Emha Ainun Nadjib: Nurani Bangsa, Pelayan Massa


Siapa yang tak kenal Emha Ainun Nadjib? Hampir semua warga bangsa ini tua muda pasti kenal, setidaknya mengenal namanya. Apalagi bagi kita orang Jombang, pasti merasa sangat dekat dengan tokoh yang satu ini.

Ucapan-ucapannya sering mengagetkan. Ia menyentil siapa pun, dari segala kelompok maupun aliran. Dalam wawancara dengan Surabaya Post, edisi Minggu, 20 Oktober 2006, misalnya, ia mengkritik ibu-ibu yang tidak mau menyusui anaknya. “Bedes ae nyusuhi anake (kera saja menyusui anaknya, Ed), masak manusia tidak?” kata Cak Nun, sapaan akrabnya. “Anak malah diberi susu kaleng yang tidak jelas buatan siapa. Dan saya beruntung lahir dari seorang yang mau menyusui 15 anaknya (Jumlah saudara sekandung Emha).”

Ia juga prihatin terhadap beragam acara yang tidak mendidik, salah satunya adalah Pemilihan Dai Cilik (Pildacil). “Acara Saya tidak akan Saya perbolehkan mengikuti kegiatan semacam itu. Masak anak kecil member wejangan pada orang yang lebih dewasa. Tahu apa anak itu tentang kehidupan, tentang halal hararn? Wong belum pemah makan asin manisnya kehidupan kok sok memberitahu orang yang lebih tua,” katanya.

Namun apa sebenamya predikat pada diri Emha, jawabannya sangat beragam, budayawan, humoris, penyair, artis, penyanyi hingga kiai lazim dilekatkan pada dirinya. Menurut KH Mustofa Bisri (Gus Mus), banyak orang merasa mengenal Cak Nun, tapi seberapa banyak yang benar-benar mengenal? Santri tanpa sarong, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah. Kata Gus Mus, Cak Nun agaknya memang diselubungi Tuhan. Bagi Indonesia. Emha adalah nurani bangsa.

Emha memang sosok yang eksistensinya tak bisa dikotak-kotak oleh kategori yang dibuat manusia. Dan memang, tak akan mendapat pemahaman yang mendalam .kalau melihat predikat yang melekat diri Cak Nun. Ia adalah sosok yang luar biasa. Dalam dirinya melekat dan mewujudkan nilai-nilai yang luhur dan tinggi. Ketika ia sudah sangat tenar, namanya menjadi bintang dalam berbagai seminar, tampil bersama para doktor bahkan professor pun, ia tak pedulikan hal itu. Ketika manggung bersama artis ingusan, ia dihonor Rp 500 ribu sedang si artis Rp 5 juta, toh Emha tetap sabar dan tak mempersoalkan.

Ia sering merasakan lapar yang luar biasa karena tak mendapat kesempatan makan meski dirinya harus mendatangi seminar dan pengajian-pengajian yang dibadiri massa. Meski perutnya protes, Cak Nun tak memprotes panitia, Ia tetap jalani kegiatan dengan kesungguhan hati.

Ketika orang lain mendapat pencerahan akal budinya atau terhibur oleh humor-humomya yang cerdas, ia sering berada dalam keadaan lapar perut. Ia adalah tipe orang yang benar-benar “berpuasa”. Ketika ia kesulitan keuangan dan bertemu dengan orang yang juga sedang dalam kesulitan, Cak Nun rela melepas ego pribadinya untuk: menolong orang tersebut.

Ketidakadilan, penindasan menjadi kata kunci sasaran tembak Emha baik aktivitasnya di jagad kesenian, kebudayaan maupun di kancah sosial politik yang bersentuhan dengan masyarakat banyak. Karya-karyanya dalam berbagai media buku-buku serta lakon-lakon dalam pementasannya, sangat jelas menunjukkan keberpihakannya pada rakyat kecil, mereka yang tertindas dan mereka yang dipinggirkan.

Setiap hari Emha didatangi masyarakat yang membawanya kasus-kasus yang berbagai ragam, dari putus cinta,  perceraian, keluarga sakit, penggusuran tanah, perkelabian hingga meramal nasib.

Emha bertemu, mendatangi dan bahkan berbicarn sangat akrab dengan para pelacur, pencuri, preman, pengamen jalanan, tukang becak dan semua masyarakat kecil. Orang-orang ini pun merasa punya teman dan semua masyarakat kecil. Orang-orang ini pun merasa punya teman dan tempat untuk mengadu dengan aman sekaligus mendapatkan jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.

