MASJID MUJAHIDIN SURABAYA


Masjid Mujahidin Surabaya

Masjid Mujahidin berlokasi di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275 di daerah kawasan pelabuhan berada di Surabaya utara. Letaknya berada di tengah kawasan pemukiman dan daerah penunjang kegiatan pelabuhan. Keberadaan masjid ini seakan ditengah jalan sebab sekeliling masjid merupakan jalan, sebe­lah Timur jalan dua jalur Tan­jung Perak Timur dan Tanjung Perak Barat, samping Selatan dan Barat terdapat jalan masuk ke wilayah pemukiman dan sebelah Selatan berdampingan dengan Jalan Teluk Aru yang menuju ke daerah pemukiman. Jalan masuk utama terdapat di Jalan Perak Barat dan samping Utara.

Kawasan sekitar masjid  kini padat dengan bangunan, namun tetap teratur untuk memenuhi kebutuh­an penghawaan, penerangan alami dan penghijauan agar tetap tercukupi. Di samping kompleks masjid diseberang jalan masih terdapat areal untuk keperluan pendidikan keagamaan dan pemondokan. Halaman depan terdapat taman serta perluasan salat dan sebagian untuk tempat parkir. Hala­man belakang tidak ada namun terdapat dua halaman pada sisi kiri-kanan bangunan induk. Pengaturan ini agar masjid tetap mendapat prioritas utama sedangkan fasilitas pendidikan dan kemasyarakatan diletakkan pada bagian samping dan lantai kedua.

Sejarah Pembangunan Masjid.

Untuk menampung kegiatan peribadatan masyarakat, kawasan pelabuhan Tanjung Perak dan pangkalan Angkatan Laut Rl diperlukan adanya masjid jamik. Tersebutlah, H. Sabran Gazali ketua Panitia Pendiri Masjid Jamik Tanjung Perak Su­rabaya, pada tanggal 25 Agustus 1955 telah mendapat izin dari Direktur Pelabuh­an Surabaya untuk mendirikan kompleks masjid ja­mik itu pada sebidang tanah seluas kurang lebih 5022 m2 di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275.  Akhirnya panitia berhasil membangun masjid yang diidamkannya, atap liwan berbentuk piramida dari genteng dengan kubah besar di atasnya, serta 2 buah kubah kecil pada kedua sudut depan.

Disamping kegiatan peribadatan masjid ini juga mengelola lembaga pendidikan yang semakin hari tumbuh dengan pesat, baik yang bersifat keagamaan maupun pendidikan umum. Maka untuk itu diperlukan sarana dan prasarana yang layak sebagai penunjang tercapainya tujuan pendidikan yang baik, maka diperlukan tambahan bangunan yang baru. Pada tahun 1979/1980 mendapatkan sumbangan dana dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar US. $ 100.000-.

Pembangunan perluasan masjid ini dikelola sendiri oleh Yayasan dan tidak diborongkan kepada pihak lain. H. Djakfar Yasman, seorang purnawirawan TNI AL sebagai pimpinan yayasan, mengelola dana tersebut dengan tertib, jujur dan berwibawa, dengan sistem menejemen terbuka. Dibantu dengan dua tenaga dari Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang menangani bidang arsitektur dan bidang teknik sipil, Ir. Zein dan Ir. Udman Hnf. Selanjutnya mulailah pembangunan perluasan masjid ini. Diawali dari serambi depan yang terbuat dari konstruksi beton dibongkar dan dibuatlah bangunan berlantai dua bagaian bawah sebagai serambi masjid dan kantor serta pengelola masjid, adapun lantai atas digunakan untuk keperluan pendidikan dan pertemuan. Upaya perluasanpun tidak berhenti setapak demi setapak berjalan terus sesuai dengan laju perkembangan dana yang terkumpul. Maka dibangun lagi bagian utara untuk kegiatan pendidikan ba­ngunan dua lantai empat local, tempat wudu dibongkar dan dipindahkan di sebelah Selatan halaman depan.

Kegiatan dalam kompleks masjid jamik ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan, pendidikan umum, kesehatan, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak yayasan dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak.

Ketua Yayasan Masjid Mujahidin dibantu langsung oleh sekretaris, pembukuan, keuangan dan urusan material. Ketua membawahi unit-unit usaha yakni:

  • pendi­dikan meliputi, TK, SD, SMP, SMA, MTs, MA, PGA dan Pesantren,
  • BPH masjid memiliki Seksi Ibadah dan Seksi Ceramah,
  • Radio PTDI,
  • Badan Dakwah memiliki Seksi Perpustakaan, Seksi Majalah dan Seksi Wanita,
  • Unit Pramuka dan Kepemudaan mempunyai Seksi Bela Diri dan Gugus Depan Pramuka,
  • Poliklinik meliputi Pengobatan, BKIA. dan pengurus jenazah/ambulan.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti PHBI, Panitia Zakat Fitrah dan sebagainya. Pendidikan non formal juga dilaksanakan seperti kuliah subuh, kuliah bakdal isyak, ceramah radio, dan kursus bahasa Arab. Demikian kegiatan periba­datan, kemasyarakatan dan sosial untuk dewasa dan orang tua, pembinaan dan pendidikan bagi anak dan remaja, semua mendapatkan tempat yang luas, tercermin sudah fungsi masjid jamik ini sebagai pusat peribadatan sekaligus merupakan pusat kebudayaan. Namun pemugaran- pemugaran untuk perluasan sarana pendidikan atau sebagai pusat kebudayaan tetap mempertimbangkan kondisi semula bahwa fungsi masjid sebagai pusat peribadatan tidak terganggu, bahkan pengurus mengkondisikan dengan suasana yang saling menunjang. Dari jauh kompleks masjid ini ditandai dengan kubah besar yang menjulang tinggi sedangkan setelah sampai ke pintu gerbang atau halaman ditandai de­ngan bangunan serambi bertingkat yang tertib dan representatif.

