Masjid Agung Bangil


masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kabupaten, Lokasi, Pasuruan, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s