Pertemuan-pertemuan tersebut menjadi makin bermakna membekas ke dalam hati sanubari karena Emha selalu mengajak mereka untuk istigfar (memohon ampun pada Gusti Allah). Emha juga mengajak mereka untuk berdoa menjalani kehidupan. Bahasanya sederhana dan langsung menyentuh. Misalnya saja, ketika kondisi ekonomi warga sedang kacau, pikiran sedang sumpek dan bingung, Emha menyidirkan jalan yang sangat tegas. “Empun, gak usah mikir sing macem-macem, sing penting bojo waras, sampeyan budal turu weteng wareg, besok tangi kerja maneh, Golek duit kanggo nguripi keluarga”, katanya dalam berbagai kesernpatan.

Cak Nun juga bukan orang yang mengagung-agungkan kehebatan dirinya. la tetap rendah hati. Meski begitu orang mengagumi kecerdasan Cak Nun yang tak mengenyam sekalipun, termasuk para professor yang tak habis pikir atas kedalaman dan ketajaman analisisnya terhadap sebuah persoalan. Hingga kini orang bertanya, buku apa yang dibaca Cak Nun dan kapan ia pelajari buku-buku tersebut.

Emha memang pernah tercatat scbagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Y ogyakarta namun hanya setengah semester, karena tak manarik baginya. Menurut Dosen UGM, Ashadi Sinegar, Ainun berhenti kuliah boleh dibilang anugerah atau keberuntungan sebab setelah itu ia mengalami liberalisasi oleh alam. Dengan itu ia mengalami metamorfosa dari suatu kehidupan, menuju suatu institusi yang signifikan di tengah kehidupan, mampu mengatasi sekat-sekat yang membelenggu manusia, berapa gelintirkah manusia yang dapat hadir sebagai suatu institusi yaitu sumber dari bilal bagi manusia yang mengenal atau bersentuhan dengannya?

Masih kata Ashadi, kebanyakan manusia tidak berani hadir dalam individualitas manusia bebas dengan kualitas semacam ini sebab merasa lebih aman berada di tempurung yang bemama komunalisme baik dalam lingkup agama, ideologi, textbook, atau ikatan-ikatan yang membelenggu lainnya. Maka apa yang dialami Emha adalah merupakan anugerah bagi manusia dengan bakat yang sangat otentik. Dengan anugerah itulah Emha, kata Ashadi. diselamatkan dari “dosa-dosa” dunia sekolah. Sebagai suatu institusi, Emha jauh lebih berarti dibanding ribuan bahkan pelaksanaan lulusan dunia sekolah.

 

Pelayan

Ada yang menyebut, laki-laki kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Kegiatan Cak Nun lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayanan ingin diarahkan untuk menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Ia rata-rata 1 -15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara misal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang bulang, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralism sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu sebagai manajemen keberagamaan itu.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang dianggap sudah terpopulasi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas; dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan halnya secara vertikal, tapi horizontal, ujarya.

Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis.

Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, almarhum MA Latifin, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo malawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat, sebelum akhirnya masuk Fakultas Ekonomi UGM meskipun tidak tamat.

Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha berikutnya.

Kariernya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pimpinan Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Diantaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980). International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festifal Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festifal Horizontall di Berlin Barat, Jerman (1985).

 

Karya Seni Teater

Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggar bamboo, aktif di Teater Dinasti dan menghasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama diantaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989), tentang pemerintahan ‘Raja’ (Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Link Park (1980, tentang eksploritasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-santri Khidbir (1990), di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun Madiun). Lautan Jilbab (1990), dipentaskan secara missal di Yogya, Surabaya dan Makasar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). Juga mementaskan Perahu Retak (1992), tentang Indonesia Orde yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kajeng, Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam puisi: “M” frustasi (1976); Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisir (1989); Lautan ]ilbab (1989); Seribu Masjid Satu ]umlahnya (1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Asmaul Husna (1994).

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot bertutur lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola-Bola Kultural ( 1996); Budayakan Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tahapan Berpuasa (1996); Demokrasi Totol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997); Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 jam Sama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); lkrar Husnul Khatimah (1999); ]ogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman“‘ (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi’ (200f); “Tahajjud Cinta ” (2001 ); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun”‘ (2003); Forklore Madura (2005); Puasa ya Kafir Liberal (2006); dan, ]alan sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006). ‘

 Cak Nun bersama Grup Musik Kiai kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kaut dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul disekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdegnar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, «Shalatullah salamullah/ ‘Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullahl ‘Ala yaasin Habibillah/ ‘Ala Y aasin Habibillah… ..

Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. “Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya bershalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid. Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu, 14 Oktober 2006 malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran. Perihal pluralism, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralism?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang dada intervensi dari negara luar,” ujar Emha.

 

Dinukil dari: Djoko Pitono. Profil Tokoh Kabupaten Jombang. Jombang : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang, 2010. (Halaman 103-109)

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda, Jombang, Seniman, Th. 2010, Tokoh dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s