Masjid Cheng Hoo, Surabaya (3)


Apa Dan Bagaimana Masjid Cheng Hoo

Atas gagasan dari HMY Bambang Sujanto dan teman-teman PITI, Pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, diawali dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya dan tokoh masyarakat Jawa Timur.

Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini dilhami dari bentuk Masjid Niujie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Kemudian pengembangan Desain arsitekturnya dilakukan oleh Ir. Aziz Johan ( Anggota PITI dari Bojonegoro) dan didukung oleh Tim teknis : HS. Willy Pangestu, Dony Assalim, S.H., Ir Toni Hartono Subagyojr. Rachmat Kurnia dari jajaran pengurus PITI Jatim dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Untuk pertama pembangunan ini diperlukan dana sebesar Rp. 500.000.000,- yang diperoleh jerih payah teman-teman dengan menerbitkan buku “Saudara Baru / Juz Amma” dalam tiga bahasa. Dan sisanya adalah gotong royong dari sumbangan-sumbangan masyarakat hingga terselesainya pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Tahap pertama diselesaikan tanggal 13 Oktober 2002 dengan selesainya tahap pertama ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sudah dapat digunakan untuk beribadah dan selanjutnya tinggal melakukan beberapa penyempurnaan bangunan Masjid. Oleh seluruh anggota Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan PITI disepakati tanggal tersebut sebagai hari ulang tahun yayasan dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Pada tanggal 28 Mei 2003, bertepatan dengan hari ulang tahun Pembina Imam Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ke 42, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia i diresmikan oleh Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al I Munawar, MA. Selain itu acara peresmian ini dihadiri juga oleh Atase i Kebudayaan Kedutaan Besar RRC di Indonesia yaitu Mao Ji Cong, i VICE konsultan kedutaan besar USA di Indonesia yaitu Craig L. Hall, i GubernurJatim-H. Imam Utomo, S.,Anggota Muspida Jawa Timur, Ketua

NU Jawa Timur – Dr. H. Alimaschan Moesa.Msi., Ketua Muhammadiyah Jawa Timur kala itu Prof. Dr. H. Fasichul Lisan, Apt. Juga oleh mantan Gubernur Jawa Timur yaitu H. R.T. Moch. Noer dan H.M. Basofi Sudirman yang bertindak sebagai penasehat dan pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Acara ini dimeriahkan pula oleh semua Toko-tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat di Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11×9 meter pada sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Setiap bagian bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini memiliki arti tersendiri, Misalnya ukuran bangunan utama. Panjang 11 meter pada bangunan utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini menandakan bahwa Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter sedangkan lebar 9 meter pada banguna utama ini diambil dari keberadaan Wali Songo dalam melaksanakan syiar Islam di tanah Jawa. Arsitekturnya yang menyerupai model Klenteng itu adalah gagasan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama budha. Selain itu pada bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (Pat Kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut fat yang berarti jaya dan keberuntungan.

Dalam risalah, pada saat Rasulullah Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau dikejar-kejar oleh kaum kafir quraish dan bersembunyi di dalam gua Tsur. Pada saat hendak memasuki gua tersebut. Terdapat rumah laba-laba yang bentuknya segi 8, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak tumah laba-laba tersebut. Beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum kafir quraish.

Dengan bantuan Allah SWT, Rasulullah dapat memasuki gua Tsur tanpa harus merusak tumah laba-laba tersebut. Saat situasi aman, beliau keluar dari gua Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah guna menyampaikan wahyu yang diberikan Allah SWT kepada umat muslim di Madinah. Saat berada di gua Tsur pada waktu perjalanan hijrah tersebut, Allah memberikan perlindungan (keberuntungan) untuk dapat melalui rumah laba-laba itu dengan damai tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.

Pada bagian depan bangunan utama terdapat ruangan yang dipergunakan oleh Imam untuk memimpin sholat dan khotbah yang sengaja dibentuk seperti pintu gereja, ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Pada sisi kanan Masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.

Orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun yang lalu, terdapat seorang Laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo dan beliau telah turut mensyi’arkan agama Islam ditanah Indonesia pada jaman itu. Beliau adalah utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai utusan atau Duta Perdamaian. Guna mempererat hubungan dengan kerajaan Majapahit diberikanlah Putri Campa untuk di persunting oleh Raja Majapahit. Keturunan putri Campa pertama adalah Raden Patah, kenudian Sunan Ampel dan Sunan Giri (termasuk 9 Sunan atau Wali Songo) yang kemudian melakukan syi’ar agama Islam di Tengah Jawa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri dikenal sebagai Masjid pertama di Indonesia yang mempergunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan yang bernuansa etnik dan antik ini cukup menonjol dibanding bentuk Masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning menambah khazanah kebudayaan di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya fasilitas yang memadai yang dapatdipergunakan oleh jamaah Masjid  Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan masyarakat pada umumnya seperti:
– TK (Taman Kanak-kanak)
-Lapangan olah raga
– Kantor
-Kelas kursus bahasa Mandarin -Kantin

Diharapkan segala fasilitas yang disediakan demi kenyamanan beribadah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini benar- benar bermanfaat mempererat tali silaturahmi sesama umat dan meningkatkan hubungan baik umat dengan Allah SWT. Sekarang ini Masjid Muhammad Cheng Hoo, juga merupakan objek Wisata di Surabaya hampir tiap hari ada wisatawan yang berkunjung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil: Wahyu DP Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Komunitas, Edisi Khusus, No. 40-April 2008.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kota, Lokasi, Surabaya, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s