KH. Abdurrahman Syamsuri (1925 – 1997) Lamongan


Abdurrahman Syamsuri atau yang sering dipanggil Mbah Yai Man merupakan ulama kharsimatik sekaligus pendiri pondok pesantren Muhahammadiyah Karangasem. Beliau lahir pada tanggal 1 Oktober 1925 dari pasangan Kiai Syamsuri dan Nyai Walidjah. Kiai Syamsuri sehai-hari berprofesi sebagia petani, penggergaji kayu, dan sesekali menggergaji kapur sedangkan Ibu Nyai Walidjah sebagai pedagang kecil di pasar Payaman

Abdurrahman Syamsuri merupakan anak tertua dari enam bersaudara; Nyai Aminah, Nyai Musri’ah, KH. Abdurrahman Syamsuri, KH. Muhammad Yasin, KH. Umar Faruq. KH. Abdurrahman Syamsuri sejak kecil digembleng oleh kakeknya yaitu Kiai Idris yang terkenal sebagai pendakwah untuk memerangi kemusryikan.

Selain mendapatkan pendidikan langsung dari kakek dan ayahnya tentang Al Qur’an dan dasar-dasar agama Islam, KH. Abdurrahman Syamsuri bersekolah formal di Madrasah Islam Paciran pada tahun 1935. Setelah menamatkan pendidikan dasar Beliau melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Kranji dibawah asuhan KH. Mustofa Abdul Karim sampai tahun 1938. Pencarian ilmunya berlanjut lagi ke  KH. Mohammad Amin Musthofa pengasuh Pondok Pesantren Tunggul Paciran. Di pondok ini, KH. Abdurrahman Syamsuri mempelajari nahwu, sharaf, tafsir, musthahalul Hadits, fiqih, dan aqidah. Beliau mondok di Pondok Pesantren Tunggul dari tahun 1938 hingga 1940. Setelah itu beliau melanjutkan lagi mondok di KH. Abdul Fatah Tulungagung (1944-1945), kemudian nyantri di KH. Hasyim Asyari Tebuireng Jombang selama setahun dan dilanjutkan nyantri lagi di KH. Ma’ruf Kedung Lo Kediri pada tahun 1946.

Setelah enam tahun  mengembara menuntut ilmu, KH. Abdurrahman Syamsuri diminta  Kiai Amin untuk membantu mengajar di Pondok Pesantren Tunggul Paciran. Selain itu beliau juga meneruskan dakwah kakeknya dengan mengajar di mushola peninggalan Kiai Idris dan mushola tersbeut yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Karangasem Paciran.

Selain mengajar ilmu agama, KH. Abdurrahman Syamsuri juga terkenal dalam perlawanan menghadapi penjajah. Beliau bersama sang Guru Kiai Amin  pernah tergabung dalam Laskar Hizbullah dan terlibat pertempuran menghadapi pasukan Brigade 49 Divisi 23 yang dibawah komando Brigardir Jenderal AWS Mallaby di sekitaran daerah Gresik, Surabaya, dan Cerme.

Sebagai murid kepercayaan Kiai Amin, KH. Abdurrahman Syamsuri juga diambil menantu oleh Kiai Amin dengan dijodohkan dengan putri beliau yang bernama Rahimah. Namun, pernikahan Nyai Rahimah dan KH. Abdurrahman Syamsuri tidak berlangsung lama karena Nyai Rahimah masih ingin melanjutkan mondok di Kranji dan KH. Abdurrahman Syamsuri ingin melanjutkan perjuangan menuntut ilmu seluas-luasnya.

Abdurrahman Syamsuri merasa cukup melanjutkan pendidikan di Pondok Tunggul, beliau melanjutkan mencari ilmu di Mangunsari Tulungagung pada tahun 1954. Beliau nyantri pada Kh. Abdul Fatah. Diceritakan setiap sebelum subuh, di pondok Mangunsari, ada seorang santri yang selalu mengisi bak mandi rumah Kiai Fattah dan tempat wudhu. Semula Kiai Fattah tidak mengetahui siapa yang melakukan amal baik seperti itu, hingga akhirnya Kiai Fattah mendapati seorang santri yang sedang mengisi bak mandinya di kegelapan malam. Santri itu tidak lain adalah KH. Abdurrahman Syamsuri. Kemudian Kiai Fattah berdo’a agar Kiai Abdurrahman mendapatkan sarung setiap tahun. Kiai Fattah tahu bahwa ada santrinya yang hanya memiliki selembar sarung ketika mondok di Tulungagung. Setiap kali sarung tersebut kotor, beliau mencucinya dan menunggu kering sambil berendam di sungai. Begitu kering, beliau segera mentas, keluar dan mengenakan kembali sarung tersebut.

