusantara/dibukukan th. 1817 berjudul ”History of Java.” , pada hlm. 380 menyebut Informasi tentang Setono Gedong yang berisi:

(“Disekitar Ibukota Kediri kaya akan benda-benda kuno dalam berbagai bentuk, tetapi yang ditemukan di sana masih dalam keadan yang baik daripada yang ditemukan di tempat lain, dengan biaya yang besar dan tenaga yang dikerahkan untuk membongkar bangunan dan untuk memotong patung yang ada di sana. Pada semua bagian situs di bangunan utama itu dapat saya temukan fragmen-fragmen yang tertutup pahatan relief, recha-recha yang rusak dan umumnya dipahat di atas batu yang dipotong membujur, dikerjakan saat membangun candi-candi, di samping bagian dasar yang sangat luas dari batu bata kemudian dinding bangunannya. Lebih jauh saya menduga dari keteraturan dan keelaganan bahan-bahan yang digunakan bahwa bahan dan bangunan yang dibangun hampir di seluruh bangunan ini di bongkar oleh penganut Mohamet pada periode perkembangan ajaran tersebut. Candi ini disebut Astana Gedong, tetapi tidak ada penduduk yang memberikan informasi saat pembangunan bangunan ini, seperti hanya asal ajaran Mohamet, saya hanya mempunyai sedikit pandangan mengenai hal itu untuk menghindari ketidaksesuaian gerakan dengan penduduk setempat yang ditunjukkan sebagai pendekata dari ketaatan mereka, dan hal ini merupakan keadaan yang sangat sesuai bagi orang penjajah yang bebas untuk bergerak tanpa adanya gangguan. Semua benda-benda kuno ini tidak diragukan lagi berasal pada periode sebelum munculnya agama Mohamet, atau dari apa yang oleh penduduk setempat disebut sebagai wong kuno, kapir atau buda.”)]

Dari sumber Raffles tersebut, disimpulkan adanya pengerusakan kedua ditahun 1815, dua puluh tahun pertama abad XVI setelah ekspansi Demak. Raffles menyebut bangunan situs Setono Gedong adalah candi, karena terdapat bagian yang luas terbuat dari batu bata, terdapat dinding bangunan, terdapat fragmen-fragmen relief, terdapat  arca-arca yang rusak dan dipahatkan pada potongan batu membujur.

Pada ekspansi Demak pengerusakan pada situs Setono Gedong tidak begitu parah, hanya menimbun ke dalam tanah artefak-artefak masa Hindu-Budha tersebut. Namun pengerusakan pada tahun 1815 jauh lebih parah, karena Raffles menyebutkan adanya pengerahan biaya dan tenaga yang besar untuk menghancurkan situs Astana (Setono) Gedong oleh Penganut Mohamet (sebutan penganut ajaran Nabi Muhammad yaitu Umat Islam).

Selanjutnya pada tahun 1897 M, di halaman situs Setono Gedong telah dijadikan tempat ibadah oleh penduduk setempat yang beragama Islam, dengan hanya beralaskan tanah. Masjid inilah oleh penduduk setempat disebut Masjid Tiban. Namun nama “Tiban” sekarang menunjuk pada sumur tua di sebelah utara situs. Pada tahun 1967 M barulah dibangun masjid di depannya atau di sebelah timurnya dengan nama Masjid Auliya’ Setono Gedong. Pada saat itu juga baru disertifikatkan tanah negara tersebut sebagai bangunan masjid hingga sekarang.

Perkembangan Islam sangat lambat penyebabnya karena masih kuatnya pengaruh dari Kerajaan Hindu-Budha yang antara lain, masa Wangsa Isyana(Mpu Sindok), masa Airlangga, Jenggala dan Kadhiri pada kurun waktu abad XI-awal abad XIII Masehi, serta dilanjutkan masaSinghasari dan Majapahit pada abad XIII-XV Masehi. Pada saat keruntuhan Majapahit inilah mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang salah satunya adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa dan didirikan oleh keturunan Majapahit yang bernama Raden Patah.

Ciri-ciri umum bentuk bangunan masjid pada masa peralihan agama Islam masih banyak terpengaruh gaya budaya Hindu-Budha dengan adanya: Arsitektur masjid menunjukkan gaya dari masa Hindu-Budha. Seperti penggunaan atap tumpang pada bangunan Masjid Jawa; Ragam hias pada dinding masjid, seperti relief bersayap yang melambangkan kelepasan, pintu masjid yang berbentuk paduraksa atau bentar dengan ukiran-ukiran bunga teratai yang dalam Agama Hindu maupun Budha sebagai lambang surgawi. Bunga matahari sebagai lambang penerangan dan ketangguhan, dan pola hias tanaman menjalar sebagai ornamen tambahan; Seni hias kaligrafi Islam, yaitu tulisan-tulisan dengan memakai arab yang ditulis pada dinding masjid maupun makam yang menunjukkan gaya seni.

