Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung


Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kabupaten, Lokasi, Tulungagung, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s