Pendirian Al Ma’had Al Islamy Pondok Pesantren Karangasem
            Setelah menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren dan mengusai berbagai bidang ilmu keagmaan beliau menulis kitab At-tashrif yang menjelaskan deriviasi kata-kata dalam bahasa Arab. Selain mengusai berbagai disiplin ilmu KH. Abdurrahman Syamsuri juga terkenal hafal tiga puluh juzz dengan bacaannya tartil, fasih, dan mengusai ulumul qur’an beserta tafsirnya.

Pada tahun 1939 Kakek dari KH. Abdurrahman Syamsuri meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji dan pengelolaan langgar dhuwur dilanjutkan oleh Kiai Syamsyuri. Saat itu KH. Abdurrahman Syamsuri masih menuntut ilmu di Kedung Lo Bandar Kidul Kediri. Pada tahun 1944 KH. Abdurrahman Syamsuri diminta pulang oleh ayahnya dan diserahi tugas mengelola langgar dhuwur. KH. Abdurrahman Syamsuri mengembangkan pusat kajian tidak hanya sebatas pusat belaat anak membaca Al Qur’an, melainkan juga mengkaji tafsir Jalalain, Kitab Riyadhus Shalihin, Kitab Nahwu Alfiyah, dll. Karena sifat KH. Abdurrahman Syamsuri yang sederhana, mudah bergaul, tidak menampik permohonan kajian, serta terbuka bagi siapapun mengakibatkan banyak santri dari berbagai daerah datang untuk belajar ke KH. Abdurrahman Syamsuri.

Pada tanggal 18 Oktober 1948 KH. Abdurrahman Syamsuri meminjam tanah ke Pak Hadir yang ditumbuhi asam untuk dibangun sebuah asrama atau gota’an yang dinamai al-Hijrah. Saat itu ditandai sebagai tonggak sejarah pondok yang dinamai Al-Mahad Al-Islamy Pondok Pesantren Karangasem Paciran. Nama Karangasem berasal dari sebuah pohon asem di pekarangan pondok yang digunakan untuk adzan diatas pohon. Akhirnya KH. Abdurrahman Syamsuri menyebut pondok yang baru didirikan dengan nama “Karangasem”. Halaman yang luas yang merupakan gambaran keteguhan kiai dam masyarakat untuk memperjuangkan agama Islam diibaratkan karang di tepi pantai dan adanya pohon asem di halaman pondok menjadikannya sebab nama Karangasem.

Pengembangan Kualitas
Pondok Pesantren Karangasem Paciran yang masih dibawah nauangan Perserikatan Muhammadiyah beusaha mengembangan usaha dan kegiatan dakwahnya. Ponpes Karangasem memiliki dua usaha unit dakwah, pertama TK Bustanul Atfal, MIM, MTsM 01, MAM 02 dibawah naungan KH Ridwan Syarqowi. Sedangkan unit kedua TK ABA, MIM, SLTPM14, MTsM 02, SMUM 06, MAM 01, Perguruan Tinggi dibawah naungan KH. Abdurrahman Syamsuri. Pondok pesantren Karangasem merupakan salah satu pondok pesantren terbesar yang dimiliki oleh Muhammadiyah.

Abdurrahman Syamsuri selain terkenal sebagai ulama, juga mempunyai keinginan untuk membantu sesama. Hal ini terbukti dengan pendirian RS PKU Muhammadiyah serta panti asuhan anak yatim. KH. Abdurrahman Syamsuri juga terkenal sangat menyayangi para santri-santrinya.

Berpulangnya Sang Kiai Abdurrahman Syamsuri
Tahun 1997 merupakan tahun berduka bagi Pondok Karangasem berduka. Sang Sang Kiai Abdurrahman Syamsuri tidak lagi bisa berjuang menyiarkan Islam. Beliau meninggal pada hari kamis tanggal 27 Maret 1997, pada pukul 01.00 di rumah sakit Darmo Surabaya yang dikarenakan sakit yang Beliau derita. Sekitar pukul 12.30, keluarga, santri, alumni, dan ribuan orang mengantar jenazah KH. Abdurrahman ke tempat peristirahatan terakhir di makam umum Sluwuk desa Paciran. #/WahyuDP

Sisarikan dari Sumber : Faris Ma’ani. Sekokoh Karang, Seteduh Pohon Asem. 2012. Lamongan: Karangasem Media.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda, Lamongan, Th. 2012, Tokoh, Ulama dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s