Arsitektur Masjid Setono Gedong,

Gaya Masjid Setono Gedong dilihat dari luar tampak mirip dengan bangunan Klenteng (kuil cina), karena atapnya berbentuk seperti pagoda dan pintu masuknya seperti pintu masuk Kuil Cina.  Pembangunan masjid tidak hanya menggunakan arsitektur  tipe Jawa saja, melainkan berbentuk perpaduan budaya dari bangsa Tionghoa dan masyarakat Setono Gedong. bentuk bangunan utama, yaitu bangunan masjid berarsitektur cina dan bangunan pendopo beratap tumpang tingkat tiga dan dipuncaknya terdapat mustaka yang merupakan ciri khas bangunan jawa, sekarang berada di belakang Masjid Setono Gedong.

Areal Masjid terbagi manjadi tiga bagian semakin ke belakang semakin suci, hal itu merupakan hasil akulturasi dari pembuatan candi yang mengandung makna kaki, lereng, dan puncak gunung, karena umat Hindu Jawa dalam membuat seni bangun berlandaskan pada bentuk Gunung.  Begitu pula dengan Masjid Setono Gedong yang juga memiliki tiga pembagian,  bangunan pertama adalah masjid Induk, kedua adalah pendopo yang dibangun di atas reruntuhan Candi. Bangunan akhir adalah Makam Syeh Wasil Syamsudin. Baik hiasan masjid maupun makam memiliki fungsi ganda, sebagai fungsi teknis juga sebagai fungsi dekoratif. Sebagai fungsi teknis, hiasan pada masjid atau makam berkaitan dengan kegunaan praktis atau sebagai teknis bangunan. Sedangkan fungsi dekoratif, pada dinding masjid atau makam digunakan untuk memperindah bangunan. Selain itu juga untuk menyimpan pesan dan sebagai media untuk memenuhi tujuan religi-magis. Misalnya ukir-ukiran teratai, daun-daunan, dan lain-lain.

Pintu gerbang menuju Masjid Setono Gedong dibuat pada tahun 2002 dengan gaya kombinasi antara seni tradional dan modern. Gaya tradisional tampak pada hiasan yang memakai motif daun-daunan berjumlah tiga serta atasnya ditambah dengan modif bunga matahari pada masing-masing bagian sisi kanan dan kiri gapura. Pada bagian atas gapura terdapat arca Garudeya (Garuda) membawa sebuah kendi, dan di atas bagian belakang kepalanya juga di tambah relief berupa kepala rajawali. Gapura luar ini mengadopsi sebagian dari ukir-ukiran maupun relief kuno yang terdapat pada masjid-makam Syeh Wasil Syamsudin.

Garuda (Garudeya) memiliki arti pengorbanan, kendi disamakan guci amertha yang dimaknai sebagai lambang kesucian. Kesimpulan lambang Garuda(Garudeya) adalah sifat dari Syeh Wasil Syamsudin yang dalam mitosnya beliau penuh pengorbanan dan semangat dalam menyebarkan Agama Islam yang dianggap suci oleh penganutnya. Bentuk bunga matahari pada bagian sisi depan gapura meambangkan penerangan dan ketangguhan. Hal ini didukung dari arti kata ”Syamsudin” pada nama Penyebar Islam pertama di Kediri tersebut, yang berasal dari kata “Syam” dalam bahasa arab berarti matahari.

Pintu gerbang masjid yang disebut gapura, disamakan dengan kata “ghafur” artinya yang memberi ampun sekaligus juga bermakna pertobatan, permohonan ampun. Hal ini dimaknai bahwa Gapura masjid sebagai pintu untuk menuju ketempat pertobatan bagi setiap manusia yang telah menyadari akan dosa-dosanya. Karena Allah SWT dalam salah satu nama-nama sucinya (Asma’ul Husnah) disebutkan sebagai Al-Ghaffar yang berarti Maha Pengampun.

Pintu masuk area masjid memiliki bentuk dan gaya modern, unsur tradisionalnya,  pada bagian atas pintu dibuat cekung di tengah menyerupai bentuk batu nisan makam kaum perempuan. Serambi masjid setono gedong cukup luas, tiang-tiang penyangganya masing-masing dihiasi tulisan lafal “Allah” di bagian ujungnya. Di tembok serambi atau di atas pintu masuk ruang utama masjid terdapat ukiran-ukiran menggunakan huruf arab yang membentang dari selatan hingga utara serambi, tulisan arab berupa aya-ayat suci Al-Qur’an ukiran didinding serambi masjid terebut tidak hanya dibuat sebagai hiasan saja tetapi juga dipercaya dapat mengusir roh jahat yang mengganggu manusia untuk beribadah.

Dua kentongan terdapat dipojok timur laut serambi, satu berposisi vertikal berlandaskan kayu menyilang dan satu kentongan lagi digantung berjajar dengan bedug, pada kentongan terdapat ukiran tanggal dibuatnya yaitu 17 April 1986.

History of Java; th. 1817

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri [Kota], Lokasi, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s