Ruang – ruang yang terdapat di dalam kompleks Masjid terdiri:

Pada lantai bawah terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan pria,
  2. Mimbar dan Mihrab,
  3. Ruang mekanik/monitoring (mezanine),
  4. Liwan wanita,
  5. Serambi,
  6. Ruang Guru,
  7. Ruang Keamanan Masjid,
  8. Kantor Badan Kerjasama Masjid Jawa Timur,
  9. Tata Usaha,
  10. Ruang Ketua Yayasan,
  11. Ruang Kepala SMP,
  12. Show room/Ruang kursus,
  13. Kamar mandi/WC,
  14. Tempat wudu pria,
  15. Tempat wudu wanita,
  16. Taman kanak-kanak/Pra karya,
  17. Kantin,
  18. Ruang Stasiun Radio PTDI,
  19. Ruang Kepala SD,
  20. Ruang kelas SD,
  21. Ruang kelas SMP,
  22. Garasi ambulance,
  23. Poliklinik – BKIA,
  24. Pemondokan pegawai masjid,
  25. Ruang Kepramukaan dan Pemuda,
  26. Telepon umum,
  27. Ruang mekanikal,
  28. Tempat sepeda murid.

Pada lantai dua terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Kelas-kelas untuk SMA
  2. Kelas-kelas untuk SMP
  3. Ruang Tata Usaha SMA
  4. Ruang Kepala SMA
  5. Koridor
  6. Ruang pertemuan Besar/guna ganda
  7. Ruang Osis
  8. Laboratorium Kimia
  9. Bak penampung air atas
  10. Ruang Pengawas.

Penerangan ruang sistem alami kecuali ruang mekanik memanfaatkan ruang bawah tangga yang tak berjendela. Penerangan malam hari, dalam ruangan menggunakan lampu TL untuk bagian luar lampu pijar/baret, aliran udara tak sampai ke dalam ruangan Liwan meskipun ketiga dindingnya terbuka, sehinga dipasang kipas angin beberapa buah pada langit-langit ruang liwan dan mihrab, ruang serambi dan kantor ventilasi cukup memadai. Sistem akustik memakai satu loudspeaker tunggal yang besar diletakkan di pojok depan sebelah Selatan ruang liwan, sehingga semua anggota jamaah dapat mendengarkan.

Lantai masjid tegel teraso ruang liwan ditutup dengan karpet warna hijau, semua tempat wudu hygienis dengan kran mancur dan dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm. Tempat wudu pria dibuat relatif terbuka sedemikian sehingga mendorong secara psychologis agar para anggota jamaah yang bersuci untuk selalu mematuhi norma-norma kebersihan, tempat wudu wanita disediakan ruang wudu tersendiri yang lebih terlindung memegang norma kebersihan dan kesopanan. Kamar mandi dan WC tersedia di bagian de­pan dan samping Utara, dinding dilapisi porselin lantai dari mosaic tile dengan peralatan sanitasi modern.

Kesatuan ruang ibadat cukup terbina hampir dari setiap bagian ruang dapat melihat kearah mihrab dan mimbar, karena liwan dan serambi relatif terbuka dibatasi jendela dan pintu kaca dengan kosen alumunium. Antara liwan wanita dan liwan pria dibatasi oleh jendela dan pintu kaca yang tembus pandang. Koridor atas juga dilengkapi dengan jendela penghubung pandang ke li­wan pria/mihrab sehingga menyatukan kekompakan ruang.

Ruang-ruang kelas di samping atas Selatan yang digunakan untuk perluasan ibadah salat tarawih saat bulan Ramadhan, juga dibuat jendela penghubung pandang ke ruang liwan pria dan  dilengkapi pula de­ngan pengeras suara.

Ruang liwan, mihrab dan mimbar meniadakan ragam hias, warna dinding dan langit-langit didominasi warna putih. Warna lantai/karpet hijau dengan baris saf salat strip kuning kecoklatan.

Masjid ini cenderung sederhana, mimbar untuk berkhotbah dari papan kayu seperti layaknya mimbar untuk berpidato.

Kekhusyukan di dalam ruang liwan cukup terjaga, selain ruang-ruang pendidikan terpisah di luar atau di lantai atas, pada saat salat jamaah semua kegiatan dihentikan dan semua siswa dan guru bersama-sama mengerjakan ibadat.

Untuk memnampakan sebagai ba­ngunan masjid, maka tampak depan masjid jamik ini dibuat bentuk-bentuk lengkung yang sekaligus merupakan kerangka pemegang penyaring sinar matahari/sun screen. Jadi hiasan ini pun bersifat fungsional, bukan sekedar keperluan estetika semata.

————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986          CB-D13/1986-6[1]

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kota, Lokasi, Surabaya, Th. 2016, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s